
“Apa yang kau katakan?" ungkapku sembari meraih lalu menggenggam kuat tangannya.
Aku menggigit kuat bibirku saat kedua mataku kembali menatapnya, dia … Tingginya, kemungkinan sama seperti terakhir kali kami bertemu. Walau matanya sedikit berubah warna, namun … Tatapannya masihlah hangat seperti dulu. “Bantu aku, Sachi. Bantu aku, untuk terakhir kalinya,” ungkapnya yang membalas genggaman tanganku.
“Apa, apa yang harus aku lakukan?” jawabku dengan suara gemetar menusuk telinga.
“Kalian, dapat datang ke sini … Itu berarti, kalian telah mengalahkan hutan berkabut itu, bukan?” Aku menganggukkan kepala dengan tetap menatapnya.
“Kumohon, bantu aku … Selamatkan Kesatria dan juga rakyatku. Jika mereka selamat, Ardenis … Akan selalu ada,” tangisnya, aku mengangkat telapak tanganku mengusap air mata yang hampir menyentuh telinganya.
“Apa kau bercanda? Kau pun, juga harus selamat,” ungkap suara Izumi, kugerakkan kepalaku menatapnya yang duduk termangu di sampingku.
“Aku hanya merasakan, waktuku sudah tidak lama lagi. Padahal, aku ingin sekali membalas semua kebaikan kalian-”
“Jika kau ingin membalas semua kebaikan kami, kau harus bertahan hidup apa pun yang terjadi. Apa yang bisa dilakukan orang yang sudah mati untuk orang yang masih hidup-”
“Izu nii-chan!” Izumi menghentikan kata-katanya saat bentakan keras keluar dari bibirku.
“Anak kecil yang aku selamatkan dulu, walau dia ketakutan … Di matanya masih terlihat semangat untuk hidup. Karena itu, aku menolongnya … Aku kecewa, saat dia menyerah untuk hidup,” ungkap Izumi yang telah kembali beranjak di sampingku.
“Izumi! Sachi! Mundurlah! Biar aku yang membicarakan hal ini kepadanya.”
“Haru-nii,” tukasku yang menoleh ke arahnya.
Haruki berjalan mendekat, aku turut beranjak lalu berjalan mundur hingga Haruki duduk di samping ranjang, mengarahkan tatapannya kepada Alvaro yang juga menatapnya. “Alvaro, apakah kabar tentang kematianmu, karena kau mengalami hal ini?”
“Akan menjadi sebuah aib, jika pewaris kerajaan mengalami hal aneh sepertiku”
Haruki tertunduk dengan menggenggam kedua tangannya sendiri, “kau benar. Percaya atau tidak, aku pun dulu juga menjadi aib sepertimu. Aku pun, kadang merasa ingin menyerah saja dengan takdir … Tapi, kau melihatku sekarang, bukan? Semuanya akan baik-baik saja, kami … Akan memikirkan cara terbaik untuk menyelamatkanmu, Kesatria dan juga rakyatmu.”
“Kau mengirimkan surat kepada Adinata, karena kau yakin kabar kematian kami itu tidak benar, bukan? Kau, berharap pada kami untuk menyelamatkan kalian, bukan? Karena itu, kami akan membuat harapan itu tercapai, dan kau … Harus melihat semua itu terjadi. Tanpa Ardenis, kita mungkin tidak akan bertemu.”
Tangisan Alvaro semakin kuat saat Haruki meletakkan telapak tangannya di pipi Alvaro, “aku bersyukur mengenal kalian. Aku bersyukur saat itu Izumi menyelamatkanku, aku bersyukur Sachi menerimaku di dalam kelompok kalian. Maafkan aku, karena belum bisa membalas kebaikan kalian.”
“Simpan tenagamu, apa kau lapar? Apa kau menginginkan sesuatu? Izumi dan juga Sachi, seorang koki yang handal, mereka berdua akan memasak makanan apa pun yang kau sukai. Dan juga, kau belum mengenal adik kami, bukan? Eneas, mendekatlah!” perintah Haruki diikuti tangannya melambai ke arah Eneas.
Aku melirik ke arah Eneas yang telah duduk berjongkok di dekat Haruki, “Takaoka Eneas, aku … Ingin sekali mendengar kehebatan ketiga kakakku darimu,” ucap Eneas yang tersenyum membalas tatapan Alvaro.
