
"Kalian yang membawa panah, aku perintahkan naik ke atas, sekarang!" teriakku seraya menatap para Kesatria yang menggendong busur panah di punggungnya, berbalik mereka semua sembari berlari naik seperti yang aku perintahkan.
Kutatap sepuluh orang Kesatria yang berlari tadi, berjalan mereka semua mendekati. Berbalik kembali aku seraya menoleh ke arah kerumunan manusia yang ada di bawah...
"Kalian para pemanah, aku perintahkan untuk berbaris di samping kanan dan kiriku," ucapku tanpa menoleh ke arah mereka.
"Apa yang kau rencanakan?" ucap Savon diikuti suara langkah kaki di sebelah kanan dan kiri tubuhku.
"Hanya perhatikan," jawabku singkat padanya.
"Kalian semua, selain para Kesatria... Aku perintahkan menyingkir dari sini secepatnya. Aku tidak peduli kalian ingin bersembunyi di mana, hanya enyahlah dari hadapanku!"
"Jangan kau pikir..."
"Pemanah, arahkan anak panah kalian pada mereka. Jika mereka memotong perkataanku, lubangi kepalanya dengan anak panah kalian!" teriakku lagi seraya memotong perkataan laki-laki itu, kembali kurasakan suasana sepi yang terjadi seperti sebelumnya.
"Aku tidak ingin mengambil resiko adanya pengkhianat di antara kalian, jadi jika... Diantara kalian semua tidak ada yang mau pergi, aku akan menganggap kalian sebagai pengkhianat. Dan tentu saja, hukuman yang paling pantas untuk pengkhianat adalah mati," ucapku lagi dengan lantang, kutatap mereka seraya kuangkat ibu jariku lalu menggerakkannya membentuk garis lurus di leherku.
"Dan tunggu apalagi kalian yang di bawah, usir mereka dari sini, sekarang!" teriakku seraya menatap para Kesatria yang ada di bawah.
Bergerak para Kesatria itu melakukan apa yang aku perintahkan, perlahan demi perlahan kerumunan masyarakat yang tadinya memenuhi sekitar berangsur menghilang... Berbalik aku seraya berjalan menuruni tangga, kulangkahkan kakiku mendekati Kesatria yang berada di bawah...
Melangkah aku mendekati perlengkapan yang mereka bawakan, berjongkok aku dihadapan mereka seraya meraih dan memegang kendi-kendi kecil yang ada...
"Aku melupakannya, bisakah kalian membawakan aku tali, paku, panci tembikar berukuran besar, air dan banyak sekali kayu bakar," ucapku, kuangkat kepalaku ke atas seraya menatap mereka.
"Untuk apa semua itu?" ucap salah satu Kesatria yang berdiri di belakangku.
"Untuk jebakan, dan kalau bisa... dapatkan juga bambu serta apa saja barang yang dapat digunakan untuk menggali tanah. Aku ingin kita menyelesaikan semua jebakan sebelum musuh tiba," sambungku kembali menatapi mereka.
"Kami akan menyiapkannya," tukas salah satu Kesatria yang berdiri di hadapanku, berbalik seraya berjalan ia menjauh diikuti beberapa orang Kesatria lainnya.
"Dan kalian, aku perintahkan untuk mengisi kendi-kendi ini dengan minyak lalu tutup rapat menggunakan apapun agar tidak tumpah. Aku mengandalkan kalian semua untuk pekerjaan ini," ucapku lagi, mengangguk mereka seakan menyetujui semua yang aku ucapkan.
_________________
"Kami telah membawakan semua yang diperlukan!" terdengar suara teriakan laki-laki dari bawah, kuarahkan kepalaku menatap ke arah sumber suara.
"Bawa semuanya ke atas, dan beberapa dari kalian bantu kami menyiapkan jebakan," ucapku lagi pada mereka.
Berbalik aku seraya berjalan mendekati pagar, kutatap kondisi dibalik benteng yang masih suram diselimuti malam...
Ketika ia terbang bersama Izumi, Kou mengatakan jika musuh membawa peralatan terbuat dari kayu, aku tidak tahu apa itu... Bahkan bodohnya, aku lupa menanyakan hal tersebut pada Izumi. Jika rencanaku gagal? akan banyak nyawa yang hilang... Jikapun berhasil, aku tidak dapat menjamin mereka semua akan tetap hidup atau tidak.
"Mereka telah membawakan semua yang kau perlukan ke atas," suara Savon mengagetkanku, berbalik aku seraya menatapnya.
"Aku mengerti," tukasku pelan padanya.
Berjalan aku mendekati mereka yang tengah mengatur napas, berbalik kembali aku seraya menatap sepuluh pemanah tadi sembari kugerakkan telapak tanganku memanggil mereka...
Melangkah mereka mendekati, kuraih segulung tali tambang pada satu orang Kesatria lalu kuraih segulung tali tambang lainnya seraya kuberikan kembali pada Kesatria lainnya dan begitu seterusnya hingga tak bersisa...
Kutatap mereka satu persatu seraya kuarahkan jari telunjukku kearah pagar-pagar batu yang ada di atas benteng. Aku meminta mereka semua untuk mengikatkan tali-tali itu dengan kuat di pagar agar kami dapat menuruninya...
Mengangguk mereka semua mengikuti perintah dariku, berbalik mereka seraya berjalan mendekati pagar-pagar tersebut. Diambilnya oleh mereka tali-tali tadi yang masih tergantung di masing-masing punggung mereka...
Diikatkan tali tadi dengan kuat di pagar-pagar batu yang terbangun di atas benteng yang kami injak itu. Kembali melangkah aku mendekati mereka yang telah melakukan tugasnya...
"Kalian semua, bantu aku membawakan benda-benda tersebut ke bawah. Semuanya, kecuali tong berisi air, panci tembikar beserta kayu bakar," ucapku seraya menatap mereka satu persatu.
Kuraih lalu kutarik-tarik tali yang terikat di pagar tadi... Naik aku ke atas pagar tersebut dengan sebelah tanganku menggenggam kuat tali tadi. Aku membalikkan tubuhku menghadap ke belakang seraya melompat turun dari atas benteng...
Tanganku yang langsung bersentuhan dengan tali tersebut terasa sangat perih, bertahan aku di posisi tersebut seraya menenangkan otakku terlebih dahulu dari rasa perih yang menjalar...
Kutapakkan kedua kakiku di dinding benteng seraya kedua tanganku menggenggam kuat tali tadi, kutatap suasana gelap dan mencekam di bawahku... Menoleh kembali aku ke atas seraya kugerakkan satu persatu kakiku dengan pelan menuruni dinding...
Kakiku masih terasa gemetar menginjak tanah, kembali kutatap Savon dan juga Kesatria lainnya yang menatapku dengan tatapan seakan tak percaya. Kulambaikan tanganku kepada mereka yang masih diselimuti perasaan asing itu...
"Apa yang kalian lakukan? Cepatlah turun! sebelum pagi datang," ungkapku seraya menatap mereka satu persatu.