Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCLXX


"Apa yang terjadi?" Ungkap Haruki meraih kain putih yang ada di dalam tas lalu berjalan mendekat.


"Laki-laki ini... Dia berusaha memberikan Cia pada komplotan laki-laki yang ada di bawah," ucap Izumi menerjang kuat wajah Mas'ud hingga darah memercik lantai.


"Kau salah paham... Aku hanya ingin menyelamatkannya," tukas Mas'ud meringis kesakitan.


"Apa kau pikir aku akan mempercayainya?"


"Jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi Izumi?" Ungkap Haruki mengarahkan kain putih yang ia genggam tadi membungkus luka di lenganku.


"Apa kau membawa kabur Cia saat aku sibuk bertarung?" Ungkapku melirik tajam ke arahnya.


"Aku tidak membawanya lari... Percayalah," ungkapnya menatapku.


"Lalu? Bagaimana kau menjelaskan tanda di tubuhmu? Tanda yang sama seperti mereka?" Ungkap Izumi mengalihkan pandangannya menatap pada mayat yang aku bunuh sebelumnya.


"Bagaimana kau mengetahuinya?"


"Apa kau ingat Haruki, saat dia duduk bersedih di depan makam anak kecil yang kita makamkan? Aku melihat jelas tanda itu saat dia mengusap pundaknya," ungkap Izumi kembali.


"Kau, tidak bisa menipu mataku, mesti kau berada di dalam kegelapan sekalipun," sambung Izumi menginjak wajah Mas'ud yang menatapnya.


"Jadi, kau antek-antek Kaisar," lanjut Haruki berbalik dan berjalan mendekati mereka.


"Katakan? Apa alasan kalian melakukannya?" Sambung Haruki berjongkok di samping Izumi, diarahkannya telapak tangannya itu menepuk-nepuk kepala Mas'ud.


"Tidak ingin berbicarakah?" Ungkap Haruki, sebelah tangannya bergerak mendekati kakinya.


Haruki menarik pisau kecil yang ada di kakinya, diarahkannya pisau tadi mendekati telinga Mas'ud. Haruki menggerakkan pisau tersebut... Perlahan demi perlahan memotong telinga laki-laki itu, kututup kuat mataku saat jeritan pilu terdengar darinya.


"Apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan? Haruskan aku memotong sebelah telinga milikmu yang lain," ucap Haruki melempar daun telinga milik Mas'ud yang ada di tangannya ke wajahnya.


Haruki memukul kuat wajah Mas'ud saat wajahnya diludahi oleh laki-laki itu. Haruki mengangkat genggaman telapak tangannya dari wajah Mas'ud, kutatap darah yang sedikit menetes dari telapak tangannya itu.


Mas'ud menggerakkan kepalanya ke samping, hidungnya dipenuhi darah yang keluar dengan bentuk hidungnya yang bergeser ke samping tak seperti sebelumnya. Haruki kembali mengarahkan tangannya mencengkeram erat rambut laki-laki itu.


"Kalian bodoh," ucap Mas'ud dengan suara tawa yang keras keluar.


"Apa kalian pikir, kalian dapat melawan Kaisar?" Ungkapnya kembali saat kepalanya terangkat oleh cengkeraman Haruki.


"Kaisar sangat berkuasa. Kaisar... Perintah Kaisar, membuatku menjadi pecundang. Aku, aku bahkan mengkhianati desa ku sendiri, aku bahkan membakar anakku sendiri... Bunuh aku, agar siksa ini segera lepas dariku," ucapnya kembali diiringi suara sesenggukan yang ia keluarkan.


"Apa yang Kaisar lakukan padamu? Perintah apa yang ia berikan untukmu? Sebelum mati, jawab dahulu pertanyaanku... Setidaknya, kematian Putrimu tak berakhir sia-sia," ucap Haruki mengarahkan wajahnya mendekati telinga Mas'ud.


"Aku... Berkerja sebagai pe..." Ucapan Mas'ud terhenti.


Aku melangkah mendekati mereka, kutatap Mas'ud yang terbaring tak bergerak dengan mulut menganga. Matanya... Hanya bagian putihnya saja yang terlihat. Seluruh tubuhnya... Dipenuhi lebam hitam.


"Sihir?" Ungkapku mengulangi perkataannya.


"Sihir? Apa yang kau maksudkan?"


"Aku tidak tahu... Hanya saja, Kou mengatakan jika sihir yang menyerang Mas'ud... Hampir sama dengan sihir yang menyerangku dulu," ungkapku duduk berjongkok di samping Haruki.


"Apakah itu berarti, sihir ini berasal dari orang yang sama?" Ucap Izumi ikut duduk berjongkok.


"Mungkin... Seperti disumpah darah," ucap Haruki beranjak berdiri.


"Sumpah darah?"


"Apa kau tidak mengetahuinya? Apa Tsubaru tidak menjelaskannya kepadamu?" Sambung Izumi menimpali perkataanku.


"Tsubaru pernah menyebutkannya... Hanya saja, aku tidak terlalu paham akan hal itu."


"Semenjak Ibumu meninggal. Ayah memerintahkan Tatsuya, Tsutomu dan juga Tsubaru untuk bersumpah darah. Saat itu, pertama kali aku keluar dari Istana tempat tinggal ku sebelumnya..."


"Ayah mengajak seorang Agung untuk melakukan sumpah darah pada kita bertiga. Dengan begitu, Tatsuya, Tsutomu dan juga Tsubaru akan langsung kehilangan nyawanya jika mereka berkhianat pada kita. Mungkin, dia juga melakukan sumpah darah itu dengan majikannya," ucap Haruki kembali.


"Apakah mungkin... Manusia bisa melakukan sihir?" Ungkapku ikut beranjak mengikuti mereka.


"Tentu saja tidak," teriak Lux, aku bergerak menatapnya yang tengah bersusah payah menarik tas milik Haruki.


"Kalian makhluk terendah di antara semua makhluk, kecuali hewan. Kalian sama halnya dengan hewan, maksudku... Seringkali, tubuh kalian menjadi santapan dari beberapa makhluk," tukas Lux kembali, tubuhnya kembali bergerak bersandar pada tas milik Haruki.


"Jadi menurutmu?"


"Manusia tidak dapat menggunakan sihir, bahkan kami bangsa Peri... Hanya bisa menggunakan sihir jika robur spei tumbuh, sama seperti sekarang... Aku sama sekali tidak bisa melakukan sihir apapun," tukas Lux lagi.


"Lupakan hal itu sejenak, aku hanya masih tidak mengerti akan tempat ini. Bahkan, aku menemukan banyak sekali simbol Kekaisaran di tempat ini," ucap Izumi beranjak dengan kedua tangannya bersilang di dada.


"Aku tidak sengaja saat salah satu dari mereka mengatakan turnamen. Dan pemenangnya, akan menjadi pemimpin tempat ini. Dari yang aku dengar, Kaisar mengutus mereka ke sini untuk mengikuti turnamen itu," ungkapku menatap balik Izumi.


"Turnamen kah?"


"Jika kau menjadi seorang pemimpin... Rahasia apapun akan dengan mudah kau dapatkan," ungkap Haruki kembali menimpali perkataanku.


"Jadi, kita hanya harus memenangkan turnamen?"


"Itupun jika kau dapat memenangkannya Izumi," ucap Haruki menjawab perkataan darinya.


"Tidak masalah, aku hanya akan memenangkan semua pertarungan. Jika salah satu dari kita memimpin tempat ini? Kita akan mendapatkan keuntungan yang bagus untuk kedepannya bukan?" Tukas Izumi yang dibalas anggukan pelan dari Haruki.