Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXLI


“Aku menemukannya,” tukas suara Lux yang entah berasal dari mana.


Aku mengangkat kedua telapak tanganku ketika sosok Lux yang terbang semakin mendekati, “botol ramuan ini? Apa kau menemukan tas milikku?” Aku menatapnya saat Lux telah mendarat di telapak tanganku dengan sebuah botol yang hampir sama memiliki tinggi dengan tubuhnya.


“Apa itu bubuk racun yang dulu kita buat untuk mengeringkan tenggorokan?” Suara Eneas terdengar menimpali perkataan Lux.


“Racun apa?” Tanya Izumi ikut berbicara.


“Ketika Sachi diculik, dia pernah bercerita jika suaranya tiba-tiba menghilang. Karena itu, aku dan Eneas secara diam-diam membuat ramuan yang hampir sama. Kami pikir, tidak ada salahnya kami membuat ramuan racun yang sama, siapa tahu bukan? Kedepannya kita berniat untuk menculik seseorang.”


“Tapi aku tidak menyangka, jika ramuan yang susah dibuat itu akan dipakai untuk sesuatu yang tidak penting seperti ini,” sambung Lux lagi dengan mengarahkan pandangan kepada Eneas.


“Kau mengatakan jika ramuan ini bisa menutup mulut seseorang. Aku pikir, ini racun yang sangat mematikan ketika kau memberikannya. Karena itu, aku hampir tidak pernah menggunakannya,” ungkapku meraih botol keramik yang ia letakkan di atas telapak tanganku.


Aku melirik ke arah Izumi yang telah beranjak berdiri, dia meraih botol tadi ketika aku memberikan botol tersebut kepadanya. “Gunakan sedikit saja, Izumi! Sangatlah susah untuk menemukan tanamannya,” ungkap Lux ketika Izumi telah berjalan melewati kami dengan membawa botol tadi.


“Lux,” tukasku memanggilnya. Lux mengalihkan pandangannya padaku, “ada apa?” Sahutnya yang juga balas menatapku.


“Sangatlah susah untuk menemukan tanamannya. Katakan, di mana kalian menemukannya?”


“Kami membelinya di pasar nee-chan. Pasar yang kita diajak Haru-nii untuk bertemu temannya, Costa,” Lux menganggukkan kepalanya, seakan mengiyakan apa yang Eneas katakan.


“Apa kau berpikir, jika ramuan yang kami buat. Sama dengan yang dibuat oleh para penculik itu?”


Aku beranjak berdiri, “entahlah, pikiran itu tiba-tiba melintas begitu saja di kepalaku,” ucapku berbalik, menatapi Izumi yang menggendong tubuh laki-laki tersebut di pundaknya.


Izumi menghentikan langkahnya dengan sebelah tangannya mengarah padaku, “aku hanya mengambilnya sedikit,” ungkap Izumi saat dia meletakkan botol itu kembali di telapak tangan kananku yang telah terbuka sebelumnya.


Aku berbalik lalu turut melangkahkan kaki di belakangnya, “berikan botol itu kepadaku!” Tukas suara Haruki yang tiba-tiba mengetuk telinga.


Aku melirik ke arahnya yang telah berjalan di sampingku, kuletakkan botol berisi ramuan yang ada di tanganku itu padanya ketika telapak tangannya yang mengarah padaku itu bergerak. “Lux!” Lagi-lagi suaranya kembali terdengar, kali ini lebih tinggi dibanding sebelumnya.


Aku menatap ke arah Lux yang telah terbang di hadapannya, “bawa kembali botol ini. Letakkan botol ini kembali di tempat kau mengambilnya, pastikan … Tidak ada seorang pun yang melihatmu,” ungkap Haruki kepadanya.


“Aku … Membawa kembali botol berat ini,” tukas Lux yang terlihat seakan tak percaya dengan apa yang Haruki katakan.


“Kami berempat lari dari latihan, lalu kembali pulang secara bersamaan dengan membawa dia,” ungkap Haruki dengan melirik laki-laki yang ada di pundaknya Izumi, “dia yang tiba-tiba tidak bisa bergerak akan membuat para penduduk mencurigai kami melukainya. Jika mereka menemukan botol itu di sekitar sini, atau botol itu ada di salah satu di antara kami. Hubungan para penduduk dan Ayah akan terpecah,” sambung Haruki lagi kepada Lux.


Lux terbang mendekati botol tadi, “aku mengerti,” tukasnya yang memeluk erat botol itu lalu dengan perlahan terbang menjauhi kami.


“Izumi! Eneas!”


Izumi memperlambat langkah kakinya, “ada apa?” Tanyanya dengan menoleh ke arah Haruki yang berjalan di sampingku.


“Usap sedikit lumpur yang menempel di tubuhnya ke wajah dan lengan kalian!”


