Fake Princess

Fake Princess
Chapter DC


“Ta-tapi,” tukasku sedikit gelagapan dengan kembali menatap kelopak bunga kecil yang ada di tanganku.


“Apa kau penasaran? Dari mana aku mengetahuinya?”


Aku menganggukkan kepala ketika Haruki kembali membuka kedua matanya menatapku, “apa kau ingat dengan apa yang aku katakan di Ardenis?” Kepalaki lagi-lagi mengangguk pelan menjawab perkataannya.


“Aku sudah curiga sejak itu, lalu saat aku mendapatkan kabar jika dia menghilang … Aku segera ingat, dengan festival yang sering kali dilakukan untuk memperingati hari kelahiran Raja. Selama di sini, aku berusaha memastikan semuanya, tentu dengan menggunakan semua informasi yang aku dapatkan dari Fabian.”


“Aku melihat dan mendengar semua pembicaraan kalian di hutan. Aku tidak memyalahkanmu, Sa-chan … Aku justru, berterima kasih karena kau membuat semuanya jadi semakin jelas-”


“Apa yang kalian bicarakan?”


Lirikan mataku beralih ke arah Izumi yang memotong perkataan Haruki, “kau tidak mengetahui apa yang kami bicarakan, nii-chan?”


“Hutan? Hutan yang mana yang kalian maksudkan?”


“Bukankah, kau bersama Haru-nii saat kita berusaha untuk mengikutinya tempo dulu?”


“Aku tidak menemukannya saat itu. Kami memang bertemu, tapi kami bertemu di depan penginapan, dia dan juga Fabian,” jawab Izumi sambil menunjuk ke arah Haruki, “jadi, apa yang kalian bicarakan?” sambungnya dengan menatap kami bergantian.


“Aku akan menjelaskannya nanti, Izumi,” timpal Haruki yang membuat lirikan Izumi beralih kepadanya.


“Aku menitipkan kelopak bunga itu kepadamu, berikan kepadanya … Agar dia dapat menentukan sendiri pilihan yang ingin ia lakukan. Aku, tidak akan pernah memaksanya,” tukas Haruki, dia membuang pandangannya saat kepalaku terangkat menatapnya.


“Aku, akan menyimpannya baik-baik untuk nanti diserahkan kepadanya,” ungkapku, kepalaku menunduk dengan sebelah tangan merogoh ke dalam tas yang aku bawa.


Aku mengeluarkan sehelai kain kecil yang ada di dalam tas, meletakkan kelopak bunga tadi di atas kain tersebut sebelum kembali menyimpannya ke dalam tas. “Sepertinya kita sudah sampai, kalian mengerti apa yang harus dilakukan, bukan?” Aku menganggukkan kepala, diikuti Izumi dan juga Eneas yang melakukan hal sama.


Haruki beranjak turun, saat pintu kereta itu terbuka dari luar, disusul Eneas, lalu aku dan juga Izumi. Kami berdiri, bergeming menatapi seorang pasangan paruh baya mengenakan mahkota dengan seorang laki-laki di samping perempuan paruh baya tersebut. “Benison Joselito, Raja dari Kerajaan Robson. Apa kau benar, Pangeran Takaoka Haruki?”


Haruki melangkah sedikit maju sebelum akhirnya dia menundukkan pandangannya, “itu benar, Pangeran Takaoka Haruki dari Kerajaan Sora, memberikan hormat kepadamu, Ayah,” ucap Haruki dengan tetap menundukkan pandangannya.


“Angkat kepalamu!”


Haruki melakukan apa yang Raja itu perintahkan, “aku, tidak pernah mendengar lagi kabar dari Putriku Luana sejak dia pergi berkunjung ke Kekaisaran.”


“Maafkan atas semua sikap lancangku, Ayah Mertua. Tapi semenjak bertemu dengannya di Kekaisaran, aku jatuh cinta dengannya. Karena aku, merasa berat untuk berpisah dengannya … Aku, mengancamnya untuk pergi bersamaku.”


“Lancang sekali! Dia masih memiliki keluarga-”


“Keluarga yang mengirim dia sendirian untuk pergi ke Kekaisaran, sedangkan masih ada saudari kembarnya dan juga adiknya yang berusia satu tahun di bawahnya, seperti itu, kah?” Kedua mata Raja itu membelalak saat Haruki mengucapkannya.


