Fake Princess

Fake Princess
Chapter CXXIX


Kulirik ia yang berjalan mendekati salah satu kursi lalu menariknya, duduk ia di sebelah laki-laki yang berjalan bersamanya tadi...


"Apa kau tahu berapa lama waktu yang kami habiskan untuk sampai ke sini, setidaknya jangan abaikan Adikku," ucap laki-laki yang duduk berseberangan dengan kami, kualihkan pandanganku padanya yang tampak melirik tajam ke arah Zeki.


Beranjak Zeki berdiri seraya berjalan dan duduk ia di samping perempuan yang datang bersama laki-laki tadi. Kutatap perempuan tersebut yang tampak malu-malu duduk di sampingnya...


Kualihkan pandanganku kembali pada sekumpulan laki-laki yang berjalan mendekati kami, duduk laki-laki tadi di kursi yang ada di sekeliling kami...


"Semuanya telah berkumpul, perkenalkan saya Viscount Okan. Saya sendiri yang akan memimpin langsung pertemuan ini," ucap laki-laki yang berjalan berdampingan bersama Zeki sebelumnya.


"Sebelum pertemuan ini kita mulai, saya ingin kita semua yang ada di sini memperkenalkan diri masing-masing terlebih dahulu," ucap laki-laki itu lagi sembari mengalihkan pandangannya menatap satu persatu mereka yang duduk di depan meja panjang tersebut.


"Sebelumnya, silakan," ungkapnya lagi seraya mengangkat telapak tangannya ke arah Izumi.


"Perkenalkan, saya Savon. Perwakilan langsung dari Kerajaan Paloma, dan mereka yang ada di belakangku tidak lain tidak bukan ialah pengawal dan penasehat pribadiku," ucap Izumi berdiri lalu duduk kembali.


"Kenapa kalian semua mengenakan penutup kepala di dalam ruangan? Sangat aneh," ungkap seorang laki-laki yang duduk berseberangan dengan Izumi.


"Seluruh wajah kami hangus terbakar, apa kau ingin melihatnya langsung? Pastikan kau tidak muntah di hadapanku ketika melihatnya," tukas Izumi membalas perkataannya.


"Tidak, terima kasih. Aku menarik ucapanku kembali," ucap laki-laki tadi mengalihkan pandangannya seraya diarahkannya telapak tangannya ke depan.


"Selanjutnya," ucap Viscount Okan seraya mengalihkan pandangannya pada laki-laki yang duduk di samping Izumi.


Satu persatu dari mereka memperkenalkan diri, aku tidak mengingat satupun dari nama-nama yang mereka sebutkan. Kenapa ini? Apa yang salah padaku sekarang?


"Khang Hayyu, Pangeran pertama dari Kerajaan Vui," ucap laki-laki yang bersama perempuan tadi, melirik aku ke arahnya yang masih terduduk dengan kedua lengan disilangkannya ke dada.


"Khang Hue, Putri pertama dari Kerajaan Vui. Tunangan dari Pangeran Zeki Bechir," ucap perempuan tadi seraya menunduk malu.


"Zeki Bechir, Kapten sekaligus Pangeran keempat dari Kerajaan Yadgar," balas Zeki menimpali perkataannya.


Kutundukkan kepalaku, kugigit bibirku dengan sangat kuat seraya kedua telapak tanganku menggenggam celana cokelat yang aku kenakan.


"Sachi," terdengar bisikan pelan dari Lux di sebelah telingaku.


Bukankah itu wajar? Kau sudah mati Sachi, jadi wajar saja ia akan ditunangkan dengan perempuan yang lain... Tapi tetap saja...


Kurasakan sesuatu menggenggam kuat telapak tangan kananku, kualihkan pandanganku pada telapak tangan Izumi yang menggenggam tanganku tadi...


Kuangkat telapak tangan kiriku seraya kutarik semakin ke depan penutup kepala yang aku kenakan. Kutarik napasku dalam-dalam seraya kuembuskan kembali sembari kuangkat kepalaku menatap lurus ke depan.


Tubuhku terhentak oleh sesuatu yang menggenggam telapak tanganku, kuarahkan kepalaku menatap Izumi yang juga mengarahkan wajah tak terlihatnya ke arahku...


Melirik aku ke arah Haruki yang telah berada di hadapanku, diraih dan digenggamnya telapak tanganku yang lain seraya ditariknya aku untuk berjalan mengikutinya.


Haruki menarikku berjalan melewati mereka semua satu-persatu, bahkan Izumi dan Eneas pun ditinggalkannya di belakang. Kurasakan genggaman tangannya yang semakin kuat dari sebelumnya, berjalan kami berdua kembali melewati terowongan tanah seperti sebelumnya...


Dibukanya dengan sangat kasar pintu yang menghubungkan rumah kayu dan terowongan tadi oleh Haruki, kembali ditariknya tanganku mendekati pintu yang lainnya...


Keluar kami dari dalam rumah, para Kesatria yang berkumpul di depan rumah tampak memperhatikan kami berdua dengan seksama. Haruki membelokkan pandangannya ke arah kuda-kuda yang diikatkan rapi di pohon...


Melangkah kami berdua mendekati kuda-kuda tersebut, dilepaskannya genggaman yang ia lakukan seraya berjalan ia mendekati kuda miliknya. Dibukanya tali kekang kuda yang terikat di salah satu pohon, naik ia ke atas kuda lalu diarahkannya kuda tersebut berjalan mendekatiku...


"Naiklah!" ucapnya seraya menatap lurus ke depan.


"Tapi bagaimana dengan kudaku?"


"Jika aku katakan naik, naik! Apa kau pikir seorang Kakak akan berdiam diri melihat Adiknya terluka!" teriak Haruki menatapku.


"Eh? Tapi aku baik-baik saja, aku tidak terluka," ungkapku balas menatapnya.


"Naik! Serahkan kudamu pada Izumi, aku tidak ingin mengulang mengatakannya Sachi," ucap Haruki kembali dengan nada pelan bercampur ancaman.


Melangkah aku mendekatinya seraya kuraih telapak tangannya yang ia arahkan padaku, kugerakkan kakiku menaiki kuda dan duduk di belakangnya...


Kuda yang ia tunggangi berbalik dan berlari cepat, kupeluk dengan erat pinggang Kakakku itu seraya kubenamkan wajahku di punggungnya...


Kuda tersebut berjalan perlahan dan semakin perlahan hingga berhenti bergerak sama sekali. Aku masih memeluk Haruki tanpa sedikitpun suara yang keluar dari bibirku, begitupun dengan dirinya yang juga ikut diam tanpa suara...


Kurasakan angin menyentuh penutup kepala yang aku kenakan, semakin angin tersebut menyentuh semakin dalam kubenamkan kepalaku di punggungnya Haruki...


"Sa-chan," ucapnya pelan, ingin aku menjawabnya tapi entah kenapa lidahku sendiri terasa kelu.


"Apa kau mendengarkan semua yang dibahas dalam pertemuan?" ucapnya lagi, kujawab pertanyaannya dengan gelengan pelan dari kepalaku di punggungnya.


"Besok kita akan mengelilingi Kerajaan Yadgar, apa kau bisa melakukannya?"


"Aku tidak ingin kau memaksakan diri," ungkapnya lagi padaku.


"Apa dengan begitu kita dapat segera pergi dari Kerajaan ini?" ungkapku pelan.


"Tentu, ini tugas terakhir kita untuk Kerajaan Paloma."


"Kalau begitu, aku akan melakukannya. Aku baik-baik saja, kau tidak perlu mengkhawatirkanku, nii-chan," ucapku padanya dengan suara bergetar.