
"Bagaimana? Bagaimana kau mengenaliku?"
"Pertama, saat perempuan itu mengatakan kalau aku tunangannya dan aku tidak sengaja menatapmu yang tertunduk. Kebiasaanmu yang akan menggenggam celana ataupun rok yang yang kau kenakan ketika gugup, takut, ataupun sakit... Benar-benar telah tertanam di otakku..."
"Kedua, aku sangat berterima kasih pada Kakakmu, Izumi. Berkat matanya yang tak henti-hentinya menatapku dari balik jubahnya semakin membuatku yakin, bahwa kau ada di sini bersamanya," sambungnya seraya meletakkan telapak tangannya di atas kepalaku.
"Dan perempuan itu, kapan kalian bertunangan?" tanyaku dengan suara bergetar seraya kualihkan pandanganku darinya.
"Aku tidak bertunangan dengannya, kau bisa mengeceknya sendiri, ada atau tidaknya namaku di belakang telinganya."
"Tapi..."
"Aku akan menjelaskannya," ucapnya seraya merebahkan kepalanya di pundakku.
"Dua tahun yang lalu, aku berhasil mengalahkan Kapten sebelumnya. Akan tetapi, Raja tidak menyetujui aku menjadi Kapten jika aku tidak bertunangan dengan Putri dari Kerajaan yang tengah dekat dengan Kekaisaran..."
"Berkali-kali aku menolak pertunangan itu, tapi Raja tetap memaksakan kehendaknya bahkan mengancam jika aku akan diturunkan dari jabatanku sebagai wakil kapten kalau aku tidak menurutinya..."
"Katakan padaku, bagaimana caranya aku dapat mengejarmu jika aku tidak memiliki jabatan apapun yang dapat melindungimu di masa depan," ungkapnya seraya meraih dan menggenggam telapak tangan kiriku menggunakan kedua tangannya.
"Jadi kau menerima pertunangan itu?"
"Tidak, aku membuat perjanjian pada Raja. Aku hanya akan bertunangan dengan perempuan itu di hadapannya, aku tidak akan bertunangan dengannya secara resmi menurut kepercayaan sebelum tunanganku sebelumnya mencapai usia tujuh belas tahun..."
"Apa kau pikir aku akan dengan mudahnya melepaskan perempuan yang telah memberikan kehidupan kedua untukku?"
"Aku akan melukai orang lain kecuali kau, aku akan membunuh orang lain kecuali kau. Karena itu Sachi, jika kita berdua telah menyelesaikan semua urusan di kehidupan kita selama ini, menikahlah denganku..."
"Aku akan membangunkan sebuah Kerajaan untukmu, dengan aku sebagai Raja. Kau yang menjadi Ratu dan anak-anak kita nantinya sebagai Pangeran dan juga Putri di sana..."
"Jika kukatakan, aku hanya ingin menjadi rakyat biasa..."
"Tidak masalah," ucapnya memotong perkataanku.
"Karena memang sebelumnya, aku tidak pernah diperlakukan sebagai seorang Pangeran," sambungnya, kurasakan genggaman tangannya tadi semakin kuat.
"Kau mengatakan yang sebenarnya padaku bukan?"
"Ayahmu akan membunuhku jika ia tahu aku mempermainkan Putrinya. Lagipun, aku melakukan semuanya karena perintah langsung dari Ayahmu..."
"Ia ingin aku, mencari informasi yang berhubungan dengan Kekaisaran sebanyak apapun. Karena itu, kau harus membantuku mendapatkan restu darinya."
"Lalu, bagaimana nantinya dengan perempuan itu?" ucapku pelan.
"Aku tidak peduli, sedikitpun aku tidak peduli padanya."
"Tapi..."
"Dengarkan perkataanku terlebih dahulu," ucapnya, diangkatnya kepalanya tadi seraya ditatapnya aku dengan jari jempol dan telunjuknya mengapit bibirku.
"Keluarga mereka tidak memikirkan apapun kecuali kesenangan dan kebahagiaan mereka sendiri. Apa kau tahu kenapa ia bisa kehilangan tunangan ia yang sebelumnya?" ucapnya lagi, menggeleng aku menjawab pertanyaannya.