“Aku, tidak akan mempermasalahkan hal tersebut sekarang, karena dia sudah tenang setelah melahirkan anak kami. Aku datang, hanya karena ingin menjalin kerja sama antar Kerajaan. Aku, tidak datang ke sini untuk menjalin hubungan keluarga, Raja Benison Joselito,” sambung Haruki membalas tatapannya.


“Aku tidak tahu, jika Kerajaan Robson sangat buruk dalam menyambut tamu … Entah apa, yang akan Ayah kami lakukan atas semua penghinaan ini. Setidaknya, berikan kami ruangan dengan kursi yang nyaman, untuk kita membicarakan semua ini,” tukas Haruki kembali, mataku tak berkedip menatap Raja tersebut yang menatapi Haruki dengan wajahnya yang merah padam.


________________.


Aku duduk, di salah satu kursi yang diisi penuh dengan banyak makanan dan juga minuman. Raja, meminta kami untuk menerima jamuan yang mereka berikan, karena itu sekarang kami semua berada di sini. Aku melirik ke arah Haruki yang duduk dengan menyeruput cangkir di tangannya … Dia masih terdiam, walau cangkir yang ada di tangannya tadi ia letakkan kembali di meja berserta tatakannya.


“Jadi, apa yang ingin kau diskusikan kepada kami?”


Perkataan Raja yang membuka pembicaraan, membuatku menoleh ke arahnya. Aku mengalihkan lirikan mata ke arah Pangeran Vartan, Duke, dan juga Pangeran Jaren, anak laki-laki tertua di keluarga mereka. “Kami, ingin mengajak kalian bergabung melawan Kekaisaran,” ucapan Haruki, dengan sekejap mengheningkan seluruh ruangan.


“Dunia ini akan hancur, jika Kaisar tidak hancur. Kaisar menyimpan sebuah bunga kehidupan untuk dirinya sendiri, saat bunga itu hancur … Dunia pun, akan ikut hancur bersama bunga tersebut.”


“Itu terdengar,” lirikan mataku beralih ke arah Jaren yang menutup mulutnya dengan telapak tangan, berusaha untuk menahan tawa yang ia keluarkan.


“Itu terdengar tidak masuk akal, bukan?” ucapku pelan hingga pandangan mereka berempat beralih kepadaku.


“Apa yang kau lakukan?!”


“Yang aku lakukan?” tukasku membalas tatapan Vartan yang telah beranjak dari kursinya, “aku hanya membuktikan, sesuatu yang dianggap tidak masuk akal itu, benar adanya,” sambungku yang tersenyum menatapnya.


Aku meraih saputangan yang juga ada di atas meja, mencelupkan saputangan tadi ke dalam gelas, lalu mengusapnya di luka yang ada di telapak tanganku. Raja berserta yang lainnya, diam tak bersuara saat aku menunjukkan telapak tanganku itu ke arah mereka, “apa kalian masih tidak mempercayai ucapan kakakku?” tukasku yang kembali duduk dengan meraih gelas yang ada di dekat Izumi lalu meminum air yang ada di dalamnya.


“Kalian tidak ingin bergabung, itu tidak masalah … Karena Kerajaan yang mendukung kami, sudah lebih dari cukup. Harta dan Tahta yang kalian miliki saat ini, tidak akan ada apa-apanya lagi saat hari tersebut datang. Seperti itulah, mengerikannya bunga tersebut,” sambungku dengan meletakkan gelas yang ada di tangan ke atas meja.


____________.


“Aku lelah sekali,” ucapku dengan berbaring menyamping di atas ranjang.


“Setidaknya, lepaskan dulu sepatumu itu!”


Aku beranjak duduk dengan menggerakkan tangan, membuka sepatu yang aku kenakan seperti perintah Izumi. “Kenapa? Kenapa kau menunjukkan hal tersebut kepada kakakku? Apa kau tidak tahu, betapa berbahayanya dia?” ucapan Vartan membuatku menoleh ke arahnya.


“Dan kenapa, kalian justru membiarkannya melakukan hal berbahaya seperti itu?”


