
"Mendekatlah kalian semua," ucap Adinata seraya memegang bagian atas buah yang ia katakan Durian tadi lalu digerakkannya tangannya membuka buah tersebut perlahan.
Seketika menyeruak bau yang aku sendiri tidak bisa menjelaskannya, kuangkat telapak tanganku menutup kuat hidungku seperti yang dilakukan Izumi sebelumnya seraya kugerakkan wajahku bersembunyi di belakang pundak Haruki.
"Kenapa kalian menutup hidung? Aroma buahnya wangi sekali bukan?" ucap Adinata kembali seraya tersenyum ia menatapi kami bergantian.
"Co-cobalah," ungkap Danurdara mengikuti, kualihkan pandanganku padanya yang mengarahkan kedua tangannya ke arah kami.
Kuarahkan pandanganku ke sekitar, semuanya diam tak bergeming. Pandangan mataku terjatuh ke arah Julissa yang terlihat pucat pasi dengan kedua tangan menutupi hidungnya.
"Sa-samantha, ka-kau ha-harus me-mencobanya. Bu-buah i-ini ra-rasanya ma-manis da-dan e-enak se-sekali, ka-kau pa-pasti me-menyukainya," ungkapnya, kugerakkan pandanganku pada Danurdara yang tersenyum menatap ke arahku.
"Mendekatlah Hime-sama, Adikku ingin kau mencobanya," ungkap Adinata seraya mengangkat lalu melambaikan telapak tangannya padaku.
"Nii-chan, selamatkan aku," bisikku pelan di belakang Haruki.
"Apa Ayah mengajari kita untuk menolak jamuan yang diberikan Tuan rumah?" balas Haruki berbisik, kutatap ia yang masih menatap lurus ke depan.
"Hime-sama," ucap Adinata kembali, kali ini tersirat senyum dingin mengukir di wajahnya.
"Siapa itu Hime-sama? Apa aku mengenalnya?" ungkapku seraya mencoba mengalihkan pandangan darinya.
"Samantha-chan," ucapnya kembali, tertunduk aku seraya berusaha untuk beranjak dengan sebelah tangan masih menutupi hidungku. Melangkah aku dengan sangat perlahan mendekati Danurdara dan duduk di sampingnya.
"Yang mana yang harus aku makan?" ucapku menatap Danurdara dengan suara bergetar.
"I-ini ma-makanlah," ucapnya seraya mengarahkan ujung jarinya mengambil buah berwarna kuning itu, diarahkannya buah tadi mendekatiku.
Kuarahkan wajahku mendekati buah yang dipegang Danurdara tadi, perutku terasa diaduk-aduk ketika aromanya semakin kuat menusuk hidung. Mataku berair tanpa sadar saat kulepaskan telapak tanganku yang menutupi hidung sebelumnya...
Kugerakkan wajahku semakin mendekati buah tadi seraya kubuka bibirku perlahan mendekatinya. Aroma dari buah tersebut seakan langsung menusuk ke kepalaku saat bibirku menempel padanya, kugerakkan mulutku menggigit buah berwarna kuning yang dipegang Danurdara itu.
Menunduk aku dengan telapak tangan menutup mulutku, air mataku semakin deras keluar saat aroma buah yang memusingkan itu memenuhi rongga mulutku. Beranjak aku berdiri seraya berlari aku menuruni gubuk tersebut...
Kulangkahkan kakiku semakin cepat menjauhi gubuk tersebut, berhenti aku di belakang sebuah pohon besar. Berjongkok seraya tertunduk aku di sampingnya...
Buah yang diberikan Danurdara sebelumnya keluar kembali dari rongga mulutku. Kutepuk-tepuk dadaku untuk mengurangi rasa mual yang mengelilingi kerongkongan, duduk aku bersandar di samping pohon tersebut seraya kugerakkan gigiku bergerak-gerak menyapu lidah.
Kugerakkan tubuhku beranjak berdiri, berjalan aku kembali mendekati gubuk seraya kuarahkan pandanganku ke atas beberapa kali. Menunduk aku seraya kugerakkan telapak tangan kananku menggosok belakang leher, rasa mual nan memusingkan itu masih menyelimuti tubuhku.
"Kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja," ucapku membalas bisikan Lux.
Kuarahkan pandanganku ke arah mereka yang juga menatap ke arahku, bergerak aku mendekati tangga kayu yang ada di gubuk tadi. Kuarahkan pandanganku ke lantai gubuk, tampak buah berduri tadi telah menghilang digantikan dengan teko tembikar berserta banyak cangkir yang mengelilinginya...
Melangkah aku melewati mereka tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Duduk aku di samping Haruki seraya kusandarkan kepalaku di pundaknya.
"Kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja," ucapku pelan menjawab suara Julissa yang terdengar.
