
Aku berjalan mengikuti jejak langkah kaki kedua Kakakku. Kutatap Izumi yang berjalan di hadapan kami dengan beberapa kali kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri memeriksa keadaan sekitar.
Langkah kaki kami semakin cepat berjalan tatkala terdengar suara benda terjatuh yang sangat keras. Langkah kakiku terhenti saat kudengar suara tangis Egil menggema di lorong Kastil...
Suara tangis tersebut semakin jelas terdengar saat aku melangkah semakin maju. Kutatap kedua Kakakku yang telah mengangkat pedang mereka masing-masing, tatapan mereka masih menatap lurus ke depan dengan sekali-sekali menggerakkan kepala menoleh ke sekitar.
Pandangan mataku bergerak menatap pedang milikku yang masih menggantung di pinggang. Kuangkat gagang pedang tersebut hingga ia terlepas dari sarung yang melindunginya.
Langkah kaki kami terhenti oleh tatapan tajam berwarna merah di sudut ruangan. Bau anyir darah langsung menepuk-nepuk hidungku tatkala kulangkahkan kaki semakin berjalan masuk ke dalam.
Sinar obor yang bersilap tertiup angin sedikit membantuku melihat. Mayat-mayat Kesatria yang memenuhi lantai semakin mengaduk-aduk isi perutku, kondisi mereka pun sangatlah mengkhawatirkan.
Ada yang terpotong dari atas pinggang hingga ke ujung kaki, ada yang terpotong kepalanya, ada yang kepalanya hanya tinggal setengah bahkan ada yang hanya bersisa paha dan lengan saja.
Organ-organ dalam manusia seperti usus, bahkan otak ikut tercecer ke lantai. Izumi mendorong tubuhku ke belakang menggunakan lengannya saat sepasang mata merah itu semakin berjalan maju ke depan.
Aku diam terpaku saat kurasakan suatu benda terbang cepat melewati tubuhku, kugerakkan kepalaku menoleh ke belakang saat terdengar suara tabrakan keras dari arah belakangku. Lama kutatap tembok yang ada di belakang kami telah hancur berlubang.
Kembali kugerakkan kepalaku menatapi sepasang mata yang merah menyala itu, ikut terdengar suara napas menggebu yang keluar mendekati kami. Aku semakin menggerakkan kaki mundur ke belakang, ikut terlihat Haruki dan juga Izumi yang telah berdiri dengan sebilah tangan di masing-masing genggaman mereka.
"Selamatkan Ayahku. Kumohon," tangisan Egil terdengar, kugerakkan kepalaku menatapnya dengan Niel yang terbaring di pangkuannya.
"My Lord," bisikan Kou di kepalaku terdengar.
"Lux, bantu Egil dan juga Niel di sana. Apa kau mendengarku?" Bisikku pelan padanya.
"Aku mengerti. Serahkan semuanya padaku," bisikan Lux di dekat telingaku menjawab permintaanku sebelumnya.
"Kou, datanglah. Aku membutuhkan bantuanmu," ucapku kembali saat kurasakan rambutku yang tergerai bergerak pelan.
Aku melompat ke samping kanan tatkala pentungan kayu berukuran besar berselimut paku mengarah cepat ke arah kami bertiga. Suara hantaman tersebut sangat keras terdengar hingga lantai tempat kami berdiri sebelumnya hancur berlubang.
"Makhluk menjijikan," bisik Izumi mengarahkan pandangannya menatapi makhluk tadi yang hanya nampak matanya saja.
Tubuhku sedikit terhentak ke depan tatkala suara pukulan keras menghancurkan langit-langit ruangan. Batu-batu yang roboh, terjatuh satu persatu dengan sangat kuat di belakangku. Aku berbalik menggerakkan kepala, kutatap makhluk bermata merah menyala dengan tubuh putih berkilau telah berdiri mengawasi kami dari kejauhan.
"Larilah My Lord. Aku akan mencabik-cabik tubuh makhluk rendahan itu untukmu," bisikan Kou kembali terngiang di kepalaku.
Langkah kakiku semakin cepat berlari melewati reruntuhan batu di sekitar. Tarikan tangan Haruki di tanganku semakin kuat tatkala pintu berukuran besar di ruangan berada tepat di hadapan kami.
Kami berlari menyusuri lorong, semakin cepat langkah kaki kami bergerak tatkala suara longsoran benda terjatuh semakin kuat terdengar di telinga. Kualihkan pandanganku pada Egil yang berlari dengan kedua tangannya menyilang ke dada, kuraih tangannya tadi seraya kugenggam dengan erat agar tak terlepas.
Kami semakin cepat berlari melewati pintu utama Kastil, sinar bulan yang jatuh ke tanah menerangi taman yang mengelilingi kami. Haruki menghentikan langkahnya diikuti genggaman tangannya padaku terlepas.
Aku berbalik menatap bayang-bayang ekor Kou yang keluar dari dalam atap Kastil, ikut terlihat juga kepingan-kepingan es yang meruncing memenuhi dinding Kastil.
"Makhluk apa itu?" Tukas Egil dengan suara bergetar, kualihkan pandanganku menatapnya yang tengah meniup-niupkan udara di telapak tangannya yang lain.
"Apa kau baik-baik saja?" Ucapku padanya.
"Aku baik... Ayah," sambungnya menggerakkan kepalanya ke kanan dan juga kiri bergantian.
"Haruki, bantu kami!" Terdengar suara Izumi diikuti sayup-sayup teriakan yang sangat keras dari dalam Kastil.
Aku berjalan mengikuti Egil yang telah berlari mendekati Izumi, kuarahkan pandanganku pada Haruki yang juga telah berjalan melewati. Aku berjongkok di samping Haruki yang juga telah berjongkok di samping kepala Niel dengan kedua tangannya menggenggam erat lengan Niel yang penuh dengan darah.
"Apa Ayahku akan baik-baik saja?" Terdengar tangisan Egil, diarahkannya pandangan matanya menatap Izumi yang tengah melilitkan kain panjang di lengan Ayahnya itu.
"Entahlah. Lengannya terluka parah, kalau sampai tak segera diobati."
"Ini salahku, jika Ayah tidak mencoba membantuku. Padahal, padahal Ayah telah berhasil membunuh Paman tadi," ucap Egil sesenggukan seraya kedua tangannya menggenggam celana yang dikenakan Niel.
Aku tertunduk tatkala dinding Kastil tiba-tiba roboh dengan sendirinya. Beberapa pecahan batu bahkan mengenai tubuhku, aku menoleh menatap Egil yang masih tertunduk... Darah di dahinya menetes hingga membasahi celana Niel.
"Egil, kepalamu," ucapku mengarahkan telapak tangan menyentuh pipinya.
"Jangan khawatirkan aku. Hanya selamatkan saja Ayahku, kumohon," ucapnya masih tertunduk sembari sebelah lengannya bergerak menyapu darah yang membasahi kepalanya.