
Aku membuka pintu kamar saat suara ketukan terdengar dari luar, “Julissa?” ucapku saat kutatap dia yang telah berdiri di depan pintu kamar.
“Kak Haruki, memintaku untuk menjemputmu.”
Aku sedikit melirik ke kanan sebelum menggaruk ujung alis sebelah kiri, “aku mengerti,” ungkapku berjalan keluar kamar melewatinya.
Aku dan Julissa berjalan berdampingan, kami berdua … Sama-sama tidak mengeluarkan suara apa pun, hanya langkah kaki kami berdua saja yang terdengar di sepanjang lorong, “apa kau, baik-baik saja?”
Aku menoleh ke arah Julissa, lama kutatap wajahnya itu sebelum tersenyum kecil, “aku baik-baik saja. Mungkin kakakku benar, ini hanya karena aku kelelahan saja,” ungkapku dengan kembali membuang pandangan ke depan.
Aku mengepalkan dengan kuat kedua tanganku diikuti helaan napas yang keluar. Sebenarnya ada apa ini? Apa Ayahku benar baik-baik saja? Ya Tuhan, tolong hilangkan perasaan tidak menyenangkan ini.
Aku mengembuskan napas saat kedua kakiku semakin mendekati ruang makan, dengan perlahan … Aku dan Julissa memasuki ruangan tersebut yang pintunya memang telah terbuka lebar. Aku melemparkan pandangan ke arah mereka yang telah duduk di beberapa kursi yang ada di dalam ruangan itu, ikut turut Akash dan Kabhir tengah berdiri di samping Zeki sedangkan Amithi dan juga Chandini tengah berdiri di dekat salah satu kursi kosong, mungkin kursi tersebut adalah kursi yang diduduki Julissa sebelumnya.
Aku melangkah mendekati kursi yang ada di samping Izumi, aku menduduki kursi tadi saat Izumi menarik kursi tersebut sehingga bergerak sedikit mundur dari meja makan. “Apa kau baik-baik saja?” tanyanya menoleh ke arahku saat aku meraih sebuah sapu tangan yang ada di atas meja.
“Aku baik-baik saja, nii-chan,” jawabku tersenyum menatapnya sebelum kubuang kembali pandanganku ke atas meja.
“Silakan menikmati hidangannya!”
Aku melirik ke arah Zeki yang mengatakannya, aku segera meraih gelas berisi air lalu meminumnya saat dia masih melirik ke arahku, seakan ingin benar-benar memastikan keadaanku. “Aku ingin daging tersebut, bisakah kau mengambilkan daging itu untukku, nii-chan?” tukasku dengan kembali menatap Izumi.
Aku meraih dua lembar roti tipis yang aku letakkan di atas piring, kuraih lalu kuhamburkan potongan-potongan daging tipis bakar tadi ke atas lembaran roti tadi, kuambil beberapa lembar sayuran hijau ke atas hamburan potongan daging tersebut sebelum aku membungkus semuanya menggunakan lembaran roti tipis itu.
“Bagaimana keadaanmu?”
Aku menggigit lalu mengunyah roti tipis yang membungkus potongan daging itu sebelum kuarahkan pandangan mataku ke arah Haruki yang berbicara, “aku baik-baik saja, Haru-nii,” ungkapku dengan mengelap bagian bawah bibirku menggunakan ujung ibu jariku.
“Jika kau ingin, kita bisa pulang terlebih dahulu ke Sora,” sambungnya kembali dengan tatapan sedikit cemas yang terukir di wajahnya.
“Tidak perlu,” ungkapku dengan meletakkan makanan yang aku pegang sebelumnya kembali ke atas piring, “mungkin yang dikatakan kalian benar adanya. Mungkin juga karena aku mengalami banyak kejadian buruk akhir-akhir ini, yang membuatku menjadi seperti ini,” ungkapku kembali kepadanya.
“Lagi pun, kita harus ke Ardenis, bukan?”
“Kau, selalu saja memikirkan andai saja dan andai saja … Cobalah untuk hanya melihat masalah yang ada di hadapanmu saja, kau selalu saja memikirkan masalah yang belum tentu terjadi. Karena itulah, jika terjadi sesuatu, kami selalu menyembunyikan apa pun sebisa mungkin darimu.”
“Apa kata-katamu tidak terlalu kasar untuknya, Zeki?!”
