Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCLXXXIII


Aku mengangkat kepalaku ke atas menatap langit, sesekali kedua mataku berkedip tatkala sinar matahari sedikit menjatuhinya, “apakah semuanya sudah dikumpulkan?!” Teriakan seorang perempuan mengetuk telingaku.


Aku menoleh ke belakang saat kurasakan sesuatu menyentuh pundakku, “cepatlah, mereka menunggu kita,” ucap perempuan pemakai topeng burung yang dulu membawa nampan berisi kulit hewan untuk pakaian kami.


Aku menunduk meraih tumpukan kayu bakar yang ada di dekat kaki, “Irin, tunggu aku!” Teriakku pada perempuan tadi yang telah berjalan mendahuluiku dengan tumpukan kayu bakar di tangannya.


Kedua kakiku melangkah cepat mendekatinya, “kalau kita tidak cepat, para tetua pasti akan memarahi kita semua,” ucapnya dengan tetap mengarahkan kepalanya menatap lurus ke depan.


Sudah hampir lima bulan kami tinggal di sini, sayangnya sampai sekarang pun aku tidak mengetahui, apa yang istimewa dari desa ini? Bagiku, desa ini terlihat sama dengan beberapa desa yang pernah aku kunjungi, yang membedakannya mungkin peran masing-masing penduduk desa sesuai topeng yang mereka dapatkan.


Serigala, mereka yang memakai topeng serigala layaknya seorang Kesatria bagi penduduk desa, mereka yang memakai topeng serigala akan menjaga seluruh keamanan para penduduk desa dari serangan yang berasal dari luar, seperti yang didapatkan kakakku Izumi.


Rusa, layaknya seekor rusa, mereka yang memakai topeng ini akan menjaga perbatasan, memata-matai musuh yang diperkirakan akan mendekat atau membuat jebakan untuk mencegah musuh mendekat. Mereka akan segera memberi kabar kepada para serigala jika ada pasukan musuh yang lolos dari semua jebakan yang mereka buat, mungkin bisa dikatakan seperti saat kami baru pertama kali datang ke sini.


Kelinci, topeng kelinci hanya dipakai oleh mereka yang masih kanak-kanak, kalian benar … Cia mendapatkan topeng kelinci dari mereka. Sedangkan burung … Mereka yang memakai topeng burung ditugaskan untuk merangkul semua penduduk, mereka yang memakainya biasanya mereka yang tidak terlalu pandai bertarung. Aku bisa mengerti alasan aku, Izumi, Eneas dan juga Cia mendapatkan topeng mereka … Tapi Haruki? Sepertinya nenek itu memberikan topeng yang salah untuknya.


“Ada apa?” Tanya Irin saat dia sadar aku menatapinya, “aku sangat penasaran akan wajahmu,” ucapku singkat, Irin kembali membuang pandangan matanya dariku, “topeng hanya dapat dibuka saat malam pertama pernikahan. Bahkan aku sendiri pun tidak mengetahui bagaimana wajahku sendiri,” jawabnya singkat kepadaku.


“Aku penasaran sekali,” ucapku mengadahkan kepala ke atas, “jika kau sangat penasaran, maka berdo’alah agar Irin cepat menikah,” suara perempuan yang berjalan di depan kami ikut menimpali perkataanku.


“Mereka benar, cepatlah menikah Irin agar aku dapat melihat wajahmu,” ucapku menoleh menatapnya, “tapi aku masih sangatlah muda dibandingkan dua kakak yang ada di depan,” kedua perempuan yang berjalan di depan kami menghentikan langkah kaki mereka lalu berbalik ke belakang menatap kami, “aku akan segera menikah lalu melepaskan topeng ini, kau lihat saja,” ucap salah satu dari mereka sebelum mereka kembali berbalik melangkah meninggalkan kami.


Menikah? Usiaku sekarang telah menginjak enam belas tahun, jika menuruti peraturan … Aku dan Zeki akan menikah tahun depan. Bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia baik-baik saja? Sudah lama sekali rasanya aku tidak menerima surat darinya.


“Sachi, apa yang kau lakukan? Cepatlah!” Suara Irin kembali terdengar, kugerakkan kepalaku yang sebelumnya menatap langit beralih menatapnya, “aku datang,” ucapku berjalan cepat menyusulnya yang masih menungguku.


