Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXLVIII


"Apakah kau sudah melaksanakan semua perintahku, Gritav?" Tanyaku saat dia melangkah mendekat diikuti kuda milikku di belakangnya.


"Semuanya telah dilaksanakan, Hime-sama. Aku telah memerintahkan beberapa anak buahku untuk memberi kabar pada pasukan yang lain," jawabnya dengan menghentikan langkah kakinya di depanku.


Aku berjalan mendekatinya, kugerakkan tubuhku menaiki kuda yang ada di belakang Gritav, "kerja bagus," ucapku dengan sebelah tangan meraih tali kekang kuda yang aku tunggangi di telapak tangannya.


"Hime-sama, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Ungkapnya bersuara, kuarahkan wajahku menatapnya yang telah berdiri di samping kuda yang aku tunggangi, "apa yang ingin kau tanyakan? Aku akan berusaha menjawabnya," ungkapku seraya kedua tanganku bergerak mengikat rambutku yang tergerai.


"Aku, benar-benar tidak mengerti. Bagaimana caramu berpikir, Hime-sama?" Tanyanya yang masih menatapku tak bergeming.


"Haru nii-chan, menceritakan bagaimana pertama kali kalian bertemu, saat itu ... Rekan-rekanmu sesama Kesatria meninggalkanmu sendirian hingga kau ditangkap oleh para Kesatria dari Kerajaan kami bukan? Sejak saat itu, kau mengubah penampilanmu bukan?" Tanyaku, kutatap dia yang tertunduk dengan menggenggam kuat kedua tangannya.


"Aku mengatakannya, bukan karena ingin mengorek masa lalumu, Gritav. Kau, pasti sedikit mengerti bagaimana kami, para perempuan harus mati-matian untuk bertahan hidup."


"Dan kami, para perempuan ... Tubuh kami tidaklah terlalu kuat seperti kalian para laki-laki, karena itulah ... Aku hanya bisa mengandalkan otakku untuk bertahan hidup," ucapku diikut helaan napas yang pelan keluar.


"Jika kau lemah, kalahkan musuh dengan kepintaranmu. Jika kau tak pintar, kalahkan musuh dengan hanya mengandalkan nyalimu. Jika kau tak memiliki keduanya, maka rangkul sebanyak mungkin teman hingga tak ada seorang pun yang mampu menjadikanmu musuh..."


"Terdengar berbeda bukan? Padahal maksud dari kata-kata itu sama, yang membedakan hanya bagaimana caranya kita menempatkan hal tersebut pada posisi yang kita alami sekarang. Mencari teman terlebih dahulu atau menggunakan kepintaran untuk mencapai tujuan," sambungku, aku sedikit tersenyum ke arahnya saat dia menatapku.


"Aku, hanya akan mengatakan intinya ... Posisi kita sekarang sangatlah lemah dibandingkan mereka jika hanya mengandalkan kekuatan. Kita, bahkan tidak mempunyai senjata untuk mendobrak benteng mereka bukan?" Tanyaku kembali padanya.


"Karena itu, mereka akan lengah dan langsung mengolok-olok kita yang hanya seperti ini. Aku, hanya memanfaatkan kelemahan mereka itu," sambungku, kugerakkan kepalaku menatap jauh ke arah benteng Kerajaan Tao.


"Maksudnya?"


"Maksudnya, mereka telah jatuh di dalam rencana yang aku buat. Tunggulah dan persiapkan dirimu Gritav, kita akan menembus benteng tinggi tersebut," ucapku sedikit melirik ke arahnya.


Kugerakkan kuda yang aku tunggangi itu berjalan meninggalkan Gritav, "Eneas!" Teriakku memanggil namanya, Eneas sedikit menoleh dari atas kuda yang ia tunggangi saat kuda milikku berjalan semakin mendekatinya.


"Bagaimana kabar semua pasukan kita?" Tanyaku, aku sedikit melirik ke arahnya yang kembali menatap lurus ke depan. "Mereka, melakukan semua yang nee-chan perintahkan, beberapa dari mereka memasak daging kuda tersebut, sedangkan yang lainnya berjaga di samping mereka dari kemungkinan panah yang ditembakkan musuh," ucap Eneas, diangkatnya jari telunjuknya ke arah gerombolan para Kesatria yang tengah menghidupkan api di dekat benteng Kerajaan Tao.


"Nee-chan, menurutmu ... Berapa besar kemungkinan kita memenangkan peperangan ini?" Eneas balik bertanya, kutatap dia yang telah beralih menatapku.


"Entahlah, tapi aku ... Termasuk dari salah satu manusia yang akan mempercayai semua perkataanmu." Ungkapnya sembari kembali menatap lurus ke depan.


