Fake Princess

Fake Princess
Chapter DI


Aku berjalan lalu menghentikan langkah di Taman Istana, “duduklah,” ucapku sambil menepuk bangku taman ketika aku telah mendudukinya.


“Ryu,” tukasku lagi sembari menepuk kembali bangku.


Ryu yang sebelumnya membuang pandangan, mulai perlahan melangkahkan kakinya mendekatiku lalu duduk di samping dengan kepalanya yang masih tertunduk. ”Apa itu tadi, Ryu?” tanyaku, aku menarik napas dalam sebelum mendongakkan kepalaku.


Ryu masih tertunduk, sepatah kata pun tak keluar dari bibirnya, '‘Ryu,” tukasku lagi yang berusaha untuk menyakinkannya.


“Ini perjanjianku dengannya, aku … Tidak bisa membertitahukan hal ini kepadamu, Sachi,” ucapnya yang menoleh ke samping menghindari tatapanku padanya.


“Kenapa?” gumamku sambil menyandarkan tubuh di bangku, “apa itu sangatlah rahasia hingga aku tidak bisa mengetahuinya?” lanjutku yang kembali mengangkat kepala ke atas.


“Apa kau, pernah bertemu dengan nenek secara langsung?”


Aku kembali menoleh ke arah Ryuzaki saat dia mengatakan hal itu, “apa kau?”


“Sihir yang kau miliki, ataupun sihir Elf yang aku miliki … Semuanya, berasal darinya.”


“Aku, tidak mengerti apa yang kau katakan, Ryu,” keningku mengerut ketika mengucapkannya.


“Temanmu sendiri yang mengatakan, bukan? Elf dan Peri, dulu bersama-sama menjaga Robur Spei. Para Peri, sebenarnya pelayan dari para Elf, Elf memiliki sihir mereka sendiri, sedangkan Peri mengandalkan sihirnya hanya dari Robur Spei. Apa kau, menjaga baik-baik hadiah pemberian dari nenek?” tanya Ryuzaki ketika dia menoleh menatapku.


“Hadiah?”


“Telur burung yang disimpan rapat di dalam kotak kayu.”


Kedua mataku membelalak saat mendengarnya, “bagaimana?”


“Dan, dan juga … Di mana nenek? Aku tidak melihatnya saat di-”


“Nenek sudah meninggal, dialah yang merawatku sebelum Kakek memenjarakanku. Aku, sudah lama tahu jika saudaraku akan datang menjemput, karena itu … Aku hanya diam tanpa melakukan apa pun. Setelah keluarga kami bersatu kembali, kakak-kakakku pergi berkelana sedangkan aku menunggu mereka di Istana dengan berlatih mati-matian agar bisa sekuat mereka. Akan tetapi, satu per satu keluargaku merenggang nyawa di hadapanku sendiri, bagaimana bisa … Aku menyaksikan hal itu berulang-ulang,” ucapnya, dia mengangkat wajahnya sambil mengangkat kedua tangan mengusap kedua matanya.


“Aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan? Tidak bisakah kau mengatakannya dengan lebih … Jelas,” ungkapku, Ryuzaki kembali menoleh ke arahku sebelum dia tersenyum.


“Apa Nagamu, pernah didatangi oleh seorang perempuan?”


Kedua mataku membesar, dengan cepat kuraih lalu kucengkeram pakaian yang ia kenakan, ”Ryu, jangan mencoba untuk menguji kesabaranku. Apa yang kau ketahui? Apa yang sebenarnya terjadi? Jelaskan semuanya kepadaku!” Cengkeraman tanganku itu semakin kuat saat aku membentaknya.


Ryuzaki lama menatapku sebelum dia menghela napas panjang, “nenek merupakan, darah murni Elf dari generasi kedua. Dengan kata lain, dia adalah sesepuh dari para Elf. Aku kurang tahu bagaimana menjelaskannya, hanya saja … Nenek menceritakan hal ini kepadaku.”


“Kakek lahir beberapa ribu tahun kemudian semenjak nenek menjaga Robur Spei. Para Peri murka, karena nenek lebih memilih kakek dibanding menjaga Robur Spei tanpa henti, dan itulah yang menjadi alasan … Para Elf tidak lagi menjaga Robur Spei.”


“Mereka memilih mengikuti ke mana pun nenek, begitukah?” tukasku yang memotong perkataannya.


