
“Nii-chan, apa aku membangunkanmu?” Tanyaku kepada Haruki yang membuka kedua matanya perlahan.
“Kau sudah sadar?” Dia balik bertanya kepadaku, kubalas perkataannya tersebut dengan anggukan pelan keplaku. “Di mana Izumi?” Haruki kembali bertanya, digerakannya kepalanya menatap sekitar kamar.
“Izu nii-chan sedang ke dapur, dia mengambilkan air untukku,” ucapku membalas perkataannya, "jangan terlalu banyak bergerak,” ucap Haruki kepadaku saat aku masih mencoba untuk beranjak duduk.
“Tapi dadaku terasa sesak berlama-lama menelungkup seperti ini,” ucapku kepadanya, “bertahanlah, jika kau tidak ingin luka di punggungmu itu bertambah parah,” Haruki beranjak berdiri lalu menggerakan telapak tangannya menepuk-nepuk pelan kepalaku.
______________________
Seminggu berlalu, punggungku telah sedikit membaik dibanding sebelumnya. Semuanya berkat Lux, Luana dan juga Sasithorn yang sungguh-sungguh merawatku, “Tsu nii-chan,” ucapku sedikit melirik ke arahnya yang tengah berjalan di belakangku.
“Jangan menyalahkan dirimu sendiri lagi, ini bukan kesalahanmu” ucapku kembali padanya, masih terdengar langkah kakinya berjalan di belakangku.
“Kau, tidak akan terluka seperti ini, jika aku tidak meninggalkanmu sendirian, Putri,” ucapnya terdengar pelan di telingaku.
“Akulah yang tidak berhati-hati, lagi pun … Cepatlah, aku lapar,” ucapku mempercepat langkah kaki meninggalkannya.
Kedua kakiku melangkah cepat mendekati ruang makan, langkah kakiku terhenti sejenak saat kutatap mereka semua yang telah duduk ataupun berdiri di posisi mereka masing-masing, “ayah,” ucapku berjalan mendekatinya, kupeluk tubuhnya lalu kucium pipinya saat aku telah berdiri di sampingnya.
“Apa kau tidur nyenyak? Bagaimana punggungmu?” Tanyanya berulang kali padaku, “aku baik-baik saja Ayah, punggungku juga sudah mulai membaik. Terima kasih,” ucapku mengalihkan pandangan pada Sasithorn dan juga Luana yang tengah duduk berseberangan dengan Haruki dan juga Izumi.
“Sukurlah jika kau semakin sehat,” ucap Ayahku, aku berbalik lalu tersenyum menatapnya.
“Karena semuanya telah berkumpul, Haruki dan juga Izumi … Kapan kalian berdua akan menikah?” Tanya Ayahku yang disambut sedikit semburan air dari mulut Izumi, Izumi tertunduk dengan memukul-mukul kuat dadanya saat dia tak berhenti batuk karenanya.
“Setelah semuanya selesai Ayah,” ucap Haruki, dia mengangkat cangkir berisi kopi di hadapannya lalu menyeruputnya pelan sebelum dia meletakan cangkir tersebut kembali ke atas meja.
“Aku pun, akan seperti itu Ayah,” ucap Izumi menimpali perkataan Haruki.
“Apa kalian berdua tidak keberatan?” Kali ini Ayahku mengalihkan pandangan matanya menatap Luana dan juga Sasithorn bergantian.
“Kami telah mendiskusikannya, jadi mereka tidak akan keberatan,” ucap Haruki lagi yang disambut anggukan kepala dari Luana dan juga Sasithorn.
“Baiklah, jika kalian memang telah memikirnya. Dan kau, bagaimana denganmu dan juga Zeki?” Ayahku mengalihkan pandangan matanya ke padaku.
“Aku dan Zeki juga telah membicarakannya, dia akan melamarku setelah semuanya berakhir,” ucapku dengan sedikit bergumam kepada Ayahku.
“Dan kau akan langsung menjadi Ratu setelah menikah dengannya nanti,” ucap Ayahku, “itu adalah hadiah untuk penantianku setelah sekian tahun menemaninya, Ayah,” aku kembali tersenyum ke padanya.
“Lalu, Eneas, bagaimana denganmu?”
“Aku?” Eneas balik bertanya, Ayahku mengangguk menjawab perkataannya tersebut.
“Panggil aku Ayah seperti yang lainnya, aku telah menganggapmu seperti anakku sendiri, Takaoka Eneas,” ucap Ayahku yang membuat Eneas sempat tertegun sejenak.
