Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDLXXVI


“Maaf,” ucapnya sekali lagi saat dia mengangkat wajahnya kembali dari pundakku.


Aku menghela napas sebelum menoleh ke arahnya, “aku pun, ingin meminta maaf karena telah membuat kalian semua khawatir,” ucapku dengan lagi-lagi mengarahkan kedua bola mata ke sudut kiri mataku.


Aku kembali melirik ke arah Haruki yang telah beranjak berdiri, “kau belum makan dari kemarin, bukan?” tukasnya sembari mengarahkan telapak tangannya ke arahku.


Aku mengangkat telapak tanganku hingga dia menggenggam telapak tanganku tadi lalu membantuku untuk beranjak berdiri di hadapannya, “nii-chan,” ucapku memanggilnya hingga dia yang sebelumnya berjalan menoleh ke arahku.


“Aku, ingin mengakhiri hubunganku dengan Zeki.”


Haruki menghentikan langkah kakinya, “kau mengatakan apa?” tanyanya yang telah berdiri di hadapanku.


“Dia, terlalu banyak menyembunyikan apa pun dariku. Aku merasa jika dia, tidak pernah mempercayaiku. Aku, kecewa … Tapi bukan padanya, melainkan pada diriku sendiri,” ucapku dengan mengarahkan pandangan mataku sedikit ke arah pinggir pundaknya.


Haruki melepaskan genggaman tangannya padaku, “pikirkanlah terlebih dahulu dengan sangat baik. Aku tidak ingin, jika akhirnya kau menyesali keputusan yang kau buat dalam keadaan tidak tenang seperti ini. Ikuti aku, sama sepertimu … Aku pun, belum sempat untuk makan karena pikiranku sibuk memikirkan adikku,” ungkapnya yang terus melangkahkan kakinya meninggalkan aku.


Aku lama menatap punggungnya yang kian berjalan menjauh, ikut kugerakkan kakiku berjalan mengikutinya yang membawaku kembali ke ruang makan. Aku menarik napas saat pandangan mereka mengarah kepadaku ketika langkah kakiku kembali memasuki ruangan itu, “apa ada yang ingin kau makan?” tanya Haruki ketika aku telah duduk di sampingnya.


“Sup?” tanyanya kembali dengan mengangkat sebuah mangkuk kecil yang ada di dekatnya ke arahku.


“Terima kasih,” ucapku meraih sendok yang juga ia berikan kepadaku.


Aku menyeruput sesendok demi sesendok sup tadi, “nii-chan, kapan kita akan melanjutkan perjalanan?” gumamku dengan kembali menyeruput sup.


“Kenapa, kau tidak mengatakan langsung pada yang bersangkutan, tujuan kita mengunjungi tempat ini,” ucap Haruki, aku melirik ke arahnya yang tengah menyeruput cangkir di genggamannya.


“Bukankah, seorang kakak seharusnya mewakili adik-adiknya,” ungkapku sembari meletakkan sendok yang aku pegang kembali ke mangkuk.


“Apa yang tengah kalian bicarakan?”


Haruki meletakkan cangkir yang ada di tangannya ke atas meja, “kami berniat mengunjungi Ardenis. Tapi, ketika di perjalanan, kami bertemu dengan Alma.”


“Alma?”


“Pangeran dari Kerajaan Juste, apa kalian masih mengingat dengan dua orang laki-laki yang bergabung dengan kelompok kita saat di hutan dulu?” tukas Haruki menimpali perkataan Zeki yang terdengar.


“Kami ingin berkunjung ke sana, karena Adinata mendapat surat dari Alvaro. Akan tetapi, Alma mengatakan jika Alvaro sudah meninggal dua tahun yang lalu. Apa kau mengetahui tentang ini, Julissa?”


“Ardenis, Alvaro … Percaya atau tidak, mata-mata yang pernah aku kirim ke sana, tak pernah terdengar kabarnya lagi,” ungkap Julissa menjawab pertanyaan Haruki.


“Aku mempercayainya, karena aku sendiri pun dulu sebenarnya ingin mengirimkan seseorang ke sana. Akan tetapi, seseorang mengatakan kepadaku untuk jangan mendekati wilayah tersebut jika kau seorang pendatang. Aku pikir itu hanya mitos,” gumam Haruki sembari mengarahkan pandangannya ke arah cangkir yang ada di hadapannya itu.


“Dan juga, kami ingin meminjam uang untuk perbekalan berserta kuda dan juga senjata kepadamu, Zeki. Aku akan mengirimkan surat kepada Ayah, agar mengganti semuanya nanti,” tukas Haruki lagi seraya menoleh ke samping kanan.


