
Kou mendaratkan tubuhnya di hutan yang ada di sudut Kerajaan, aku melompat turun dengan meraih telapak tangan Haruki saat tangannya mengarah kepadaku. Aku berbalik dengan melepaskan genggaman tanganku di tangan kakakku itu sembari kakiku berjalan mendekati kepala Kou lalu mengusap pelan kepalanya.
“Terima kasih,” ucapku pelan, Kou beranjak berdiri saat aku berjalan mundur mengikuti yang lainnya.
“Sa-chan.”
Aku menoleh ke belakang sambil melangkahkan kaki mengikutinya, sesekali aku melirik ke arah Kou yang terbang mengitari kami sebelum bayangannya benar-benar hilang di langit, “apa di sini sekarang sedang musim gugur?” gumamku pelan saat kedua mataku terjatuh pada dedaunan di pohon yang terlihat menguning.
“Sepertinya, walau udara di sekitar masih sedikit hangat,” balas Izumi yang menimpali gumaman yang aku lakukan sebelumnya.
Langkahku kembali berlanjut, sesekali aku mengusap kepala saat kurasakan ada sesuatu yang jatuh menyentuh rambutku. Aku menggigit kuat bibirku saat wangi masakan mengetuk hidung, kakiku terasa enggan melangkah … Karena wangi masakan yang aku maksudkan akan semakin jelas tercium beriringan dengan semakin jauhnya kami melangkah.
Aku melemparkan pandangan ke sekitar, ke arah orang-orang yang berlalu-lalang mengikuti riuhnya suara pedagang yang menjajakan barang-barang yang mereka jual. “Nii-chan, apa kita tidak memiliki sedikit pun uang?” tukasku dengan melirik ke punggung Haruki yang berjalan di depan.
“Tidak ada. Di tas milikku hanya berisi buku, di tas milikmu yang ada di Izumi berisi obat-obatan herbal, di tas Eneas berisikan racun. Apa kau ingin kita menjual mereka untuk mendapatkan uang?” Haruki membalas perkataanku menggunakan bahasa Jepang.
“Aku tergoda dengan semua makanan yang ada,” bisikku lirih menggunakan bahasa yang sama sembari meneguk air ludahku sendiri ketika pandanganku terlempar ke sekitar.
“Kenapa tidak menjual kalung berhargamu? Atau katakan kepada mereka, ‘aku calon Ratu, aku menginginkan makananmu. Jadi cepat berikan!’” Izumi yang berjalan di sampingku ikut menimpali pembicaraan kami.
“Apa mereka akan percaya?”
“Tentu saja tidak, mereka pasti akan menganggapmu perempuan yang tidak waras. Setidaknya kau akan mendapatkan dua kemungkinan, diusir oleh mereka atau diberikan makananan oleh mereka yang iba.”
Aku membuang pandangan ke samping dengan menggigit kuat bibirku, “kau, memang selalu berhasil membuatku kesal, nii-chan,” sindirku dengan tetap mengalihkan pandangan darinya.
Kami terus berjalan dan terus berjalan membelah kerumunan, jika dulu … Hanya beberapa orang perempuan saja yang bisa aku lihat berlalu-lalang di jalanan. Sekarang, tempat ini sungguh-sungguh berubah, setidaknya aku tidak lagi melihat pandangan tertekan di mata para perempuan yang ada.
“Nee-chan.”
Aku menoleh ke arah Eneas yang juga berjalan di sampingku, “ada apa, Eneas?” tanyaku kepadanya.
Eneas merogoh ke dalam tas yang ia bawa, “tanganmu, nee-chan,” ucapnya sambil tetap berjalan dengan pandangan yang masih terfokus pada bagian dalam tasnya.
“Tanganku?” gumamku dengan mengangkat telapak tangan ke arahnya.
Eneas mengangkat kembali wajahnya, dia mengarahkan telapak tangannya yang ia genggam ke arahku. Kedua mataku membelalak saat beberapa koin uang jatuh dari tangannya ke atas telapak tanganku, “aku baru tersadar jika aku menyimpan sisa uang saat membeli seorang anak kecil dari seorang pedagang. Jika nee-chan tak mengungkitnya, mungkin aku akan melupakannya,” ungkapnya dengan kembali membenarkan tas yang digantung di pundaknya.
Aku melirik ke arah koin-koin tadi, “ini sudah lebih dari cukup. Eneas, kau memang yang terbaik,” ungkapku sambil menggenggam kuat uang pemberian Eneas.
