
"Selamat datang di Istana keduaku," ucap Aydin seraya merentangkan sebelah tangannya di hadapan sebuah kapal layar berukuran besar.
"Besar sekali," ungkap Eneas, menoleh aku ke arahnya yang duduk di belakang Izumi. Tampak terlihat tatapan kekaguman terpancar dari dua matanya.
"Bagaimana Putri? Apa kau langsung jatuh hati padaku setelah melihatnya?" ucap Aydin seraya kualihkan pandanganku padanya yang tersenyum ke arahku.
"Apa kau ingin Naga milikku menghancurkan kapal milikmu saat ini juga?"
"Kata-kata tajam darimu benar-benar mengikat jantungku," balasnya seraya mengangkat sebelah tangannya ke dada.
"Haru..."
"Dia sekutu kita, perlakukan dia dengan baik. Kau seorang Putri," ucap Haruki berjalan melewati, kurasakan tepukan yang ia lakukan di pundakku.
"Jangan membuang waktu Aydin, masih banyak sekali tempat yang harus kami kunjungi," sambungnya berjalan mendekati Aydin.
"Serahkan kuda kalian pada Anak buahku, biarkan mereka yang membawa kuda kalian ke atas Kapal," ucap Aydin, turun ia dari atas kuda yang ia tunggangi sebelumnya.
Kutatap mereka yang telah turun dari atas kuda masing-masing, ikut kugerakkan kakiku menuruni kuda yang aku tunggangi. Menoleh aku pada laki-laki berbadan besar yang telah berdiri di samping, kuletakkan tali kekang kuda yang aku genggam di telapak tangannya yang ia arahkan padaku.
Melangkah aku mendekati Haruki, berjalan kami semua di atas pelabuhan yang hanya terbuat dari susunan papan. Kugerakkan kakiku menaiki sehelai papan yang terbentang menghubungkan tempat kami berpijak dengan kapal besar yang ada di hadapan kami.
Angin laut bertiup hangat menembus jubah yang aku kenakan, kulangkahkan kakiku mendekati pinggir kapal seraya kutatap hamparan air laut yang membentang di hadapanku...
"Aku tidak menyangka kau secantik ini Putri, aku memang tidak salah memilihmu," terdengar suara laki-laki dari samping kanan, menoleh aku ke arah Aydin yang berdiri bersandar menatapku dengan kedua lengannya disilangkannya ke dada.
"Sudah kukatakan berulang-ulang, berhenti menggangguku," ungkapku berusaha meraih penutup kepala yang terlepas tertiup angin seraya memasangkannya kembali menutupi wajahku.
"Kau telah melihat kota yang aku pimpin bukan?"
"Aku melihatnya," balasku singkat tanpa menoleh ke arahnya.
"Bagaimana menurut kalian tentangnya?"
"Apa maksudmu?" Ucapku, kualihkan pandanganku menatapnya.
"Bukankah kondisi kota sepertiku yang sangat ingin kalian perempuan wujudkan," ungkapnya, berbalik ia seraya menyandarkan lengannya di sisi kapal.
"Maksudmu, rumor tentangmu yang berganti pasangan setiap malam?"
"Aku tidak pernah memaksa, mereka sendirilah yang ingin menghabiskan waktunya bersamaku."
"Menyingkirlah, kata-kata darimu membuat telingaku sakit," ucapku seraya mengangkat dan menggerakkan telapak tanganku ke arahnya.
"Tuan, semua persiapan telah selesai!"
"Angkat jangkar, turunkan layar! Kita berangkat!" Teriaknya seraya kembali membalikkan tubuhnya ke arah teriakan tadi.
Ikut berbalik aku menatapi puluhan orang yang bahu-membahu menurunkan layar kapal yang ada di hadapan kami. Sepuluh kain layar berukuran besar itu semakin lama semakin mengembang tertiup angin...
Kupandangi para laki-laki yang terlihat hilir-mudik berlari kesana-kemari mengikat tali-temali di sisi kapal. Suara gesekan rantai mengalihkan pandanganku, kutatap lima orang laki-laki yang tengah bahu-membahu menarik rantai dari dalam laut...
