Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCXLIII


"Putri," terdengar suara ketukan dari luar pintu, aku beranjak berdiri sembari merapikan rambutku yang sedikit berantakan.


Kugerakkan tubuhku berbalik melangkah menjauhi meja rias, kedua kakiku melangkah semakin mendekati pintu yang masih berbunyi kan ketukan itu.


"Ada apa Tsu nii-chan?" Ucapku, kutatap dia yang berdiri tegap di depan pintu saat tanganku bergerak membukanya.


"Pangeran Haruki dan Pangeran Izumi memanggilmu sekarang," ucapnya seraya menggerakkan tubuhnya mundur beberapa langkah.


"Apa terjadi sesuatu?" Ungkapku, aku berbalik menggerakkan pintu kamar hingga tertutup rapat seperti sebelumnya.


"Pangeran Izumi tiba-tiba sakit, dan dia memintaku untuk menjemputmu," ucapnya ikut melangkahkan kaki di sampingku.


Izumi tipe manusia yang tak akan mudah terserang penyakit, apa terjadi sesuatu?


"Baiklah, aku mengerti," ungkapku, kugerakkan kepalaku tertunduk menatapi kedua kaki yang melangkah bergantian.


"Apa kau baik-baik saja Putri, selama jauh dari Istana?"


"Eh?" Ucapku mengangkat kepalaku menatapnya.


"Bagaimana keadaanmu selama ini Putri?" Ucapnya lagi padaku.


"Aku baik-baik saja, hanya sedikit merindukan Istana, merindukan kamarku, tempat tidurku, bak mandiku. Terlebih lagi, aku merindukan Tsu nii-chan yang selalu membantuku mengurus semua keperluanku..."


"Aku harus menjaga sedikit sikapku sekarang. Karena mungkin dulu jika aku berpergian kemanapun, puluhan Kesatria akan ikut menemani termasuk Tsu nii-chan. Tapi sekarang, saat hanya ada kami... Aku harus lebih mementingkan keselamatan mereka, walaupun aku tahu kemampuan bertarung mereka memang tak perlu diragukan," ucapku tertahan, kugigit kuat bibirku sembari kedua mataku masih terpaku menatap kedua kakiku yang bergerak pelan.


"Kau melakukan semuanya dengan sangat baik Putri. Aku, benar-benar bangga padamu," tukasnya diikuti tepukan pelan beberapa kali di punggungku.


Langkahku terhenti, air mataku tiba-tiba menetes jatuh. Kuangkat kedua telapak tanganku mengusapnya pelan beberapa kali, sesekali kuhirup kuat banyak udara di sekitar untuk memenuhi dadaku yang terasa sangat sesak.


"Putri," ucapnya ikut menghentikan langkah, diangkatnya telapak tangan kanannya ke arahku.


"Terima kasih," sambungku tersenyum menatapnya, kuraih telapak tangannya tadi yang langsung menggenggam erat tanganku seperti dulu.


____________________


"Nii-chan, apa kau di dalam?" Ungkapku, diikuti ketukan pintu yang dilakukan Tsubaru di samping tubuhku.


"Masuklah," terdengar suara Haruki dari dalam ruangan.


Tsubaru menggerakkan tangannya membuka pintu berwarna cokelat yang ada di hadapan kami. Aku menggerakkan kedua kakiku melangkah masuk ke dalam, cahaya matahari yang masuk dari balik jendela yang terbuka menerangi ruangan.


Kutatap Izumi yang tengah berbaring terlungkup di atas ranjang. Matanya tampak fokus menatapi kedua tangannya yang bergerak menggenggam satu sama lain. Kedua kakiku semakin bergerak masuk ke dalam tatkala terdengar suara pintu tertutup dari arah belakang.



"Haru-nii, ada apa ini? Apa terjadi sesuatu?" Ucapku sekali lagi, kuarahkan pandanganku menatap Haruki yang tengah duduk dengan sebelah tangannya memangku kepalanya.



"Jika tak ada yang ingin dibicarakan, aku akan segera kembali ke kamar," tukasku beranjak berdiri kembali.


"Duduklah kembali," ungkap Izumi menarik lenganku.


"Ayah meminta kita untuk tidak kembali ke Kerajaan apapun yang terjadi," ucap Haruki, kualihkan kembali pandanganku menatapnya yang juga balas menatapku.


"Kenapa? Apa ada masalah?" Ungkapku, kembali aku duduk di samping ranjang saat genggaman Izumi terlepas di tanganku.


"Aku tidak tahu pasti kenapa, hanya saja..." Tukas Haruki, diangkatnya kepalanya bersandar di salah satu kayu yang menyangga ranjang tempat kami duduk berkumpul.


"Hanya saja?" Tanyaku tak sabar, Haruki kembali mengarahkan pandangannya menatapku.


"Apa kau ingat Kerajaan Balvia yang dulu pernah sempat aku ceritakan," ucapnya lagi padaku.


"Kerajaan yang berkerja sama dengan Kekaisaran, dan sempat menguasai ekonomi sebelum kita menggantikannya. Aku benar bukan?" Ucapku, dibalas perkataanku tadi oleh anggukan pelan yang dilakukan Haruki.


"Aku sempat mendapatkan kabar dari seorang mata-mata milikku jika mereka, mengibarkan bendera perang pada Kerajaan kita. Dan kemungkinan besar, Ayah, melarang kita kembali untuk keselamatan kita," ucapnya lagi padaku.


"Aku pikir, berita yang dikabarkan tersebut kecil kemungkinan kebenarannya. Akan tetapi melihat reaksi Ayah yang langsung mengirim ketiga pelayan pribadi kita, sedikit menjawab semuanya," ucap Haruki kembali menatapi kami bergantian.


"Lalu apa gunanya kita menjadi Pangeran dan juga Putri, kalau kita harus lari saat Kerajaan sendiri diserang. Ayah benar-benar," sambung Izumi menggenggam erat kedua tangannya.


"Kita memanglah Pangeran dan juga Putri, tapi bagi mereka semua, kita sudah mati. Dan, selama ini Kerajaan kita sedikit ada intrik di dalam Kerajaan, beberapa bangsawan mendesak Ayah kita untuk menikah lagi, karena mereka mengkhawatirkan calon penerus yang akan memimpin Kerajaan," lanjut Haruki, digerakkannya kedua lengannya menyilang di dada.


"Lalu, apa yang akan kita lakukan? Berdiam diri?" Sambung Izumi menggerakkan tubuhnya berbaring terlentang di ranjang dengan sebelah lengannya diletakkan di atas dahi.


"Walaupun Ayah melarang, aku akan tetap kembali ke Kerajaan. Aku tidak akan membiarkan antek-antek Kekaisaran mengambil satu nyawa pun dari rakyat kita," ucapku, ikut kugenggam kedua tanganku dengan sangat kuat.


"Aku sudah memperkirakan kalian akan mengatakan hal tersebut. Tapi sebelum itu," ungkap Haruki mengangkat tangan kanannya memijat-mijat pelan kepalanya.


"Tatsuya, Tsutomu, Tsubaru, dan juga Daisuke. Kita harus mengecoh mereka agar dapat kembali, jika tidak mereka akan menahan kita mati-matian di sini..."


"Lagipun, aku masih menunggu kebenaran berita ini dari seorang mata-mata yang aku pekerjakan di Kerajaan Balvia. Sebelum aku memastikannya, pastikan kalian bertindak seperti tidak terjadi apapun di hadapan yang lain," sambung Haruki kembali menatapi kami bergantian.