Aku mengangkat tangan kananku menggenggam kuat lengan pakaian yang Izumi kenakan. “Kalian yang selalu bersamanya, mungkin tidak akan terlalu mengkhawatirkannya. Sedangkan aku, aku harus menipu diri sendiri, berusaha menyakinkan diri sendiri jika dia akan baik-baik saja di mana pun tempat yang kalian tuju. Aku mengatakannya, hanya untuk kebaikan dirinya sendiri,” ucap Zeki yang kembali menusuk telingaku.
Aku menarik napas lalu mengembuskannya kembali dengan sangat kuat. Kulirik Haruki, Julissa dan laki-laki bernama Kemal yang sedang duduk di hadapan menatapku, “aku mengerti. Terima kasih, karena selalu mengkhawatirkanku,” ungkapku sambil meraih kembali gelas berisi air lalu meminumnya.
Aku meletakkan gelas yang aku genggam ke atas meja ketika Haruki masih terpaku lama menatapku, “aku mengerti. Kita akan berangkat besok pagi, beristirahatlah setelah makan malam ini,” ucapku yang dengan cepat kubalas menggunakan anggukan kepala.
“Besok pagi?”
“Kami telah menyelesaikan semua urusan kami di sini, lagi pun … Alasan terbesarku untuk ke sini, hanya ingin memastikan keadaan Viscount Okan yang tiba-tiba menghilang, tidak memberi kabar apa pun kepadaku. Setelah mengetahui, apa yang sebenarnya terjadi padanya … Urusan kami telah selesai,” sambung Haruki menimpali perkataan Zeki.
“Aku mengerti,” timpal Zeki yang pelan terdengar.
___________.
Aku beranjak duduk di atas ranjang, kutundukkan kepalaku dengan kedua telapak tangan menutupi wajah, “aku tidak bisa tidur,” gerutuku dengan melemparkan kembali tubuhku ke atas ranjang.
“My Lord.”
Aku segera beranjak saat suara Kou terdengar melintas, dengan cepat aku menggerakkan tubuh turun dari atas ranjang. Kedua kakiku berlari kecil mendekati pintu lalu membukanya saat suara langkah kaki terdengar. Aku tertegun, tubuhku terpaku saat pintu kamarku itu kubuka, “apa ini?” tanyaku ketika pandangan mataku terlempar ke sekitar.
Lorong yang ada di depan kamarku, menghilang … Digantikan dengan sebuah hutan dengan padang rumput yang luas. Tanganku semakin mendingin, saat gagang pintu kamar yang sebelumnya aku genggam menghilang begitu saja. “Apa ini dimensi lain? Seperti aku, menemukan Kou dahulu?” bisikku gemetar dengan berdiri gontai saat pandangan mataku kubuang ke sekitar.
Kamar yang aku tempati, ikut menghilang … Semuanya tergantikan dengan hutan penuh semak berbunga dan pepohonan yang mengelilingi. “Kou, apa kau mendengarku?” ungkapku pelan dengan suara yang gemetar keluar.
“Kou?” Aku kembali mencoba memanggilnya, namun Kou … Sama sekali, tidak menjawab perkataanku.
“Naga kecil itu, belum sanggup untuk menembus sihir yang aku buat.”
Aku terpaku saat suara perempuan menggunakan bahasa Latin terdengar di telingaku. Aku mengatur napas terlebih dahulu sebelum aku berbalik ke arah sumber suara tadi. Aku meneguk air ludahku sendiri, saat sesosok bayangan berjalan mendekat dari balik pepohonan.
“Siapa kau?” tanyaku sembari berjalan mundur saat dia semakin melangkah maju mendekati.
“Namaku, Zea. Akulah, yang selama ini menjadi penjaga Ibumu,” ucapnya yang berjalan semakin mendekat, “apa kau ingat, bunga milik ibumu?” tukasnya kembali lagi kepadaku.
“Apa maksudmu?”
“Rusa kalian, telah lahir,” ucapnya dengan melirik ke belakang.
Aku ikut mengarahkan pandanganku ke arah yang ia tuju, “jika dia tidak melakukan kontrak jiwa kepadamu segera, dia akan mati … Karena para rusa seperti kami, hanya terlahir ketika kalian tumbuh dewasa,” ucapnya, kedua mataku sedikit membelalak saat rusa kecil yang berdiri di dekat pepohonan itu berjalan mendekati kami.
“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan.”
Rusa besar berbulu keemasan dengan tanduk emas yang ditumbuhi bunga itu menekukkan kakinya di hadapanku. Aku sedikit mundur ke belakang saat dia meletakkan kepalanya di dekat kakiku, “ibumu, apa kau … Tidak ingin menolongnya?” ucapnya lagi dengan masih meletakkan kepalanya di tanah.