“Jadi tunggu apalagi? Jika ingin membeli sesuatu, belilah sekarang sebelum kita melanjutkan perjalanan!”
“Lakukan saja, kami akan menunggumu di sana selagi mencari informasi dari para penduduk. Belikan juga, makanan untuk kami,” ungkap Haruki yang menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arahku.
“Baiklah, Eneas! Temani kakakmu ini membeli makanan,” sambungku yang langsung menoleh ke arah Eneas.
Aku berjalan menjauhi mereka dengan menarik tangan Eneas. “Ini mengingatkan aku, saat Izu nii-san datang menghukum kita yang pergi diam-diam,” tukasnya yang pelan terdengar.
“Apa kau ingin mencicipi makanan itu kembali? Maksudku, usus domba?” ungkapku sambil melepaskan genggaman tanganku di pergelangan tangannya.
Eneas menggeleng kuat, “aku tidak tertarik. Aku hanya ingin makanan yang bisa dimakan oleh manusia biasa,” balasnya yang membuang pandangannya ke sekitar.
“Saya ingin membeli semuanya!”
Suara perempuan yang mengatakannya berhasil membuat langkah kakiku terhenti. “Berikan saya, semua pakaian indah yang Anda miliki,” tukas suara perempuan yang sama.
Aku melirik ke kiri, ke arah kerumunan perempuan menggunakan gaun indah beraneka warna, lengkap dengan hiasan kepala yang menghiasi rambut mereka, “apa mereka seorang bangsawan?” bisikku dengan sedikit mengernyitkan kening kepada mereka.
Pandangan mataku beralih ke arah laki-laki paruh baya yang dikelilingi perempuan tadi, laki-laki itu terlihat kelelahan melerai sindiran yang saling dilemparkan satu perempuan ke perempuan lainnya. “Jika saja Ayahku tidak mengatakan kalau Yang Mulia suka mengunjungi tempat ini, aku tidak akan membeli pakaian dari tempat seperti ini,” ungkap salah satu perempuan saat perempuan lainnya mendorong tubuhnya.
“Aku dengar jika Yang Mulia sedang mencari calon isteri, semenjak kabar itu tersebar … Aku selalu dipusingkan dengan tingkah mereka yang membuat onar dan tidak tahu malu itu.”
“Beruntung ada peraturan untuk melarang melakukan penyiksaan pada perempuan tanpa alasan yang jelas, jika tidak ada … Aku mungkin sudah membunuh mereka semua,” timpal suara laki-laki yang saling berbisik di dekatku.
Kedua mataku membelalak saat aku menangkap bayangan beberapa perempuan yang berjalan keluar dari dalam bangunan itu, kutatap salah seorang perempuan yang sudah tidak asing lagi di mataku, “bukankan dia, Putri Khang Hue?” aku bergumam dengan masih menatap perempuan tersebut yang berjalan menjauh dengan wajah tertunduk.
“Oi,” tukasku dengan melirik ke arah dua orang laki-laki yang berdiri di dekatku tadi.
Dua orang pemuda itu mengernyitkan keningnya membalas lirikanku, “jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi di sini?!” tanyaku tanpa mengindahkan tatapan mereka.
Salah seorang laki-laki berjalan mendekat, dia mengangkat kedua tangannya mencengkeram pundakku. Aku menarik napas dengan melirik ke arah kedua tangannya tadi, kuangkat kedua tanganku mendekati wajah laki-laki tadi dengan kedua jempolku bergerak menekan kuat kedua matanya. Laki-laki itu mengerang dengan sedikit tertunduk, erangannya semakin jelas terdengar saat aku menendang kuat pangkal pahanya menggunakan dengkul hingga dia terjatuh diikuti kedua tangannya yang bergerak memegang bagian tubuh sensitifnya itu.
“Kenapa kalian harus membuatku mengeluarkan tenaga? Hanya katakan saja, apa yang sebenarnya terjadi di sini?”
“Permisi.”
Aku melirik tajam ke samping saat suara perempuan halus terdengar, “ada apa?” tanyaku kepada seorang perempuan yang tertunduk dengan menggenggam kedua tangannya ke depan.
“Nona, ingin berbicara kepadamu,” ungkapnya kembali, kali ini lebih pelan terdengar dari sebelumnya.
Aku mengangkat pandangan ke arah seorang perempuan yang berdiri tak jauh di belakangnya, “Nona?” gumamku sambil membalas tatapan perempuan yang dipanggil Nona itu.