Aku berjalan mendekati Irin yang telah meletakkan kayu bakar yang ia bawa ke tumpukan kayu-kayu bakar yang telah dibawa oleh yang lain untuk digunakan. Ikut kuletakkan kayu bakar yang aku bawa tadi ke tumpukan kayu bakar yang ada di hadapanku itu, aku berbalik melangkah meninggalkan tumpukan kayu bakar tadi dengan sesekali jari-jemariku bergerak menggaruk kedua lenganku yang sedikit gatal oleh kayu-kayu tadi.


Langkah kakiku terhenti saat kutatap nenek Sabra telah duduk di depan tiga orang lelaki yang masing-masing memakai topeng burung, serigala dan juga rusa. Aku berjalan mendekati mereka saat nenek Sabra melambaikan tangannya ke arahku saat kedua matanya tak sengaja terjatuh ke arahku.


“Pulang?” Suara Haruki yang bersembunyi di balik topeng burung terdengar di telinga, “benar, pulanglah,” ucap nenek Sabra sekali lagi.


“Apa kami melakukan kesalahan? Kenapa tiba-tiba sekali?” Kali ini suara Izumi ikut terdengar, saat laki-laki yang memakai topeng serigala itu sedikit bergerak maju ke depan.


“Pulanglah ke rumah. Apa kalian ingin menentang perkataan yang aku katakan?!” Nenek Sabra meninggikan suaranya, aku melirik ke arah penduduk sekitar yang telah menghentikan semua kegiatan mereka.


“Pulang ke rumah? Apa sebenarnya yang kau maksudkan ne...”


“Izumi!” Bentakkan Haruki membuat Izumi menghentikan perkataannya, “kami mengerti. Kami akan pulang saat ini juga,” ucap Haruki membungkukkan tubuhnya sebelum dia berbalik melangkah meninggalkan kami.


Izumi dan juga Eneas ikut turut membungkukkan tubuh mereka sebelum mereka mengikuti langkah kaki Haruki yang telah berjalan menjauh, “kemarilah Sachi,” suara nenek Sabra kembali terdengar saat aku berniat melangkah meninggalkannya.


Kedua kakiku berjalan mendekatinya, aku duduk di samping kakinya saat dia kembali melambaikan tangannya padaku, “jangan alihkan perhatianmu dari salah satu kakakmu. Apa pun yang terjadi, kau harus bersama mereka,” ucap nenek Sabra sebelum dia beranjak berdiri lalu berjalan meninggalkan kursinya.


“Jangan alihkan perhatianku dari salah satu kakakku?” Gumamku pelan dengan sedikit menggesekkan ibu jari dan jari telunjukku bersamaan, “aku benar-benar tidak mengerti apa yang ia maksudkan,” sambungku kembali bergumam sebelum beranjak pergi meninggalkan kursi milik nenek Sabra.


“Cia!” Aku berteriak memanggil namanya ke arah kerumunan anak-anak yang tengah berkumpul bermain, salah seorang anak yang memakai topeng kelinci beranjak berdiri lalu berlari ke arahku, “kita harus pergi dari sini,” ucapku padanya, kuraih lalu kugenggam pergelangan tangannya.


“Pergi?” Tanyanya pelan dengan mengangkat kepalanya ke arahku, aku mengangguk membalas tatapannya itu.


Kami melangkah beriringan mendekati salah satu rumah panggung, dengan perlahan aku dan Cia menaiki tangga yang ada di luar rumah, “Sachi, di mana kau meletakkan pakaian milik kami?” Suara Izumi terdengar saat kami berdua masuk ke dalam rumah.


“Aku akan mengambilkannya, tunggulah di sini nii-chan,” ucapku berjalan melewatinya dengan Cia yang berjalan di sampingku.


Aku meraih tas kulit besar yang sebelumnya aku simpan di dalam kamar, kuambil pakaianku dan pakaian milik Cia yang ada di dalam tas sebelum kuberikan tas tersebut kepada Izumi yang masih menunggu di luar, “apa kau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Izumi saat dia menerima tas yang aku berikan padanya.


Aku menggelengkan kepala menatapnya, “aku tidak tahu nii-chan, hanya saja … Nenek Sabra memintaku untuk melakukan sesuatu,” ucapku menatap Izumi yang telah melepaskan topeng kayu di wajahnya itu.