"Sachi, aku mencarimu..."
"Apa dia melakukan sesuatu padamu?" lanjut Izumi, berbalik aku menoleh ke arahnya yang berjalan mendekati.
"Tidak, tidak terjadi apa-apa. Apa terjadi sesuatu nii-chan?"
"Dan di mana Eneas?" sambungku padanya.
"Haruki merawatnya, dia tidak berhenti muntah sejak kapal ini berlayar," ucap Izumi seraya berdiri ia di sampingku.
"Apa kau baik-baik saja?" ucapnya kembali, diarahkannya telapak tangannya menyentuh kepalaku.
"Hanya sedikit kelelahan, membiarkan Kou berlama-lama di dunia manusia membuat tenagaku terkuras."
"Beristirahatlah," ungkapnya lagi padaku.
Terjatuh aku menabrak tubuh Izumi, kuarahkan telapak tanganku menggenggam pakaian yang ia kenakan. Kapal layar yang semula tenang tiba-tiba bergoyang ke kanan dan kiri dengan kuat...
"Apa makhluk itu muncul? Tapi ini belumlah sampai ke tengah," kualihkan pandanganku pada Aydin yang tampak menggerakkan kepalanya menatap bagian samping bawah kapal.
"Apa maksudmu?"
"Kabar yang aku dengar dari para anak buahku, makhluk raksasa itu hanya muncul di tengah laut," ucap Aydin menanggapi perkataan Izumi.
"Tuan! Kabar buruk, dek paling bawah berlubang, air masuk ke dalam kapal," terdengar suara laki-laki disertai embusan napas yang tak teratur, kualihkan pandanganku padanya yang menatap Aydin dengan tubuh basah kuyup dipenuhi air.
"Apa yang kalian tunggu, Bodoh! Apa kalian ingin kita semua mati tenggelam di sini, tutup lubangnya dan kuras semua air yang masuk!" Teriak Aydin pada laki-laki tadi, berbalik laki-laki tadi seraya berlari tanpa sepatah katapun.
"Apa yang terjadi?"
"Entahlah, tiba-tiba kapal goyang dan bagian bawah kapal mengalami kebocoran," ucap Izumi menanggapi perkataan Haruki yang berjalan mendekati kami.
"Daripada kalian menyusun kembali barang yang terjatuh, lebih baik... Ambil senjata kalian dan bersiap-siaplah jika ada serangan!" Teriak Haruki menatapi para awak kapal yang tengah merapikan beberapa barang yang menggelinding akibat goncangan tadi. Kutatap para awak kapal tadi yang segera menghentikan pekerjaan yang mereka lakukan, berbalik dan berjalan mereka semua mendekati sebuah pintu yang tak terlalu jauh dari tempat kami berdiri...
"Tuan."
"Ada apa Emre?" ucap Aydin sembari kualihkan pandanganku pada Emre yang berjalan mendekat dengan Erol di belakangnya, tampak terlihat dua buah pedang berada di genggamannya Emre.
"Pedangmu," ucapnya seraya mengarahkan sebuah pedang bersarung hitam ke arah Aydin, diraih dan digenggamnya pedang tadi oleh Aydin.
"Sachi, Izumi, ikuti aku. Ambil pedang dan juga panah kalian!" Teriak Haruki, kutatap ia yang telah berbalik dan berjalan menjauh.
Melangkah aku dan Izumi mengikuti langkah kakinya, kualihkan pandanganku pada awak kapal tadi yang telah menggenggam senjata di masing-masing tangan mereka. Kapak, pedang, tombak, bahkan panah melekat di jari-jemari mereka yang besar itu...
"Sachi, kau tidak melupakan apa yang aku perintahkan bukan?!"
"Aku mengingatnya nii-chan, serahkan semuanya padaku," ucapku, kembali kualihkan pandanganku menatap punggungnya yang telah terlebih dahulu melewati pintu.