Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCLXXIV


Sedikit demi sedikit tubuh perempuan yang memakai topeng serigala tadi meninggalkan air, dia berbalik menatap kami dengan mengangkat telapak tangan kanannya sebelum dia kembali berjalan menuju perkampungan yang aku sebutkan sebelumnya. Genggaman tangan Haruki di tanganku semakin menguat tatkala satu per satu manusia yang juga memakai topeng mendatangi kami.


Pandangan mataku teralihkan pada kotak kayu berwarna cokelat penuh ukiran yang diangkut oleh delapan orang yang membawanya, sama seperti yang lainnya … Mereka yang memanggul kotak kayu tadi juga mengenakan topeng berbentuk hewan. Dengan pelan, delapan orang laki-laki yang memakai topeng tersebut bergerak menurunkan kotak kayu yang mereka bawa itu.


Perempuan yang memakai topeng serigala tadi berdiri di dekat kotak kayu tadi lalu perlahan membuka tirai yang menutupi kotak kayu tersebut. Aku berbalik ke belakang, kutatap para pasukan yang mengiringi jalan kami dari belakang telah menundukan kepala mereka masing-masing. Genggaman tangan Haruki yang tiba-tiba menguat membuatku kembali mengalihkan pandangan pada kotak kayu tadi.


Seseorang, dengan wajah yang ditutupi topeng berbentuk Singa telah duduk di dalam kotak kayu yang dibawa oleh delapan orang tadi. Haruki menarik pelan tanganku saat perempuan yang memakai topeng serigala tadi kembali menggerakan telapak tangannya ke arah kami. Aku berjalan pelan ke depan, air yang meresap di pakaian dan juga jubahku membuat tubuhku sedikit berat saat kedua kakiku berjalan menaiki sebuah tanjakan di pinggir sungai.


Aku mengenggam erat lengan kiri Haruki dengan kedua tanganku saat tanah yang kami pijak terasa licin oleh air yang menetes di tubuh kami. Aku mengikuti Haruki yang telah duduk berlutut di depan seseorang yang duduk di dalam kotak kayu tadi, Haruki kembali mengucapkan kata-kata yang sama ketika ia ucapkan kepada perempuan bertopeng serigala sebelumnya, “Sa-chan,” bisiknya pelan terdengar saat dia telah selesai mengucapkan kata-kata yang tak aku mengerti itu.


“Ada apa, nii-chan?” Aku balas berbisik pelan di dekatnya, “bisakah kau mengambil lempengan emas tadi di balik kantung yang ada di dada kiriku , lalu berikan lempengan tadi pada perempuan yang memakai topeng itu,” ucapnya kembali pelan terdengar.


Pandangan mataku beralih menatap telapak tangan kirinya yang ia genggam kuat, tampak telapak tangannya itu bergerak gemetar jika kita tak mengalihkan pandangan darinya, “aku mengerti nii-chan,” ucapku mengikuti apa yang ia perintahkan.


Aku mengarahkan telapak tanganku menyelinap ke dalam jubah yang ia kenakan, kuraih lempengan benda keras dan tipis yang menggantung di balik jubahnya tersebut. Kubuka ikatan pada kantung kain yang ada di tanganku, aku beranjak berdiri dengan menjatuhkan benda yang ada di dalam kantung tadi ke atas telapak tangan. Aku mengarahkan kepingan logam emas berukuran sebesar telapak tangan itu ke pada perempuan bertopeng serigala tadi saat kedua kakiku berhenti di depannya.


Perempuan tadi meraih lempengan emas tadi dari tanganku lalu diberikannya lempengan tadi pada dia yang duduk di dalam kotak kayu tersebut. Laki-laki yang duduk di dalam kotak kayu tadi mengangkat lempengan tadi ke atas wajahnya, diputar-putarnya lempengan tadi lalu diarahkannya kembali lempengan tersebut mendekati topeng yang ia kenakan.


“Apa kalian bertemu dengan Kakakku?” Suara Perempuan tiba-tiba terdengar, kedua mataku sedikit membesar tatkala dia yang duduk di dalam kotak kayu tadi mengangkat kotak kayu yang menutupi wajahnya itu, “apa kalian bertemu dengan Kakakku?” Perempuan tua itu kembali bertanya seraya diletakannya topeng singa yang ia kenakan tadi ke samping.