“Apa kau, begitu tertarik padanya?” Lirikan mataku beralih kepada Izumi yang berjalan ke arahnya.


“Jika keluargamu dapat dengan mudah menerima apa yang kami katakan, dia tidak akan melakukannya,” timpal Haruki, yang tengah mengeluarkan beberapa barang dari dalam tas bersama Eneas di hadapannya.


“Karena itu … Kakakku tersebut berba-”


“Jika apa yang kau katakan itu benar, maka lindungi aku darinya,” tukasku memotong perkataannya, “jika kau memang ingin dia tidak menyakitiku, maka lindungi aku darinya. Kau Putra Mahkota, bukan? Aku melakukannya, karena aku mempercayakan hidupku padamu, apa kau tidak menangkap maksud dari semua itu?”


Mataku tak berkedip saat dia lama menatapku, “aku mengerti, hanya pastikan kau tidak mendekatinya selama di sini,” ucapnya, sebelum akhirnya dia berjalan keluar meninggalkan kami di kamar.


“Mengerikan sekali.”


Aku melirik ke arah Izumi dengan masih tak bersuara, “yang aku maksudkan itu kau,” ucapnya sekali lagi membalas lirikanku.


“Kau mempermainkannya dengan begitu mudah-”


“Aku, hanya memberikan apa yang ia butuhkan,” jawabku sambil kembali membaringkan tubuh, “dia membutuhkan pengakuan dari seseorang, karena itu aku memberikannya. Walau seorang Putra Mahkota tapi dia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya itu terlihat menyedihkan untukku, aku … Hanya memberikan dorongan sedikit untuknya, dan tentu itu seperti ucapan terima kasih karena dia akan menjadi pion yang bagus untuk kita gunakan di waktu mendatang.”


“Itu akan menjadi pedang bermata dua saat dia semakin tertarik padamu, sedangkan kau sendiri-”


“Aku, tidak tertarik pada laki-laki yang bahkan tidak bisa meminta maaf atas kesalahan yang ia lakukan. Aku menjatuhkan hatiku pada Zeki, bukan hanya karena dia lebih lama mengenalku dibanding laki-laki lain kecuali kalian. Tapi aku menyukai, saat dia meminta maaf dan mengakui kesalahannya, itu membuatku sedikit dihargai.”


“Dia, tidak akan meninggalkanku begitu saja, saat aku terjerat suatu masalah. Tanggung jawab, nii-chan! Aku, tiba-tiba ingin sekali bertemu dengannya,” sambungku sambil memejamkan mata perlahan.


“Hanya gunakan saja Kou, jika kau memang benar-benar ingin menemuinya.”


“Tapi aku inginnya dia yang menjemputku, bukan aku yang datang menemuinya.”


“Apa kau anak kecil!” Aku kembali membuka kedua mataku saat kurasakan sesuatu memukul kepalaku, aku meraih sebuah bantal di atas kepalaku sebelum berbalik menatap Izumi, “apa kedua tangannya itu terpotong hingga satu surat pun belum dia kirimkan? Nii-chan, kita sudah tidak berada di hutan, bukan? Aku ingin sepuluh ikan bakar dari sepuluh ikan yang berbeda, yang dibakar langsung olehmu.”


“Apa kau pikir, aku ini pelayanmu?!” bentak Izumi, mataku kembali tertutup saat dia melemparkan bantal yang juga ada di atas ranjang ke wajahku.


“Dan untukmu, Haru-nii,” ucapku dengan mengalihkan pandangan ke arahnya.


“Aku ingin sepuluh cincin permata dengan warna berbeda yang ukurannya sangat pas di kesepuluh jari-jari tanganku, anggap saja itu sebagai ucapan terima kasih atas semua jasa-jasaku selama ini,” tukasku, Haruki masih diam tak bersuara membalas tatapanku.


“Jasa-jasa apa yang kau maksudkan itu,” aku mengerang kesakitan saat Izumi berbicara dengan menjewer kuat telingaku.


“Aku mengerti, hanya berikan saja ukuran dari kesepuluh jari-jari tanganmu, aku … Akan memerintahkan seseorang untuk membuatkannya,” ucap Haruki, aku tertegun dengan kembali membalas tatapannya.