“Ikuti saja perkataanku. Bagaimana pun juga, kita tidak boleh meninggalkan kesan buruk untuk mereka. Dan juga, lakukan ini jika nanti kita ditanyai oleh pemimpin suku,” tukas Haruki lagi yang membuat kami berempat menghentikan langkah kaki.


_________________


Kami berjalan beriringan, semakin lama kami melangkah, semakin jelas juga perkampungan itu terlihat. Teriakan seorang laki-laki menggunakan bahasa yang tak aku mengerti, membuat langkah kaki kami berempat terhenti.


“Dari mana saja kalian?!”


Aku mengangkat kepalaku, lama pandangan mataku itu terjatuh pada segerombolan pasukan berkuda yang berlari mendekati kami. Semakin cepat pasukan itu berlari mendekat, semakin tebal dan tinggi juga asap keruh dari tanah yang terbang di sekitar mereka.


“Dari mana saja kalian?!” Suara sang Kakek langsung terasa memekakkan telinga ketika sosok berserta kuda yang ia tunggangi telah berhenti di hadapan kami.


Aku melirik ke arah Qadan yang menatapku tajam dari atas kuda yang ia tunggangi, aku kembali membuang pandangan mataku darinya ketika suara Haruki terdengar. “Maafkan kami Kakek. Tapi, karena aku terlalu mengkhawatirkan Adik-adikku. Jadi, aku mencari mereka,” ungkap Haruki dengan membungkukkan tubuh ke arahnya.


“Begitu pun denganku Kakek, terlebih lagi Sachi yang seringkali hampir kehilangan nyawanya tiap kali kami melepaskan pandangan darinya. Sebagai Kakak, itu sangatlah membuatku tidak tenang. Jadi, maafkan aku, Kakek,” sambung Izumi menimpali perkataan Haruki dengan ikut membungkukkan tubuhnya.


Kenapa semuanya dilimpahkan padaku?


“Kakek,” ungkapku pelan, aku menggenggam kuat kedua tanganku ke depan dengan kepalaku yang tertunduk, “mungkin aku terlihat baik-baik saja dari luar. Tapi aku, sungguh tidak bisa berlama-lama jauh dari saudaraku. Jadi, ampuni sikapku yang masih kekanakan ini,” sambungku lagi dengan ikut membungkukkan tubuh ke arahnya.


“Jangan menghukum kedua Kakakku, jika ingin menghukum seseorang. Hukumlah aku, yang selalu membuat saudara-saudaraku khawatir,” ungkapku lagi dengan tetap menunduk.


“Lalu, bagaimana kalian akan menjelaskan tentang Chinua yang ada di pundaknya Izumi,” aku mengangkat kembali kepalaku menatapnya yang telah mengarahkan pandangan melirik ke arah Eneas.


“Saat dia melatihku Kakek. Dia tiba-tiba saja telah terjatuh di lumpur, aku berusaha menolongnya … Tapi, tubuh kecilku tidak bisa mengangkatnya. Jadi aku berusaha mencari bantuan, beruntung … Aku bertemu dengan ketiga Kakakku,” ucap Eneas mengikuti perkataan yang Haruki ajarkan kepadanya sebelumnya.


“Aku dengar jika kau sangatlah pandai meramu racun, apa kau mencoba menipuku?”


“Bagaimana bisa kau mengatakan kata-kata tersebut pada Adikku, Kakek? Apa Kakek menuduhnya telah meracuni Chinua?” Tukas Izumi memotong perkataannya.


“Aku hanya membawa pakaian yang melekat di tubuhku untuk latihan. Bagaimana mungkin aku melakukannya, Kakek … Racun tidak bisa dibuat secepat mengedipkan mata,” ungkap Eneas menimpali perkataan Izumi.


“Baiklah. Bagaimana menurutmu, Chinua?”


“Dia, entah kenapa … Tidak bisa berbicara.”


“Apa yang kau katakan?!” Kakek itu menanggapi perkataan Izumi dengan meninggikan suaranya.


“Apa kami semua harus mengetahui semua hal, Kakek? Kami bukanlah Deus, yang dapat mengetahui … Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Kami pun bukanlah tabib yang dapat mengetahui, apa penyebab dia seperti itu.”


Kakek itu menundukkan kepalanya diikuti sebelah tangan yang bergerak memijat kepalanya sendiri, “Qadan, bawa Chinua ke tendanya! Lalu, pinta Tabib untuk memeriksa apa yang terjadi padanya!” Perintahnya lagi dengan masih tertunduk di atas kudanya.


Laki-laki bernama Qadan itu menunggangi kudanya di hadapan Izumi, Eneas maju beberapa langkah, membantu Izumi meletakkan tubuh laki-laki itu di atas kuda. “Dan untuk kalian berempat, bersihkan tubuh lalu beristirahatlah,” ucap Kakek itu sebelum kuda yang ia tunggangi berbalik, melangkahkan kakinya menjauh.