
"Kemarilah kalian berdua," ucapku seraya menarik Haruki dan Izumi menjauh dari Zeki
"Ada apa?" ucap Izumi menatapku
"Apa kedua kakak tersayangku tak mendengar yang dikatakan laki-laki tua tadi, jika permainan ini bisa sangat berbahaya bahkan mengancam nyawa," ucapku berbisik seraya menarik mereka berdua semakin mendekat ke arahku.
"Lalu?" sambung Haruki.
"Jika Zeki mati di permainan, bagaimana dengan nasib yang aku punya?"
"Dan kau ingin mengatakan jika dirimu, Takaoka Sachi ingin mengajaknya bergabung, bukan begitu?" ungkap Haruki tersenyum dingin menatapku.
"Seperti yang diharapkan dari Kakakku," ucapku menghindari tatapan matanya.
"Bagaimana menurutmu Izumi?"
"Dia telah gagal menjaga Sachi di Yadgar, aku tidak bisa menerimanya," sambung Izumi menyilangkan kedua lengannya menatapku
"Kau dengar itu bukan?"
"Tapi nii-chan."
"Akan tetapi, lebih cepat kita mengumpulkan anggota kelompok itu akan lebih baik. Berada di keramaian membuatku pusing..."
"Jadi terserah kau saja, aku menyerahkan semua anggota kelompok padamu Sa-chan. Hanya perintahkan mereka untuk berkumpul di kamar membicarakan strategi, aku butuh sebuah buku untuk menyegarkan pikiranku kembali," ucap Haruki berbalik berjalan menjauh.
"Akupun, aku ingin istirahat sebentar. Hanya lakukan dengan cepat, dan jangan sampai salah pilih. Atau aku akan menyulitkanmu, Tupai," sambung Izumi mengikuti langkah Haruki.
______________
"Jadi, ini semua anggota kelompok kita?" ucap Haruki menutup buku yang ia baca seraya mengalihkan pandangannya menatapku, kubalas perkataannya tadi dengan anggukan kepala dariku.
"Dua bersaudara Adinata dan Danurdara Pangestu, Julissa Laura, Luana Joselito, Sasithorn Sittichai, Zeki Bechir, dan siapa namamu?" ucapku pada laki-laki pemalu yang mengantarkan kami tadi
"A... Arion," ucapnya tetap tertunduk
"Dan Arion," ucapku tersenyum menatap ke arah Haruki dan Izumi yang tengah duduk memperhatikan kami.
"Takaoka Haruki, kalian dapat memanggilku Haruki. Yang duduk disana itu adik laki-lakiku Izumi, dan yang berbicara tanpa henti itu ialah adik perempuan kami, Sachi."
"Jujur, aku tidak peduli jika salah satu dari kalian kehilangan nyawanya. Karena aku sendiri hanya berfokus melindungi kedua adikku, jadi sebisa mungkin jangan menghalangi jalan kami," ucap Haruki menatap dingin kearah mereka satu persatu.
"Dan kalian para perempuan, laki-laki tua itu mengatakan jika yang akan kita datangi adalah sebuah hutan terlarang. Jadi, buang semua keanggunan kalian, karena aku sendiri tidak akan segan-segan meninggalkan mereka yang aku rasa lemah," sambung Izumi ikut menatapi mereka.
"Jika kalian ingin selamat, hanya ikuti saja perintah kami. Karena aku sendiripun, sangat tidak menyukai orang bodoh yang tidak bisa menilai kemampuan dirinya sendiri," lanjutku berjalan mendekati Haruki dan Izumi.
"Apa kau ingin menyerah sekarang?" ucap Haruki menyilangkan kedua lengannya.
"Tentu saja tidak, aku malah merasa telah memilih bergabung di kelompok yang tepat," ungkapnya kembali tersenyum menatap kami.
______________
"Apa semuanya sudah kau persiapkan, Sa-chan?" ucap Haruki seraya fokus mengenakan sepatunya.
"Sebentar lagi, nii-chan," jawabku, kuletakkan benda-benda yang menurutku akan sangat diperlukan ke dalam sebuah tas.
"Apa kau telah siap Izumi?"
"Tentu, semuanya telah siap."
Berjalan Izumi mendekatiku, diraih dan diangkatnya tas yang ada di hadapanku seraya digantungkannya menyilang di pundaknya.
Berjalan kami bertiga mendekati pintu kamar, dibukanya pintu kamar tersebut oleh Haruki. Tampak terlihat ketujuh orang yang kemarin ikut berkumpul di kamar telah berdiri menunggu...
"Apa kalian tidak paham dengan apa yang aku katakan kemarin?" ucap Izumi seraya menatap para perempuan itu satu persatu
"Kita akan ke hutan, bukan untuk memamerkan gaun-gaun yang kalian kenakan..."
"Contoh gaya berpakaian seperti dia!" sambung Izumi seraya mengarahkan jari telunjuknya ke arahku.
"Tapi kami, tidak mempunyai pakaian seperti itu," ucap Luana pelan.
"Kemarilah," ucapku berbalik, kubuka kembali pintu kamar kami yang telah tertutup.
Masuk aku kedalam diikuti Luana, Sasithorn dan juga Julissa. Berjalan aku mendekati peti kayu yang ada di sudut kamar, kubuka peti kayu tersebut seraya mengambil beberapa lembar pakaian yang ada di dalamnya.
"Pakaian-pakaian ini ukurannya memang sengaja dibuat sangat besar dari ukuran tubuhku, jadi aku pikir mereka akan sangat pas di tubuh kalian," ucapku, berjalan aku mendekati mereka bertiga seraya kuarahkan tumpukan pakaian tersebut ke arah mereka.
Diambilnya satu persatu pakaian tersebut oleh mereka, berjalan aku seraya duduk di kursi menunggu mereka mengganti pakaian. Berselang, berjalan kami berempat kembali keluar kamar menyusul para laki-laki yang telah lama menunggu...
Melangkah kami bersepuluh menyusuri Istana yang dituntun oleh Arion berjalan di depan kami. Langkah kaki kami terhenti di depan gerbang Istana, tempat pertama ketika kami menginjakkan kaki saat tiba disini...
Terlihat sudah banyak sekali orang-orang yang berkumpul disana, satu persatu laki-laki dan perempuan disana mengarahkan pandangannya ke arah kami. Terlihat juga tatapan dari para perempuan yang menatap kami berempat dengan tatapan merendahkan, kugenggam telapak tangan Sasithorn yang menunduk malu.
Menoleh ia kearahku dengan mata yang terlihat sedikit berbinar, tersenyum aku balas menatapnya...
"Kita akan baik-baik saja, kau percaya dengan kakakku bukan?" ucapku, kuperkuat genggaman tanganku di telapak tangannya seraya tersenyum aku menatapnya.
"Aku percaya," ucapnya pelan seraya balas tersenyum manis menatapku.