
“Jadi seperti itu,” ungkapku sembari mendongakkan kepala ke atas.
“Jadi, kau pasti paham bukan … Apa yang harus dilakukan,” sambung Ibu, aku menurunkan kembali wajahku menatapnya yang telah duduk di samping.
Aku mengangguk, “aku mengerti Ibu, aku akan mengingat semua pesan yang Ibu ucapkan,” tukasku, aku bergerak sedikit maju lalu memeluknya dengan menyandarkan kepala di pundaknya, “Ibu, kemungkinan kami akan melanjutkan perjalanan secepatnya. Berhati-hatilah selama kami pergi, kami … Akan segera pulang setelah semua ini selesai,” ungkapku sambil membenamkan wajah di pundaknya itu.
“Ibu mengerti. Ayah kalian telah menceritakan semuanya pada Ibu, jika kalian lelah … Pulanglah ke rumah, Ibu akan menunggu kalian semua pulang, dan juga … Perkenalkan Ibu nanti kepadanya,” tukas Ibu yang aku balas dengan anggukan kepala.
“Ryu, kemarilah nak,” sambung Ibu, aku mengangkat kembali wajahku menatap Ryuzaki yang masih berdiri terdiam menatapi kami.
Ryuzaki berjalan mendekat, langkah kakinya terlihat sedikit kaku ketika berjalan … Namun dia, tetap melangkah dengan sangat pelan mendekati kami. Dia berjongkok di samping kami ketika Ibu mengangkat tangannya ke arah Ryuzaki. “Maafkan Ibu, karena Ibu sudah menjadi Ibu yang kurang baik untuk kalian,” ucapnya, dia merangkulkan lengannya di leher Ryuzaki saat Ryu ikut bersandar di pundaknya seperti yang aku lakukan.
Aku mengangkat pandangan, tubuhku tertegun saat aku tersadar jika Ryuzaki terus melirik ke arahku tanpa henti. “Ada apa?” tanyaku kepadanya, Ryuzaki masih terdiam, dia hanya tersenyum kecil sebelum membenamkan kembali wajahnya di pundak Ibu.
_________________.
Aku membuka pintu kamar lalu berjalan keluar, tubuhku berbalik lalu menutup kembali pintu tersebut sebelum melangkah menjauhinya. Aku terus berjalan dengan sesekali menarik pita yang menguncir rambutku itu, kadang aku memeluk erat diriku sendiri saat udara pagi berembus menembus tulang.
“Sejak kapan kau menjadi lamban seperti ini, Yang Mulia.”
“Tutup mulutmu Tsutomu! Hanya ayunkan saja pedangmu itu,” tukas suara Izumi yang terdengar menimpali suara laki-laki yang terdengar sebelumnya.
“Selamat pagi,” ucapku sambil membuka pagar kayu tempat pelatihan para Kesatria.
Aku berjalan dengan mengabaikan mereka, langkah kakiku terhenti diikuti tubuhku yang bergerak melakukan peregangan. Aku menarik napas dalam sebelum kedua kakiku berlari mengelilingi tempat itu. “Kau bangun pagi-pagi sekali,” ucap suara Izumi yang kembali terdengar saat aku telah berlari memutari tempat itu satu kali.
“Tubuhku akhir-akhir ini mudah sekali lelah. Aku hampir tidak bisa menggerakkan tubuh setiap kali bangun tidur,” ucapku menjawab pertanyaan Izumi dengan tetap melanjutkan langkah berlari.
“Apa kau yakin baik-baik saja? Maksudku, kau selalu menggunakan kekuatan mereka semua akhir-akhir ini.”
“Aku baik-baik sa-”
“Hanya katakan saja yang sejujurnya!”
Langkah kakiku terhenti saat bentakan Izumi langsung menusuk telinga. “Tidak ada yang aku sembunyikan darimu, nii-chan. Aku telah mengatakan semuanya kepadamu,” ucapku ketika aku berbalik ke belakang menatapnya.
“Maaf, karena tidak mempercayaimu beberapa hari terakhir,” tukasnya sembari membuang pandangannya dariku.
“Nii-chan, aku masih belum bisa melakukan tendangan yang dulu kau ajarkan. Bisakah nii-chan mengajarkanku sebelum melanjutkan perjalanan?” tanyaku, dia kembali mengangkat wajahnya menatapku saat aku telah berjalan mendekatinya.
“Kau ingin aku mengajarkanmu menggunakan pedang atau tangan kosong?” ucapnya ketika aku telah menghentikan langkah di hadapannya.
