Fake Princess

Fake Princess
Chapter DXIII


Aku menutup kembali dengan perlahan pintu kamar mandi sambil meninggalkan sedikit celah untukku mengintip ke dalam kamar. Kuarahkan pandanganku, ke arah mereka yang telah kembali berpura-pura terlelap di tempat mereka tertidur sebelumnya. Aku menggenggam kedua tanganku dengan erat, jantungku bergemuruh ketika gagang pintu kamar bergerak-gerak, seakan seseorang atau sesuatu dari luar berusaha untuk menerobosnya, “untung saja, aku sempat mengunci kembali pintu … Jika tidak, mereka yang ada di luar akan curiga,” aku meneguk air ludahku sendiri ketika suara Lux yang berbisik itu menyentuh telingaku.


Telapak tanganku terangkat mengusap dada, semakin ditekan … Semakin bergerumuh juga jantungku ketika pintu itu tiba-tiba didobrak kuat dari luar hingga terbuka. Sekelompok laki-laki bertubuh besar berjalan masuk dengan salah satu di antara mereka memegang besi panjang berbentuk pipih di ujungnya. Aku semakin kuat mengepalkan tanganku sendiri, berkali-kali sudah aku menelan air ludahku ketika degupan jantung semakin tak menentu.


Aku menggigit kuat bibirku ketika mereka berhenti di dekat Ryuzaki, salah satu di antara mereka mengangkat wajah Ryuzaki yang masih terpejam, “bagaimana Tuan? Barang-barang yang kami dapatkan hari ini, sangat bagus untuk Yang Mulia, bukan?” tanyanya sambil melirik ke arah laki-laki berjubah hitam yang ada di belakangnya.


Laki-laki berjubah itu berjalan mendekati ranjang lalu duduk di sana dengan telapak tangannya mengusap wajah Haruki yang masih berpura-pura terlelap, “apa kau yakin jika mereka pengelana?” tanyanya menatap laki-laki tadi dengan jari-jemarinya memainkan rambut Haruki.


“Sangat yakin, Tuan. Mereka menumpang turun dari kapal pedagang. Bahkan, masih ada lima laki-laki lagi di kamar lainnya,” tukas laki-laki yang sebelumnya mengangkat wajah Ryuzaki.


Laki-laki itu kembali meletakkan wajah Ryuzaki ke atas meja sebelum dia berjalan mendekati Izumi yang berbaring pulas di lantai. Aku mengangkat telapak tanganku menutup mulut ketika laki-laki itu berjongkok lalu memukulkan telapak tangannya ke bokong Izumi yang berbaring terlungkup.


Aku melirik ke arah pintu ketika suara ketukan terdengar, suara Tatsuya yang memanggil-manggil dari arah luar mengiringi ketukan pintu tersebut. Lima orang laki-laki itu saling pandang sebelum mereka berpencar, “Lux, bergeraklah secara sembunyi-sembunyi mendekati pintu, lalu beritahukan kepada Tatsuya di mana orang-orang itu bersembunyi. Kau bisa melakukannya, bukan?” bisikku berjalan mundur dengan sangat perlahan saat salah satu laki-laki berjalan mendekat ke arah kamar mandi.


“Aku mengerti,” sambung Lux balas berbisik pelan.


Aku bergerak mendekati tong air dengan sesekali melirik ke arah pintu kamar mandi, tubuhku semakin meringkuk bersembunyi ketika suara deritan pintu terdengar. Suara deritan itu kembali terdengar ketika suara langkah kaki yang mengikutinya juga ikut berhenti. Aku diam tak bergerak, keadaan di sekitar juga ikut menghening, bahkan aku bisa mendengar suara ketika aku kembali meneguk ludahku sendiri.


Kugigit kuat bibirku saat suara riuh terdengar dari arah luar, ikut terdengar suara pecahan beling dan juga benda-benda yang saling bertubrukan mengiringi suara riuh tersebut. Aku melirik ke kiri saat terdengar suara pintu terbanting kuat, gigitanku semakin kuat tatkala teriakan laki-laki menggema di dalam kamar mandi.


Aku meringkuk dengan menyembunyikan kepala saat tong yang ada di sampingku itu bergerak membentur tubuhku diikuti suara erangan laki-laki memohon ampun. Aku menarik napas dalam ketika air yang ada di dalam tong keluar membasahi tubuhku sambil berusaha menggerakkan tubuhku yang dihimpit oleh tong tersebut, “di mana perempuan itu?” Kedua mataku membesar ketika suara laki-laki menimpali teriakan dari laki-laki yang lain.


