
“Tapi kita tidak bisa pergi menyusul mereka begitu saja. Karena itu,” ungkapku sambil menunduk dengan membuka penutup tas milikku.
Aku mengangkat kembali wajahku menatap bayangan Lux yang terbang keluar dari dala, tas lalu terbang berdiri di hadapanku. “Lux, kami mengandalkanmu,” ungkapku, Lux menganggukkan kepalanya sebelum terbang menjauh.
“Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”
“Kita harus mencari keberadaan Haru-nii dan juga Eneas. Izu nii-chan, selama kita berjalan mencari mereka nanti … Dapatkah Izu-nii, mengukir petunjuk di pepohonan yang kita lewati? Kalau bisa, gunakan bahasa kerajaan kita, dan ukir dengan ukuran yang tidak terlalu mencolok.”
“Kalau kita pergi dari sini? Bagaimana dengan Lux?”
“Selama sihir Kou mengalir di tubuhku. Lux pasti bisa merasakannya. Dia, pasti bisa menemukanku,” ungkapku yang mulai menggerakkan kaki meninggalkannya.
“Jadi cepatlah nii-chan! Kita harus bergegas sebelum malam datang, Haru-nii ataupun Eneas dan juga aku, tidak memiliki mata yang hebat sepertimu.”
“Apa itu sebuah sindiran?”
Aku melambaikan tanganku ke belakang, “tentu saja tidak, itu sebuah pujian dari dalam lubuk hatiku,” timpalku, langkahku sempat berhenti dengan mengarahkan pandangan ke sekitar.
“Lewat sini!”
Aku menoleh ke arah Izumi yang telah berjalan dengan arah yang berlawanan dariku. “Mereka pergi berburu ke arah sana. Jadi, kalau ingin mencari mereka … Setidaknya kita harus mengambil arah yang sama,” ucap Izumi yang telah semakin jauh melangkah dariku.
Aku berbalik, kedua kakiku dengan cepat berlari menyusul langkahnya, “kenapa tidak mengatakannya dari awal?”
“Kau tidak bertanya,” jawabnya singkat, Izumi berhenti melangkah lalu berbalik menatap sebuah pohon dengan sebuah pisau di tangannya.
Aku menggerakkan kepalaku, menatap ukiran yang ia buat di batang pohon tersebut, “maju?” ungkapku membaca ukiran tersebut yang ditulis menggunakan bahasa Jepang.
“Haruki pasti akan mengerti, dia akan paham jika aku memintanya maju untuk mencari kita,” jawabnya yang kembali melanjutkan langkah.
Langkah kaki kami terus berlanjut, walau terkadang Izumi harus berhenti sejenak mengukir petunjuk di beberapa pohon yang kami lewati. Sesekali kami berhenti, meneguk air dari dalam kantung kulit yang Izumi bawa sebelum langkah kami kembali berlanjut. Aku terus berjalan, dengan sesekali mengusap keringat yang keluar memenuhi wajah.
Aku berjalan ke samping saat mataku itu terjatuh kepada sesuatu yang menarik perhatian, “nii-chan, kemarilah! Lihatlah bunga ini!” pintaku dengan melambaikan tangan ke arahnya.
Aku melirik ke arah bayangan Izumi yang juga telah duduk berjongkok di sampingku, “ada apa?” tanyanya, sebelum aku membuang pandangan ke arah bunga unik yang ada di depan kami itu.
“Lihatlah, bentuk bunga ini!” tukasku, lama kutatap bunga berbentuk seperti bibir berwarna merah yang ada di hadapan kami itu.
“Ini pertama kalinya untukku melihat bunga yang seperti ini,” tukas Izumi membalas perkataanku.
“Aku pun, ini pertama kalinya untukku melihat bunga seperti ini. Aku semakin, dan semakin ingin melihat seluruh dunia lebih dekat.”
“Kau benar. Aku justru tidak bisa membayangkannya, bagaimana Kaisar ingin menghancurkan dunia ini dengan mengambil Robur Spei untuk dirinya sendiri?”
Aku melirik ke arah Izumi yang juga telah melirik ke arahku. Izumi menganggukkan pelan kepalanya, ketika bunyi gemerasak semakin terdengar melewati telinga. Aku menundukkan kepala, dengan tangan bergerak meraih pedang yang menyelip di pinggang. Mataku kembali melirik ke arah Izumi yang menggerakkan jari-jemarinya, memberikan aku isyarat mengikuti bunyi gemerasak yang kian mendekati kami.
“Izumi, Sa-chan!”
Aku tertegun sejenak, menatap kening Izumi yang telah mengerut menatapku. “Apa yang kalian lakukan di sini?” tukas suara Haruki yang kembali terdengar menyentuh telinga.
“Menurutmu? Apa suaraku ini tidaklah mirip dengan Takaoka Haruki?” balas suara tersebut menimpali perkataan Izumi.