"Ma-maaf, a-aku ti-tidak ta-tahu ji-jika a-aroma bu-buah i-ini me-membuat ka-kalian i-ingin mu-muntah," ucap Danurdara, kualihkan pandanganku ke arahnya yang berjalan mendekat.
"Aku baik-baik saja, tidak perlu merasa bersalah seperti itu Danur. Aku sendiri lah yang awalnya memutuskan untuk memakannya," ucapku tersenyum menatapnya.
"Ada apa?" ucapku, kugerakkan kepalaku menatapi Adinata yang melihat ke arahku.
"Maaf," ucapnya seraya menggerakkan telapak tangannya menempel satu sama lain di hadapannya.
"Aku baik-baik saja," ungkapku padanya.
"A-apa ka-kau i-ingin mi-minum?"
"Terima kasih," ucapku seraya meraih cangkir yang ia berikan padaku, kuarahkan cangkir berisi air tadi ke mulutku sembari kuminum air yang ada di dalamnya perlahan.
"Kalian berdua terlihat akrab sekali," ucap seorang perempuan, kuarahkan pandanganku pada Putri Khang Hue yang menatapku.
"Aku maksudnya? Dengan?" ucapku lagi seraya kuturunkan cangkir tadi menyentuh pahaku.
"Pangeran Danurdara."
"Aku dan Danur?" ungkapku lagi, menoleh aku ke arah Danurdara yang juga balas menatapku.
"Apa Putri Julissa tidak menceritakannya kepadamu Putri?" sambungku, kualihkan pandanganku menatap padanya.
"Menceritakan apa?"
"Kalau aku dan Pangeran Danurdara dulu adalah sepasang kekasih, karena aturan konyol itu... Aku harus merelakannya bertunangan dengan Perempuan lain, tapi seperti yang kau tahu... Mati satu tumbuh seribu, aku punya banyak sekali cadangan laki-la..."
Perkataanku terhenti, menoleh aku ke arah Zeki yang tertunduk dengan pecahan cangkir tembikar di genggamannya. Diangkatnya kepalanya menatapku...
"Pangeran Zeki, tanganmu..." ucap Putri Khang Hue mengalihkan pandangannya dariku.
Ikut kualihkan pandanganku pada telapak tangannya tadi, darah menetes dari sela-sela jarinya. Beranjak aku berjalan mendekatinya, duduk aku di hadapannya seraya kuraih pergelangan tangannya yang digenggam oleh Putri Khang Hue sebelumnya...
"Buka genggaman tanganmu," ucapku tertunduk menatap telapak tangannya.
Dibukanya telapak tangannya tadi, kuraih dan kuangkat pecahan-pecahan tanah liat yang tertancap di telapak tangannya. Menoleh aku ke arah Julissa yang duduk di samping Adinata...
"Julissa, pita gaunmu," ucapku seraya mengangkat telapak tanganku ke arahnya.
"Baik," jawabnya, beranjak berdiri Julissa seraya dilepaskannya pita yang mengelilingi pinggangnya. Berjalan ia mendekati sembari diletakkannya pita tadi di telapak tanganku.
Kugenggam pita merah miliknya tadi seraya kuarahkan pita tadi mengelilingi telapak tangan Zeki. Kugerakkan tanganku mengikat pita tadi menjadi simpul di atas telapak tangannya, kuangkat kepalaku menatapnya yang juga tertunduk menatapku.
"Aku telah membantumu mengobati luka tunanganmu, Putri. Pastikan kau memberikanku bayaran yang setimpal," ucapku seraya mengalihkan pandangan dari Zeki, kutatap Putri Khang Hue yang tertegun dengan mata sedikit membesar menatap ke arahku.
"Apa kau tidak tahu malu!" teriaknya, kurasakan tamparan keras yang ia lakukan di pipiku.
"Apa kau juga ingin menggoda tunanganku? Kau menjijikan sekali! Perempuan menjijikan yang berlari dari satu lelaki ke lelaki yang lain!" teriaknya lagi lebih keras.
"Menjijikan ya?" ucapku yang masih tertunduk.
Kuarahkan telapak tanganku yang memegang pipiku sebelumnya seraya kugerakkan telapak tanganku tadi melingkar di leher Zeki. Beranjak aku berdiri seraya kugerakkan wajahku mendekati wajah Zeki sembari kuarahkan bibirku menyentuh bibirnya...
Kugerakkan kepala Zeki terbenam di pundakku sedangkan telapak tanganku mengusap-usap rambutnya. Menoleh aku ke arah Putri Khang Hue yang masih membelalakkan matanya ke arahku...
"Maafkan perempuan menjijikan sepertiku ini, yang telah berani mencuri ciuman dari tunanganmu, Putri," ungkapku seraya kembali mencium kepala Zeki di hadapannya.