Fake Princess

Fake Princess
Chapter CXI


"Jadi, apa yang akan kita lakukan disini?" ucap Izumi, yang juga ikut menatap dinding tinggi yang ada di hadapan kami.


"Kita akan mengendap-endap ke dalam Istana apapun yang terjadi," ungkap Haruki tanpa menoleh.


"Tapi bagaimana caranya?"


"Lux akan terbang di depan kita untuk memperhatikan gerak-gerik musuh, dan tugasmu Izumi, perhatikan isyarat tanda yang diberikan Lux."


"Mudah saja kau mengatakannya, tapi bagaimana caranya kita memanjat dinding ini?"


"Sa-chan," ucap Haruki berbalik menatapku.


"Kou, kami membutuhkan bantuanmu lagi. Kumohon, datanglah," ucapku yang diikuti angin dingin berembus di sekitar kami.


Turun kami semua dari kuda seraya berjalan mendekati Kou yang menyembunyikan tubuhnya di balik pepohonan yang ada di hutan kecil disamping dinding yang melindungi Istana...


Duduk Haruki di depan kami dengan segulung tali tambang melilit di lengannya, kupeluk tubuh Eneas dengan kuat agar tak terjatuh. Sedangkan Izumi sendiri, menjagaku dari belakang...


Terbang Kou menukik ke atas, berhenti ia di atas pepohonan yang tumbuh di sisi kanan Istana. Kutatap Haruki yang merangkak di atas lehernya Kou...


"Apa kau bisa menggigit kuat tali ini Kou? Kami akan turun menggunakannya," ucap Haruki seraya menjulurkan ujung tali tambang itu kepada Kou, diraih dan digigitnya tali itu oleh Kou.


"Pegang tali ini lalu turunlah! Dan berikan Eneas pada Izumi," ucap Haruki seraya menjulurkan ujung tali yang lainnya padaku.


Kupegang tubuh Eneas yang berjalan dengan menginjak pahaku, diraihnya tubuh Eneas tadi oleh Izumi. Kuraih tali yang diberikan Haruki, kugenggam kuat tali tersebut seraya mencoba aku untuk berdiri di atas tubuh Kou...


Melompat aku dari atas Kou, kugenggam tali tambang yang ada di tanganku itu. Tubuhku terkatung-katung terbang di udara, udara malam yang dingin tak mampu menghilangkan keringat yang mengalir di seluruh wajahku...


Tali yang aku genggam itu tak lagi liar seperti sebelumnya, kulirik pemandangan yang ada di bawah kakiku seraya kugerakkan tubuhku perlahan demi perlahan turun ke bawah menyentuh permukaan tanah...


Kugerakkan kakiku yang masih sedikit gemetar tadi beberapa langkah kebelakang. Kuangkat kepalaku ke atas, tampak Haruki mundur beberapa langkah dari lehernya Kou... Berlari dan melompat ia ke udara, kulirik sebelah tangannya meraih tali tambang yang tak berhenti tertiup angin sebelumnya...


Berjalan Haruki mendekatiku, masih kutatap Izumi yang mencoba berdiri dengan Eneas yang merangkulkan tangannya di lehernya. Berlari dan melompat Izumi seperti yang dilakukan Haruki sebelumnya...


Tangan kanan dan kirinya tak henti-hentinya bergerak bergantian menuruni tali. Kembali kupandangi ia yang berjalan mendekati kami, kulirik Eneas yang menyembunyikan wajahnya di balik pundaknya Izumi.


"Lux, kami mengandalkanmu," bisik Haruki menatapku.


"Aku mengerti," ucap Lux di sampingku.


"Cih, begitu saja langsung menangis. Lemah sekali," bisik Lux lagi di sampingku.


"Lux," ucapku pelan padanya, telapak tangan kananku sendiri masih menepuk-nepuk punggungnya Eneas.


"Aku mengerti," jawabnya yang terbang mendekati Izumi.


Berbalik aku menatap Haruki yang berjalan mendekati tali tambang yang telah dijatuhkan oleh Kou ke tanah, menoleh aku ke atas... Kou kembali menghilang seperti sebelum-sebelumnya.


Kuturunkan Eneas seraya kuraih telapak tangannya, berjalan aku menyusul Izumi dengan menuntun Eneas di sampingku. Melirik aku ke arah Haruki yang sedang menyembunyikan tali tadi di salah satu pohon.


Melangkah kami semakin mendekati Istana, Izumi merentangkan lengan kanannya untuk kami berhenti. Melirik aku ke arahnya yang tengah fokus menatap ke depan...


Diturunkannya lengannya tadi oleh Izumi, melangkah ia maju dengan sangat-sangat perlahan. Berbalik dan menoleh Izumi ke arah kami yang ada di belakangnya, diangkatnya telapak tangannya lalu dibentuknya jari telunjuk beserta jari tengahnya menghadap ke bawah. Digerakkannya kedua jarinya tadi seraya menunjuk kembali ia ke dinding berwarna putih yang ada di seberang kami... Mengangguk aku dan Haruki menanggapi isyarat yang ia berikan...


Izumi kembali mengangkat telapak tangannya, lama ia berada di posisi tersebut. Digenggamnya telapak tangannya tadi, berlari aku dengan menuntun Eneas beserta Haruki yang ada di belakangku mengikuti langkah Izumi.


Berdiri kami berempat seraya menempelkan tubuh kami di dinding, kulirik Izumi yang masih menatap lurus ke depan... Melangkah kembali ia ke depan diikuti kami bertiga yang berjalan di belakangnya...


Izumi kembali mengarahkan telapak tangannya ke belakang seakan meminta kami untuk berhenti, maju ia beberapa langkah seraya menempelkan tubuhnya di dinding...


Dua orang Kesatria tiba-tiba muncul dari persimpangan yang ada di samping Izumi, dipukulnya salah satu kepala Kesatria itu menggunakan pedang yang masih lengkap dengan sarungnya oleh Izumi padanya... Jatuh Kesatria tadi tak sadarkan diri.


Kesatria yang satunya berbalik menatap Izumi, dengan cepat ditendangnya Kesatria tadi olehnya hingga ia jatuh tersungkur ke samping. Berjalan Izumi ke arahnya seraya diinjaknya punggung Kesatria tadi agar tak bergerak, menunduk Izumi seraya meraih dan mencengkeram leher Kesatria itu... Tumbang Kesatria tadi ikut tak sadarkan diri olehnya.


Beranjak kembali Izumi, ditatapnya kami seraya digerakkannya kepalanya ke kiri. Berjalan ia ke arah persimpangan, tempat dimana dua Kesatria tadi keluar. Kulangkahkan kakiku dengan cepat menyusul Izumi yang berjalan di depanku...


"Apa kau membunuhnya, nii-chan?" bisikku pelan padanya.


"Tidak, aku hanya membuatnya tak sadarkan diri," balas Izumi berbisik padaku.