“Kenapa saat aku mendengarnya, seperti aku diperlakukan sebagai orang asing. Atau ini, hanya perasaanku saja?”


“Entahlah, sebagai pasangan … Seharusnya kalian saling membicarakannya,” ucap Haruki lagi seraya tangannya kembali meraih cangkir miliknya.


“Lux, ikutlah denganku!”


Aku melirik ke arah Lux yang telah terbang melewatiku mengikuti Haruki yang sudah beranjak berdiri dari kursinya lalu berjalan menjauh mengikuti Izumi, Eneas dan bahkan Julissa. “Apa kau, bisa menjelaskan apa yang dimaksud Haruki sebelumnya?”


Aku mengangkat wajahku menoleh ke arahnya yang menatapku dari kursinya, “aku, mengatakan kepada kakakku … Jika aku, ingin mengakhiri pertunangan kita.”


Aku menutup sekejap mataku, jantungku terasa bergemuruh saat Zeki memukul kuat meja yang ada di hadapan kami, “apa katamu?” tukasnya yang terdengar bergetar di telinga.


“Aku, merasa jika hubungan ini tidak akan berlangsung baik kedepannya,” suaraku yang keluar ikut bergetar terlebih ketika Zeki beranjak berdiri lalu berjalan mendekatiku.


Dia menarik kursi yang sebelumnya diduduki Haruki, lalu mendorong kursi tadi dengan sangat kuat ke samping hingga membentur lantai, “omong kosong seperti apa yang kau katakan? Apa kau, bisa melihat masa depan sehingga dapat dengan mudah mengatakannya!” Aku diam terhentak ketika tangannya kembali memukul kuat meja yang ada di sampingku.


“Apa aku, membuat suatu kesalahan?” Kedua mataku membelalak saat dia menatapku dengan kedua matanya yang telah memerah. “Ini bukanlah kesalahanmu, ini hanya aku … Yang kehilangan kepercayaan diri untuk mendampingimu,” ucapku sembari beranjak berdiri di hadapannya.


“Lalu bagaimana denganku?” ungkapnya dengan membenamkan wajahnya di pundakku, “hanya katakan saja kesalahanku. Aku berjanji akan memperbaikinya,” sambungnya diikuti kedua lengannya yang merangkul kuat pinggangku.


“Apa karena aku menyembunyikan darimu perihal aku berteman dengan seorang perempuan sejak kecil? Atau karena aku menyembunyikan banyak sekali rahasia yang aku ketahui darimu?” Dia mengangkat wajahnya dariku sembari telapak tangannya menyentuh leherku.


“Tanyakan saja, apa pun yang ingin kau tanyakan. Aku bersumpah, akan menjawab semua yang kau tanyakan itu. Bunuh aku, jika kau benar-benar ingin mengakhiri hubungan kita,” ungkapnya, kurasakan wajahku maju terbenam di dadanya saat kepalaku terasa didorong ke depan.


“Kau benar-benar menyakitiku.”


“Maaf,” ucapnya singkat menimpali perkataanku.


“Aku tidak suka, saat kau membiarkan perempuan lain menyentuhmu.”


“Aku tidak suka, jika aku mengetahui sesuatu tentangmu dari orang lain.”


“Aku benci, saat aku tidak bisa mengenali pasanganku sendiri.”


“Aku tidak tahu harus melakukan apa, saat pasanganku menyimpan banyak sekali rahasia dariku.”


“Aku membencimu, Zeki. Aku sungguh-sungguh membencimu,” sambungku lagi dengan mengangkat tanganku memeluk tubuhnya.


“Maaf, karena membuatmu tidak nyaman,” ucapnya sembari ikut kurasakan ciuman yang menyentuh kepalaku.


“Apa ada sesuatu yang ingin kau makan? Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?” Zeki mengusap kedua mataku saat aku mengangkat wajahku menatapnya.


“Apa kau yakin? Karena aku, akan menghabiskan banyak sekali uangmu,” ungkapku yang dibalas senyuman yang ia lakukan.


“Apa kita harus membeli lemari baru yang akan kita letakkan di kamarku? Apa ada tempat di Istana ini yang tidak kau sukai? Aku akan mengganti semuanya sesuai keinginanmu, jadi katakan saja kepadaku,” ungkapnya sembari mencium kening, hidung dan pipiku bergantian.


“Ada tempat yang ingin aku kunjungi. Lebih dari itu, bisakah kita mengajak dua orang untuk ikut bersama?” tukasku saat dia mengusap rambutku yang sempat terjatuh menutupi wajah.