
“Kami mengerti, Duke,” ucap kami bertiga secara bersamaan.
Aku turut menoleh ke kiri saat Duke yang berdiri di hadapan kami membuang tatapan matanya ke kanan, kutatap Raja Piotr dengan seorang laki-laki tengah berjalan mendekati kami. “Apa kami terlambat?”
Wajahku menoleh ke arah belakang, lebih tepatnya ke arah Ryuzaki ataupun Eneas yang berdiri di belakangku. “Kalian datang tepat waktu," ungkapku yang kembali membuang pandangan ke arah Raja Piotr.
“Kalian semua telah berkumpul? Jika telah selesai, ikuti aku! Ada sesuatu yang ingin aku diskusikan,” ucap Raja Piotr sambil melangkahkan kakinya melewati kami semua.
“Haruki, apa kau mengetahui apa yang ingin dia diskusikan?” suara Izumi yang berbisik di sampingku jelas terdengar.
“Aku pun, sama penasarannya denganmu,” timpal Haruki melangkahkan kakinya menyusul Raja dan juga Duke.
“Jadi,” suara laki-laki terdengar diikuti rangkulan di pundakku, “apa yang kalian berdua lakukan? Kenapa kau dan Pangeran itu datang bersamaan?” bisiknya saat aku pun telah melangkahkan kaki mengikuti mereka semua.
“Aku dan dia, hanya tidak sengaja berpapasan di jalan menuju ke sini. Percayalah kepadaku,” tukasku balas berbisik sambil menepuk-nepuk tangannya yang merangkulku itu.
“Jangan membuka atau memberikan harapan apa pun pada laki-laki lain. Aku, benar-benar tidak menyukainya saat kau berbicara pada laki-laki selain keluargamu, Takaoka Sachi.”
“Maafkan aku, aku tidak bisa berjanji akan hal itu … Kami harus mendapatkan banyak sekutu, kecuali menikahi mereka, maka aku akan melakukan apa pun. Apa kau lupa apa yang aku lakukan saat kita menyerang Il? Mungkin aku, akan melakukan hal yang sama kedepannya.”
“Aku mengatakannya, bukan untuk membuatmu khawatir … Namun aku, mengatakannya karena ingin, mendapatkan kepercayaan dari pasanganku sendiri,” ucapku kembali sambil menatap ke arahnya yang berjalan tepat di sampingku.
“Mengatakannya memanglah mudah, namun melakukannya sangatlah sulit.”
“Sulit bukan berarti mustahil, bukan? Jika aku, memang ingin menikahi laki-laki lain, aku telah melakukannya sedari dulu,” timpalku sembari membuang pandangan ke depan.
Langkah kakiku ikut berhenti, ketika Raja Piotr juga menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu besar berdaun dua. Langkah Raja Piotr kembali berlanjut saat dua Kesatria yang berjaga di depan pintu itu membukanya, aku kembali berjalan memasuki ruangan pertemuan … Lagi-lagi, kedua kakiku berhenti melangkah saat Raja itu pun duduk di singgasananya dengan seorang laki-laki yang menjadi Duke Kerajaan mereka dan juga Pangeran Ryszard berdiri di kanan dan kirinya.
“Apa, yang ingin kau diskusikan dengan mengajak kami semua ke sini,” ungkap Haruki yang membuka pembicaraan, aku melirik ke arahnya yang berdiri dengan Izumi dan juga Duke Masashi di kanan dan kiri tubuhnya.
“Aku, tidak memberikan izin untuk Putriku dan juga laki-laki yang tidak diketahui asalnya bertunangan,” kata-kata Raja Piotr dengan cepat membuat mataku membesar.
“Apa yang kau maksudkan?” tanyaku, yang langsung berjalan melewati mereka semua.
“Aku, hanya mendengar jika Raja Takaoka Kudou memiliki empat anak, dua pangeran dan dua putri. Salah satu Putri, telah dieksekusi lima belas tahun yang lalu, aku bisa memaklumi laki-laki yang ada di sebelah sana karena wajahnya mirip sekali denganmu, Putri … Namun, aku tidak mendapatkan kabar apa pun mengenai adik terkecil kalian.”