Pandangan mataku kembali teralih ke arah gerombolan para Kesatria yang tengah mengangkat potongan-potongan daging yang besar mendekat ke arah api yang mereka nyalakan. Asap yang membumbung tinggi tatkala daging-daging tersebut menyentuh api, memenuhi langit di sekitar mereka.


Bau harum dari daging yang dibakar benar-benar mengusik hidungku, kugigit kuat bibirku tatkala suara pelan terdengar dari arah perutku. "Apa kau lapar nee-chan?" Eneas kembali bersuara, kuarahkan pandanganku melirik ke arahnya, "kau pun, sama laparnya bukan?"


Dia tertunduk dengan sedikit tersenyum, "aku lapar, karena itu ... Aku ingin menyelesaikan ini secepatnya," ucapnya dengan kembali mengangkat wajahnya.


"Hime-sama," kugerakkan kepalaku menoleh ke belakang, "ada apa, Hongli?" Tanyaku kepada Arata yang telah menggerakkan kudanya berjalan mendekati kami, ikut kutatap Cia yang duduk dengan menundukkan kepala di depannya.


"Pedang atau panah?" Tukasnya kembali, kedua tangannya terangkat ke atas dengan pedang dan juga busur panah lengkap dengan tabung berisi anak panah di masing-masing telapak tangannya. "Kedua-duanya, berikan aku panah dan juga pedang," ungkapku menjawab perkataannya, kuraih tabung berisi anak panah yang ada di tangannya sembari kugerakkan tabung tersebut menggantung di punggungku, kembali kuraih pedang yang ada di tangannya yang lain seraya kuletakkan pedang tersebut menempel di pinggangku.


"Hongli," ucapku kembali kepada Arata seraya tanganku bergerak meraih busur panah yang ada di tangannya, "jaga Cia baik-baik, jangan sampai musuh melukainya," Sambungku kembali padanya.


"Bagaimana denganmu sendiri, Hime-sama?" Tanyanya terdengar khawatir, "aku akan baik-baik saja. Aku tidak selemah yang kau pikirkan," ucapku sedikit tersenyum menatapnya sebelum kembali menatap lurus ke arah benteng Kerajaan Tao.


"Semuanya, bersiap di posisi kalian masing-masing!" Teriakku lantang, rasa kering yang memenuhi kerongkongan, ku abaikan begitu saja.


Aku sedikit melihat ke belakang, beberapa orang Kesatria yang tersisa telah berbaris rapi di belakangku. Kutatap salah seorang laki-laki yang menunggangi kudanya ke arah kami, laki-laki tersebut berhenti di samping Arata seraya diberikannya tombak yang ia genggam sebelumnya kepada Arata.


"Kau bisa menggunakan tombak?" Tanyaku, Arata kembali mengarahkan kepalanya menatapku, "jangan meremehkan sepuluh wakil kapten, Hime-sama," ucapnya setengah berbisik dengan telapak tangannya menempel di ujung bibirnya.


"Mendengarmu mengatakan hal tersebut, membuatku semakin penasaran bagaimana para pilar Kerajaan Sora bertarung," ucapku kepadanya menggunakan Bahasa Jepang.


"Maka, pelayanmu ini ... Akan dengan senang hati memberikan pertunjukan yang sangat menarik untukmu, Hime-sama," balasnya dengan sedikit tersenyum kecil kepadaku.


Suara keriuhan yang sedari tadi terdengar semakin lama semakin jelas mengetuk telingaku. Kuletakkan busur panah yang aku genggam tadi di atas pahaku seraya kedua tanganku beralih menggenggam kuat tali kekang yang mengikat kudaku itu.


Semakin asap dari pembakaran daging tersebut membumbung ke atas, semakin riuh juga suara teriakan dari arah benteng musuh. Pandangan mataku beralih ke atas benteng, beberapa Kesatria yang ada di sana tampak kewalahan menahan dorongan dari para laki-laki yang ada di hadapannya, bahkan ... Beberapa dari Kesatria Kerajaan Tao yang berdiri di atas benteng, jatuh ke belakang karena dorongan sesak yang ada di atas benteng tersebut lalu diam tak bergerak setelah tubuhnya jatuh ke atas tanah.


"Hime-sama," suara Gritav kembali terdengar, kugerakkan kepalaku kembali menoleh ke arah belakang, "kami telah siap untuk menyerang," ucapnya kembali, kuda yang ia tunggangi bergerak pelan mendekatiku, tampak tombak besar yang ada di tangannya sedikit mengkilap saat sinar mentari menjatuhinya.