“Apa kau yakin tidak ada sihir yang mengelilinginya?” tanya Haruki saat dia telah berjalan di sampingku.
“Aku yakin, Kou pun sependapat. Tak ada sihir yang menyelimutinya, jadi kemungkinan itu murni sebuah penyakit,” jawabku sembari menoleh ke arahnya.
“Kalian, dapat menginap di kamar ini,” tukas Kesatria yang memandu kami sebelumnya, dia berhenti dengan membukakan pintu yang ada di sampingnya untuk kami, “apa kalian, benar-benar dapat menyelamatkan Yang Mulia?” tanyanya ketika Eneas dan Izumi telah berjalan masuk ke dalam.
“Kami sedang mengusahakannya,” jawab Haruki, aku berjalan maju melewati laki-laki tadi saat kurasakan tepukan menyentuh punggungku yang dilakukan oleh Haruki di belakang.
Aku berjalan mendekati ranjang lalu duduk dan menyandarkan diri duduk di kepala ranjang tersebut, “penyakit apa yang kau maksudkan itu?”
Aku menoleh ke arah Izumi yang kembali bersuara, “aku, pernah membacanya sekilas di sebuah buku. Itu sebuah penyakit langka yang tak ada obatnya, penyakit itu sendiri terdiri dari beberapa jenis, dan kemungkinan Alvaro mengidap salah satu dari mereka yang menyerang seseorang ketika dia menginjak remaja.”
“Apa ada lagi yang kau ketahui?” tanya Haruki yang juga telah melangkahkan kakinya mendekat.
“Penyakit atau sindrom itu, hanya dapat diderita … Jika kedua orang tua memiliki kemungkinan penyakit serupa. Aku tidak menyangka, akan melihatnya secara langsung pada temanku sendiri,” jawabku dengan menundukkan kepala sambil menggenggam erat kembali tanganku.
Aku tahu, aku tidak akan melakukannya. Jangan menatapku seperti itu.
Kubuang kembali pandanganku dari lirikan Izumi yang mengarah tajam ke arahku. “Apa yang harus kita lakukan?” tanya Izumi saat dia telah berjalan lalu membaringkan tubuhnya di ranjang.
“Aku tidak tahu, yang harus kita pikirkan pertama kali hanyalah meminta para Kesatria untuk memberitahukan kabar kepada para penduduk untuk bersiap-siap meninggalkan tempat ini. Masalah Alvaro, bagaimana dengan Uki?”
“Uki?” tukasku dengan membalas ucapannya.
Haruki menganggukkan kepalanya, aku tertunduk dengan menggigit ujung ibu jariku sendiri sebelum kembali menatapnya, “kau benar, nii-chan. Aku, akan meminta Kou untuk membawa Uki. Dan kalian, temui para Kesatria dan juga penduduk untuk bersiap-siap meninggalkan tempat ini,” ucapku sembari mengarahkan pandangan kepada mereka bergantian.
“Baiklah, lebih cepat lebih baik, bukan?” sambung Izumi yang kembali beranjak berdiri lalu melangkahkan kakinya mendekati pintu.
Ikut kutatap Eneas yang juga telah berjalan menyusulnya, “ada yang kalian berdua sembunyikan dariku, bukan? Apakah itu, berhubungan denganku?” Aku menoleh ke arah Haruki yang juga telah beranjak berdiri menatapku.
“Tidak apa-apa, aku telah mengerti semuanya saat kau mengajak Ibu kembali, Walau bagaimanapun, terima kasih, Sa-chan,” sambungnya sembari berbalik lalu berjalan mengikuti Izumi dan juga Eneas yang telah terlebih dahulu keluar dari kamar.
Aku menarik napas dalam lalu mengembuskannya kembali ketika pintu kembali tertutup oleh Haruki. Tubuhku beranjak dengan melangkahkan kaki mendekati jendela, kugerakkan kedua tanganku mendorong pelan jendela tersebut hingga terbuka. Aku mengangkat pandangan ke arah langit yang saat ini terlihat cerah, “Kou, datanglah! Bawa Uki bersamamu, aku … Membutuhkan kalian,” ungkapku dengan kembali menundukkan pandangan, ke arah beberapa Kesatria yang tengah berkebun di bawah.