Kepalaku menoleh ke arah belakang, pandangan mataku itu terjatuh ke arah Haruki yang berdiri di samping Eneas, dengan Fabian dan juga kakaknya yang juga berdiri dengan memanggul seekor hewan di pundak mereka. “Kalian tidak menjawab pertanyaanku, apa yang kalian lakukan di sini? Aku memerintahkan kalian untuk menyiapkan api selama kami berburu, bukan?”
“Kami diserang dengan segerombolan manusia-”
“Lalu, lalu di mana Pangeran Vartan dan kakakku Gael?” tukas Lucio, dia menjatuhkan bangkai hewan yang ia panggul bersama Fabian sebelum kedua kakinya itu berjalan mendekati kami berdua.
“Aku tidak tahu, kami terpisah saat mencoba melarikan diri,” ungkap Izumi kembali menjawab pertanyaannya.
“Aku, aku harus mencari mereka-”
“Jangan melakukan tindakan bodoh seperti itu!” tukasku memotong perkataan Lucio yang terdengar gemetar itu.
“Aku, telah mengirimkan temanku untuk mencari keberadaan mereka. Jadi tunggu saja di sini, hingga temanku itu membawa kabar baik. Karena jika kau tiba-tiba menghilang, akan menambah perkerjaan kami untuk mencarimu juga. Kau ingin duduk! Atau, kami akan membiarkanmu menghilang, agar ular yang sebelumnya kami buat tak sadarkan diri kemarin, menelanmu hidup-hidup di tengah hutan.”
“Maafkan aku!” ucapnya yang segera duduk dengan menundukkan kepalanya.
Aku mengangkat kepalaku ke atas, “nii-chan, aku lapar,” tukasku dengan menghela napas sebelum kembali menatap Haruki.
“Baiklah. Fabian, bantu aku untuk mencari kayu bakar! Eneas, jaga dia! Dan kau Izumi, ajak Lucio untuk memotong daging yang akan kita masak! Kita harus mengumpulkan tenaga agar dapat melanjutkan perjalanan,” ucap Haruki, sebelum dia kembali berbalik meninggalkan kami.
“Nee-chan, apa kau terluka?”
Aku mengangkat pandangan, menatapnya yang berjalan mendekat, “aku baik-baik saja, Eneas. Aku hanya sedikit lelah, berlarian sepanjang hari tanpa memakan apa pun,” tukasku, yang meneguk ludah sebelum beranjak berdiri kembali.
“Apa kau haus, nee-chan?”
“Kau masih menyimpan air?”
Eneas menganggukkan kepalanya, dia menunduk dengan merogoh ke dalam tas yang ia kenakan. “Tidak terlalu banyak yang tersisa, tapi sedikit cukup untuk menghilangkan haus,” ucapnya dengan mengarahkan kantung kulit yang ada di genggamannya itu kepadaku.
“Terima kasih,” sahutku meraih kantung kulit yang ada di tangannya.
Aku membuang pandangan, menatap Izumi dan juga Lucio yang terlihat tengah menyembelih bangkai hewan tersebut dengan pedang miliknya. Aku meneguk sedikit demi sedikit air setelah sebelumnya membuka penutup kantung kulit tersebut. “Apa kau menemukan sesuatu yang mencurigakan selama berburu, Eneas?” gumamku pelan sambil menutup kembali kantung kulit itu dengan kepala tertunduk menatapnya.
“Aku, menemukan beberapa pohon yang tanah di sekitarnya seperti digali. Kemungkinan, para manusia yang dimaksud Izu-nii sebelumnya, mengambil bagian dari pohon tersebut untuk membuat racun. Karena aku pun, sering menggunakan akar pepohonan untuk membuat racun yang sanggup membunuh manusia.”
“Jadi seperti itu, jika mereka mengoleskan racun tersebut ke anak panah yang sebelumnya aku lihat. Itu akan berbahaya untuk kita jika terkena serangan itu, aku benar, bukan?”
“Itu, tidak akan ada masalah untukku ataupun Haruki dan Izumi nii-san. Karena kemungkinan, racun tersebut hanya akan membuat kami demam, tidak sampai membunuh. Namun, hal ini berbeda untukmu, nee-chan!”
“Jangan sampai lengah, dan jangan terlalu jauh dari salah satu di antara kami, terlebih lagi aku ataupun Lux. Karena, jika racun tersebut sampai mengenaimu, kami dapat dengan mudah mengatasinya.”
“Aku tahu, dengan melihat pembagian tugas yang dilakukan Haru-nii saja. Aku sudah mengerti kenapa dia melakukannya,” ungkapku dengan kembali menatapi Izumi yang telah mulai menguliti hewan buruan yang didapatkan bersama Lucio di depannya.