Ryuzaki menganggukkan kepalanya, “nenek, menginginkan kita untuk menyelamatkan Robur Spei, dia merasa bersalah karena gagal menjaganya, tapi di sisi lain … Dia tidak ingin menghancurkan keluarga Putrinya. Jadilah dia mengurung sebutir telur burung yang nantinya akan membantu cucunya untuk tidak perlu mengorbankan dirinya sendiri … Dia mendatangi Naga yang dimiliki cucunya, meminta Naga itu untuk melakukan kontrak jiwa agar cucunya tidak terluka jika nanti dia menggunakan sihirnya untuk membantu orang lain.”


"Bagaimana kau menjelaskan tentang sihir yang sama, yang ada di Kerajaan lain. Aku pernah menemukan benda yang memiliki sihir yang sama,” ucapku kembali kepada Ryuzaki.


“Maksudmu kotak hitam yang mengeluarkan bunyi itu? Kenapa tidak menanyakannya langsung kepadanya, maksudku kepada laki-laki itu.”


“Kau mengenal Zeki?”


Ryuzaki melirik ke sudut kiri matanya, “tidak ada yang bisa aku katakan lagi. Ada sesuatu yang seharusnya tidak perlu kau ketahui demi kebaikan dirimu sendiri, kakak,” ucapnya beranjak berdiri.


Aku ikut beranjak berdiri sambil meraih tangannya, “setidaknya berikan aku petunjuk, sekecil apa pun itu,” tukasku yang masih menggenggam lengannya sembari melangkahkan kaki di sampingnya.


Ryuzaki masih menggelengkan kepalanya dengan tetap melangkah maju ke depan, “Ryu, jangan membuatku tidak tenang dalam rasa penasaran ini,” rengekku yang masih dibalas gelengan kepala olehnya.


“Setidaknya, katakan saja padaku, kenapa nenek meninggal?”


Ryuzaki menghentikan langkahnya sebelum dia berbalik menoleh ke arahku, “nenek terlalu banyak menggunakan sihir terlarang itu. Aku pun, akan sepertinya jika aku menggunakannya beberapa kali lagi. Aku, telah menukar sebagian nyawaku untuk membawa kembali pulang seseorang yang berharga untukku … Aku, ingin dia memilih jalan hidup lain agar aku tidak perlu melihatnya terluka untuk yang sekian kalinya. Jika pun nanti, dunia ini gelap oleh hilangnya Robur Spei, dunia para Elf yang diciptakan oleh sihir nenek dan juga kakek, sudah lebih dari cukup untuk menyelamatkan keluarga kita. Karena itu, Sa-”


“Aku tidak bisa melakukannya,” ucapku yang dengan cepat memotong perkataannya.


“Aku mengetahui jika dunia ini akan hancur, aku mengetahui jika banyak orang yang tidak bersalah yang akan menjadi korban. Dan aku melarikan diri, hanya karena aku mengetahui jika kepalaku akan dilubangi oleh cakar Naga milik Kaisar lalu menjadi santapannya … Aku, tidak seegois itu,” ucapku, aku menghela napas sembari mengangkat tangan melepaskan genggaman tanganku di lengannya.


“Aku tidak ingin melakukannya, aku tidak ingin lagi melakukannya!”


“Eh? Tapi, tapi aku, tapi aku belum mengucapkan apa pun,” ujarku sambil menunjuk ke diriku sendiri.


“Aku sudah mengetahui apa yang ingin kau ucapkan, aku … Tidak ingin melakukannya lagi. Jangan pergi … Ada seseorang yang terlihat selalu mendukungmu, tapi dia sendiri juga yang akan menyulitkanmu bertemu dengan Kaisar. Ini bukan pertama kalinya kau terlahir menjadi Takaoka Sachi, Miyuki Sakura,” ucapnya, Ryu melirik tajam ke arahku hingga kurasakan tubuhku sedikit bergidik mendengar ucapannya.


“Kau, mengetahui-”


“Aku sudah mengatakannya, jika aku tidak ingin melakukannya lagi … Kesempatanku sudah habis, aku tidak bisa lagi membawamu jika kau mati lagi kali ini. Jangan pergi, lupakan omong kosong mengenai balas dendam, aku mohon padamu, Kakak,” ucapnya seraya berjalan berlalu melewatiku.