“Jadi, jika kau nanti bertemu gadis pilihanmu, beritahukan aku. Aku akan langsung melamarkannya langsung untukmu,” ucap Ayahku yang tersenyum menatapnya.
“Usiaku baru sepuluh tahun, tapi entah kenapa … Aku sangat merasa bahagia mendengarnya, Ayah,” ucap Eneas yang sempat terhenti, di tertunduk yang disambut dengan tepukan pelan tangan Izumi di punggungnya.
“Jadi dia Cia, anak yang kalian temukan?” Ayahku kembali mengarahkan pandangannya menatap Cia yang sedang duduk di tengah-tengah Luana dan juga Sasithorn.
“Kami sengaja membawanya selama perjalanan, jadi jika kami berhasil menemukan tempat tinggalnya, kami dapat dengan langsung memberikannya kembali kepada orang tuanya,” ucap Haruki menggigit potongan daging yang ada di garpunya.
“Aku mengerti,” ucap Ayahku seraya menyeruput secangkir kopi yang ada di tangannya.
“Aku, akan menyerahkan Kerajaan ini di bawah pengawasan Sanjiv dan juga Gritav, dengan Arata yang akan ikut menjaga di balik bayangan. Dan kalian berdua, akan ikut aku pulang ke Kerajaan Sora,” ucap Ayahku kepada Luana dan juga Saithorn.
“Kami berdua?” Luana balik bertanya yang disambut dengan anggukan pelan kepala Ayahku.
“Kalian akan lebih aman di bawah pengawasanku langsung, jadi aku akan membawa kalian pulang ke Kerajaan Sora bersamaku,” ucap Ayahku kembali kepada mereka.
_________________
Aku berjalan menyusuri lorong Istana dengan Tsubaru yang ikut berjalan di belakangku, aku berbelok ke arah Taman yang ada di samping lorong tersebut. Kugerakan kedua kakiku berhenti di tengah lapangan seraya kuangkat kepalaku ke atas menatapi langit. “Kou, datanglah! Aku memerlukan bantuanmu,” ucapku pelan menatap langit yang telah muncul serpihan-serpihan es di sekitarnya.
Kutatap tubuh Kou yang terbang memutar di atas kami sebelum akhirnya dia menapakan kakinya di atas tanah, “aku memerlukan darahmu, Kou. Aku harus segera menyembuhkan punggungku agar bisa cepat melanjutkan perjalanan,” ucapku kepadanya, Kou menggerakan kepalanya ke samping menggigit tubuh sebelah kanannya.
Aku melangkahkan kaki mendekatinya, kuarahkan bibirku mendekati luka yang ada di punggungnya itu. Rasa dingin dan amis memenuhi rongga mulutku saat kugerakan bibirku menghisap darahnya yang mengalir di luka yang ia buat tadi. Aku tertunduk dengan mencengkeram sedikit tubuhnya, kugigit kuat bibirku saat kurasakan tulang-tulang yang ada di punggungku bergeser perlahan.
Kugerakan kedua tanganku mengusap keringat yang menetes, “Putri,” ucap Tsubaru di belakangku.
“Aku baik-baik saja Tsubaru, aku benar-benar sudah sembuh,” ucapku kepadanya.
Kutatap luka yang ada di tubuh Kou tadi perlahan menutup dengan sendirinya, kugerakan telapak tanganku mengusap kepalanya yang bergerak mendekati tubuhku, “bagaimana keadaanmu?” Tanyaku kepadanya.
“Aku, baik-baik saja My Lord. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” ucapnya semakin menggerakan kepalanya bersandar di pundakku.
“Bawa aku terbang, aku ingin melihat keadaan sekitar,” ucapku kembali padanya.
“Sesuai perintah darimu, My Lord,” Kou mengangkat kepalanya lalu berjalan mundur ke belakang.
Aku melangkahkan kakiku mendekatinya saat Kou telah menurunkan tubuhnya, kugerakan tubuhku memanjat tubuhnya, “Tsu nii-chan, aku ingin berkeliling sebentar bersama Kou,” ucapku menatapnya, Tsubaru menganggukan kepalanya membalas tatapanku.
Kupeluk kuat leher Kou saat dia kembali menggerakan tubuhnya beranjak berdiri, Kou kembali merendahkan sedikit kakinya, dengan satu kali kepakan kuat sayapnya … Dia membawaku terbang mendekati langit.