“Ajarkan aku menggunakan tangan kosong terlebih dahulu,” jawabku sambil menatap jari-jemari tanganku sendiri.
Aku menoleh ke arah Tsutomu yang berjalan mendekati Izumi, Tsutomu mengangkat kedua tangannya meraih pedang kayu yang Izumi berikan kepadanya sebelum dia membungkuk lalu berjalan menjauhi kami. “Apa kau sudah siap?” tanya Izumi yang membuatku kembali menoleh ke arahnya.
__________________.
“Apa kau baik-baik saja?”
“Rasa nyerinya masih menusuk-nusuk. Punggungku,” ucapku dengan kembali membenamkan wajah di pundak Izumi,
“Aku sudah mengatakannya, jangan tiba-tiba melakukannya dengan satu putaran penuh seperti itu. Inilah akibatnya jika kau melakukannya tanpa mendengarkan peringatan dari kakakmu sendiri,” sambung Izumi, dia berusaha menoleh ke belakang, ke arahku yang sedang ia gendong di punggungnya.
“Maaf, aku tidak tahu jika akan seperti ini akibatnya,” ungkapku menimpali perkataannya.
Aku mengangkat kepala saat Izumi tiba-tiba menghentikan langkah kakinya, kugerakkan wajahku sedikit miring ke kanan … Berusaha untuk melihat apa yang sedang ia tatap. “Ayah, apa terjadi sesuatu?” tanya Izumi, masih kutatap Ayah yang tengah berjalan mendekat dengan Daisuke dan para wakil kapten di belakangnya.
“Tidak terjadi apa pun, Ayah hanya akan mendiskusikan sesuatu bersama mereka dengan kakak kalian,” ucapnya saat Ayah menghentikan langkahnya di hadapan kami.
“Kenapa kau menggendong Adikmu? Apa tejadi sesuatu kepadamu, Sachi?”
“Aku baik-baik saja Ayah. Hanya saja, aku kurang berhati-hati saat melakukan latihan,” ungkapku membalas perkataannya.
“Apa yang ingin kalian bahas Ayah? Apa kami, bisa ikut mendengarkannya?” Aku balas bertanya kepadanya.
“Tentu, ikutlah ke ruangan Ayah,” ucap Ayah sebelum dia berbalik melangkahkan kakinya pergi melewati kami.
Izumi berbalik, membawaku di gendongannya mengikuti langkah Ayah yang kian menjauh. Langkah kaki kami berhenti saat Ayah juga menghentikan langkah kakinya di hadapan sebuah pintu dengan dua orang pengawal yang berjaga. Langkah kaki Ayah kembali berjalan saat kedua Kesatria tadi membukakan pintu yang ada di hadapan kami itu.
Aku melemparkan pandangan ke sekitar, menatap Haruki, Tatsuya, Tsutomu dan juga Arata yang telah berada di dalam ruangan.Tatsuya, Tsutomu dan Arata langsung membungkukkan tubuh mereka ke arah Ayah sedangkan Haruki beranjak berdiri dari tempatnya duduk ketika kami semua masuk ke dalam.
“Apa yang terjadi padanya?” tanya Haruki, dia segera mengangkat tangannya … Membantuku turun dari atas punggung Izumi saat Izumi menghentikan langkah di dekatnya.
“Dia tidak berhati-hati saat berlatih. Dan juga, berhati-hatilah dengan punggungnya,” sambung Izumi ketika dia melangkah pergi lalu duduk di kursi yang berseberangan dengan kami.
“Apa kau baik-baik saja?” bisik Haruki saat dia dengan perlahan membantuku duduk di atas kursi yang sebelumnya ia duduki.
“Aku baik-baik saja nii-chan. Jika aku membawanya tidur, rasa sakitnya pasti akan menghilang,” ucapku mengangkat wajah lalu tersenyum menatapnya.
“Apa kalian mengetahui kenapa aku memanggil kalian semua ke sini?”
Aku berbalik menatap Ayah yang telah duduk di kursi miliknya sebelum aku membuang pandangan ke arah Daisuke dan para wakil kapten yang berdiri, berbaris menatap Ayah. “Yang Mulia, apa terjadi sesuatu? Atau, apa kami melakukan kesalahan?” tanya Daisuke yang sedikit bergerak lebih maju dibanding para wakil kapten.
Ayah menggeleng pelan, “Haruki, giliranmu … Jelaskan alasanmu mengapa kau mengumpulkan mereka semua ke sini,” sambung Ayah sambil melirik ke arah Haruki yang duduk di samping.