“Putriku, Aniela. Seringkali membicarakan bahwa dia akan menikahi Pangeran Kerajaan Sora, jadi aku telah mencari informasi apa pun mengenai Kerajaan kalian. Putriku sangatlah pandai, dia dapat mengerti apa pun sejak kecil, bagaimana mungkin aku memberikannya kepada dia-”
“Aku belum selesai melakukannya … Aku, akan melanjutkan kerja sama kita jika saja Putri yang dikenal sangat pandai sejak dia berumur tiga tahun itu menjadi Putri di Kerajaan kami,” ungkap Raja Piotr sambil melirik ke arahku.
“Kau!”
Aku menoleh ke arah Zeki, kuangkat telapak tanganku ke arahnya agar dia bisa sedikit menenangkan diri. “Lancang sekali, jika kau mengatakan bahwa Eneas bukanlah adikku,” ungkapku kembali berbalik menatapi Raja Piotr.
“Eneas, adik kami. Sebenarnya, dia disembunyikan Ayah bersama saudara kembarku dan juga Ibu di suatu tempat untuk keselamatan mereka, aku benar kan, kakak?” ucapku berbohong sambil mengarahkan pandangan ke arah Haruki.
“Eneas, apa kau masih ingin bertunangan?”
Haruki menoleh dengan tersenyum ke arahnya, “aku, tidak mengenal Putri tersebut. Aku, tidak masalah jika saja aku yang dipinta untuk bertunangan … Namun, Sachi nee-chan, perempuan yang sangat aku kagumi. Ini terdengar egois, tapi jika harus mengorbankan Sachi nee-chan hanya untuk menjadi sekutu kerajaan kecil ini, bukankah … Itu sama saja menghancurkan harga diri Sora,” tukas Eneas sambil menatap ke arah Raja Piotr.
“Baiklah, sesuai dengan apa yang dikatakan adik kecil kami … Persiapkan semua kebutuhan kalian, kita pergi dari sini saat ini juga!” perintah Haruki sambil melirik ke arah kami bergantian.
"Apa kalian pikir? Kalian dapat pergi dari sini dengan mudahnya?"
Perkataan Raja Piotr yang terdengar, digantikan dengan suara tawa Haruki. Aku membuang pandangan, ke arah Haruki yang berdiri dengan menyilangkan kedua lengannya menatap Raja Piotr.
"Apa kau lupa? Duke kami membawa banyak sekali pasukan bersamanya, Raja Yadgar keluar dari Kerajaannya pasti juga membawa banyak sekali pasukan."
"Putri dari Kerajaan Leta pun, tak bakal lupa akan membawa pasukan mereka untuk mengawalnya. Dan jangan lupakan, Putra Mahkota dari Kerajaan Balawijaya ... Mustahil, jika dia berpergian jauh tanpa membawa banyak pasukan."
"Setidaknya, jangan melupakan aku, sialan!" timpal Aydin memotong perkataan Haruki.
"Kau benar, Aydin. Pemimpin perompak yang harus mengawal tiga pewaris dari tiga Kerajaan besar, pasti pun membawa banyak anak buahnya. Pasukan yang menunggu mereka di luar Istana, memang hanya dapat dihitung oleh jari."
"Namun, pasukan yang menunggu di kapal-kapal yang ada di pelabuhan? Sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan Kerajaan kecil kalian."
"Apa kalian tahu, apa yang terjadi pada Tao?" sambung Haruki sambil melirik ke arahku.
"Tao hancur, di bawah perintah perempuan itu, dengan hanya mengandalkan satu pasukan kecil. Menurutmu, apa yang akan ia lakukan jika dia sendiri yang langsung menggerakkan pasukan yang menunggu kami di pelabuhan?" tukas Haruki kembali, kuperhatikan raut wajah Raja Piotr yang mulai sedikit berubah oleh kata-kata yang Haruki ucapkan.
"Kau tidak tahu malu, bukannya berterima kasih karena dia telah membantu Putramu, tapi kau ingin menyimpannya untuk kepentinganmu sendiri. Adikku, tidak akan semudah itu aku berikan pada seseorang yang menurutku tidak pantas untuknya."
"Bahkan dia," sambung Haruki sambil menunjuk ke arah Zeki yang berdiri, "belum sepenuhnya mendapat kepercayaan dariku," ucapnya lagi, Haruki berbalik dengan melangkahkan kakinya meninggalkan kami.