“Perempuan? Perempu-” Suara laki-laki itu kembali terhenti, bergantikan dengan erangan kesakitan yang mengikuti.


“Tsu nii-chan, aku di sini! Singkirkan tong kayu ini, atau aku akan mati karena terhimpit,” tukasku sambil memukul-mukul tong kayu yang menghimpitku itu menggunakan kepala.


“Putri? Menyingkirlah kau darinya,” timpal suara Tsubaru diikuti suara benda yang kembali bertabrakan.


Aku meneguk ludah sambil meraih telapak tangan Tsubaru yang mengarah kepadaku, dia menarik tanganku tadi hingga aku berdiri di sampingnya. Tsubaru melepaskan genggamannya dengan berjalan ke arah laki-laki botak masih berguling dengan memegang kuat lehernya. Aku tidak bisa melihat jelas apa yang terjadi kepadanya karena temaramnya keadaan di kamar mandi.


Tsubaru berjongkok dengan meraih kerah baju laki-laki itu sebelum dia kembali beranjak lalu melangkahkan kakinya menyeret tubuh laki-laki tersebut. Aku mengusap wajah yang sedikit basah oleh tetesan air pada rambutku ketika kakiku melangkah mengikuti Tsubaru yang menyeret laki-laki botak tadi keluar dari kamar mandi.


Aku tertegun saat pandanganku terjatuh ke lantai, kutatap aliran darah yang mengikuti langkah Tsubaru hingga pandanganku terhenti kepada laki-laki botak yang ia seret … Laki-laki itu, terkulai tak berdaya dengan sobekan lebar yang mengitari lehernya. Pakaian putihnya telah berganti merah diikuti kepalanya yang bergerak terkatung-katung mengikuti Tsubaru yang menyeretnya.


Aku menghentikan langkah, kamar tersebut sudah tak seperti kamar lagi. Meja dan kursi kayu yang sebelumnya berdiri kokoh, telah hancur menjadi potongan-potongan kayu kecil. Pintu lemari yang sebelumnya rapat telah patah menjadi dua ke arah dalam, ranjang yang sebelumnya ditiduri Haruki telah menjadi genangan darah dengan seorang laki-laki berbaring tak bernyawa dengan salah satu pergelangan tangannya yang terpotong diikuti sebuah pedang yang tertancap di tubuhnya.


Bagaimana ini bisa terjadi dalam waktu yang sangat cepat?


“Sa-chan!”


Aku sedikit terhentak ketika suara Haruki tiba-tiba terdengar, dia melambaikan tangannya ketika aku telah menoleh ke arahnya. Embusan napasku pelan keluar saat aku melangkah mendekatinya dengan pandangan mata masih melirik ke kamar yang telah hancur itu. Aku menghentikan langkah dengan menatap ke arah dua orang laki-laki, satu laki-laki yang memakai jubah, sedangkan laki-laki lainnya, tidak lain adalah laki-laki yang menepuk bokong Izumi sebelumnya.


Pandangan mataku beralih kepada Tatsuya yang telah menginjak kepala laki-laki berjubah, “Sa-chan, jelaskan kepadaku apa yang terjadi?” Aku sedikit terhentak, dengan cepat kulemparkan pandanganku kepada Haruki yang lagi-lagi bersuara.


“Aku tidak tahu, aku dan Lux merasa aneh karena kalian tidak bersuara walau sudah pagi. Jadi aku, jadi aku memutuskan untuk mengecek, dan mendapatkan semua saudaraku tertidur lelap dengan aroma aneh yang memenuhi kamar mereka,” ucapku menjawab pertanyaan Haruki.


“Tatsuya, bagaimana menurutmu?” Aku melirik ke arah Tatsuya yang menundukkan kepalanya saat Haruki bertanya seperti itu kepadanya.


“Maaf, Yang Mulia. Kami pun sebelumnya tertidur lelap sebelum Arata terbangun dengan banyak sekali duri yang tumbuh di sekitar tempatnya tidur. Melihat hal itu, Arata langsung membangunkan kami semua. Ketika kami melewati kamar Putri, pintu kamarnya tidak tertutup rapat dengan Putri yang juga telah menghilang.”


“Ampuni kami, yang telah lalai menjaga kalian semua,” sambung Tatsuya dengan membungkukkan tubuhnya ke arah Haruki.


“Ikat mereka berdua, lakukan apa pun untuk mendapatkan informasi dari mereka. Lakukan dengan sangat baik, jangan membuat kegaduhan lebih dari ini … Aku tidak ingin perjalanan kita terhambat karena berurusan dengan sesuatu yang tak membawa keuntungan untuk kita,” ucap Haruki yang segera dibalas anggukan kepala Tatsuya.