"Tunangannya adalah rakyat biasa, jadi mereka membunuh secara diam-diam tunangan perempuan tadi. Dan seperti yang kau tahu, kejadian enam tahun yang lalu..."
"Banyak Pangeran dan juga Putri yang kehilangan tunangan mereka, jadi mereka berniat mempertimbangkan Putri tersebut dengan para Pangeran yang juga kehilangan tunangan mereka."
"Bagaimana kau mengetahuinya?"
"Apa kau ingat kondisiku saat pertama kali kita bertemu?" ucapnya lagi seraya sebelah tangannya yang lain menyentuh pipiku.
"Jika saja dia yang menjadi tunanganku dan bukan kau, apa kau pikir aku akan menjadi seperti sekarang? Apa kau pikir ia akan menerima kondisiku yang dulu seperti yang kau lakukan?"
"Karena itu, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku jatuh cinta pada anak perempuan berusia empat tahun yang memukul kepalaku dengan kepalanya sebelas tahun yang lalu," ucapnya tersenyum ke arahku, tampak terlihat sudut bibirnya yang bergetar pelan.
"Walaupun kau akan kehilangan nyawamu?" ucapku dengan suara bergetar, kugenggam lengannya yang memegang pipiku tadi.
"Aku tidak akan mati dengan mudahnya."
"Walaupun aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi pada kita berdua kedepannya," ucapku lagi, mengangguk ia membalas perkataanku.
"Kau tahu bukan? Aku ingin kau bahagia dibandingkan siapapun."
"Dan akupun ingin membahagiakanmu, kau bodoh," ucapnya yang langsung memeluk tubuhku.
"Jangan menikah dengannya, Zeki. Kau tidak boleh menikah dengan siapapun... Pastikan aku benar-benar mati jika kau ingin menikahi perempuan lain."
"Aku tidak akan. Bagaimana caranya aku meninggalkan pasanganku yang cengeng ini," ucapnya yang mengarahkan lengannya ke mataku.
"Kau benar-benar tidak akan melakukannya bukan?" tanyaku lagi yang menatapnya, semakin kuat kurasakan pelukan yang ia lakukan.
"Aku akan menikahimu sekarang jika itu harus, tapi aku tidak akan membawamu pergi tanpa izin dari Ayahmu..."
"Lagipun, kedua kakakmu pasti akan langsung membunuhku jika aku membawa adiknya pergi tanpa sepengetahuan mereka," sambungnya tersenyum menatapku.
"Sachi, bolehkah?" ucapnya lagi menatapku.
"Bolehkah? Apanya?" tanyaku balas menatapnya dengan bingung.
"Aku mencium pipimu... hanya sedikit saja," ungkapnya seraya mengalihkan pandangannya.
"Terima kasih karena masih menungguku, Darling," ucapku, kuangkat telapak tanganku ke pipinya seraya kutarik wajahnya mendekati bibirku lalu menciumnya.
"Jangan menggodaku seperti itu kau tahu," ucapnya tertunduk dengan telapak tangan menutupi seluruh wajahnya.
"Aku laki-laki, aku tidak akan segan-segan menyerangmu."
"Menyerangku?"
"Menurutmu apa? Tentu saja melakukan hal yang sering dilakukan pasangan yang telah menikah," bisiknya di telingaku.
"Eh?" ucapku tertegun sejenak.
"Apakah kau tidak mendengarnya?" ucapku lagi seraya merendahkan tubuhku keluar dari rangkulan yang ia lakukan.
"Aku pikir, aku mendengar berkali-kali suara teriakan Izumi. Aku harus pergi sekarang juga," sambungku merangkak mundur menjauhinya.
"Aku tidak akan melakukannya sebelum mendapat restu dari Ayahmu," ucapnya beranjak berdiri, berbalik ia seraya berjalan meraih obor yang ia tancapkan di tanah sebelumnya.
"Aku akan mengantarmu ke perkemahan..."
"Jadi kemarilah, Darling," sambungnya tersenyum menatapku sembari mengarahkan telapak tangannya ke arahku.