“Apa kalian bertemu dengan Kakakku?” Perempuan itu kembali bersuara, aku menggerakan kepalaku menoleh ke arah Haruki.


Kedua mataku membesar diikuti kedua kakiku yang berlari mendekatinya, “nii-chan,” ucapku kuat, aku segera berlutut di sampingnya dengan sebelah tanganku menyentuh pipinya yang telah pucat.


“Nii-chan, lihat aku,” ucapku pelan sembari kugerakan telapak tanganku tadi sedikit mendorong wajahnya menatapku.


“Bisakah, aku menumpang merawat Kakakku. Dia … Dia,” ucapku terhenti sejenak, “Dia terkena panah beracun. Aku harus segera merawatnya,” ucapku dengan suara yang gemetar.


Perempuan tua yang ada di dalam kotak tadi mengarahkan pandangannya ke arah perempuan bertopeng serigala, perempuan bertopeng serigala tadi mengangguk saat mereka bertatap lama. Aku segera beranjak berdiri, membantu menggerakan tubuh Haruki mendekati punggung Izumi. Izumi beranjak berdiri lalu berjalan mengikuti perempuan bertopeng serigala tadi dengan Haruki yang berada di gendongannya.


“Sebenarnya racun apa yang mereka berikan padanya? Ini pertama kalinya untukku melihat dia seperti ini,” ucap Izumi kembali mempererat pegangan tangannya di paha Haruki, “bertahanlah Haruki, kau dengar aku?!” Kali ini Izumi sedikit meninggikan suaranya.


Perempuan tadi membawa kami berhenti di sebuah rumah panggung, aku berjalan di samping Izumi dengan kedua tanganku memegang erat tubuh Haruki saat Izumi dengan perlahan menaiki tangga pada rumah panggung tersebut. Suara deritan kayu terdengar saat kami semakin mendekati beberapa tangga terakhir, “ber … Hati … Hatilah,” ucap Izumi dengan sedikit tertahan saat kami hampir mendekati lantai kayu pada rumah tersebur.


Izumi berjalan cepat melewati perempuan tadi saat perempuan tersebut membuka pintu pada rumah tersebut. Aku bergerak mengikuti apa yang Izumi lakukan, “buka pintunya," ucap Izumi melirik ke arahku saat kami berhenti di sebuah pintu berwarna putih.


Aku membuka pintu tersebut, Izumi sedikit melirik ke arah dalam ruangan yang ada di pintu tadi, “jangan di sini,’ ucap Izumi lagi dengan melangkahkan kembali kakinya mendekati sebuah pintu berwarna cokelat yang penuh akan ukiran.


Aku kembali berjalan mendekatinya, kugerakan tanganku membuka pintu tersebut. Izumi masuk dengan sangat cepat ke dalam ruangan yang ada di balik pintu cokelat tadi. Aku ikut melangkah di belakangnya seraya kedua kakiku berbalik mendekati sinar mentari yang sedikit menembus di dinding. Kudorong jendela kayu yang ada di hadapanku itu hingga cahaya dapat dengan bebas memenuhi ruangan.


Aku kembali melangkah mendekati Izumi yang telah membaringkan tubuh Haruki di atas ranjang beralaskan jerami itu, “Haruki!” Ikut terdengar suara Lux diikuti bayangannya yang terbang melewatiku.


Aku menoleh ke arah Izumi yang dengan perlahan membuka pakaian yang Haruki kenakan, “aku akan mencoba memeriksanya. Eneas, keluarkan semua penawar racun yang kita bawa!” Lux kembali berteriak lantang saat dirinya telah terbang di sekitar luka yang ada di lengannya Haruki.


“Bagaimana dia bisa seperti ini? Maksudku, tubuh Haruki sudah kebal terhadap racun,” kali ini Izumi bersuara dengan suara yang bergetar terdengar, “Haruki sudah banyak mengonsumsi racun akhir-akhir ini. Sekuat apa pun dia … Dia tetap akan roboh,” ucap Lux menimpali perkataan Izumi.


“Yang perlu kalian lakukan sekarang, hanyalah berdoa … Berharap, agar tak terjadi apa pun padanya,” sambung Lux kembali terdengar di telinga.