Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCXCIII


"Aku tahu kau menyarankan mereka untuk pergi dari tempat mereka tinggal sebelumnya. Akan tetapi, haruskah mereka mengikuti kita?" Bisik Izumi yang menunggangi kuda miliknya di sampingku.


"Katakan nii-chan, apakah ada kepastian yang pasti jika kita akan bertahan hidup di padang pasir ini?" Ungkapku mengarahkan pandangan pada hamparan pasir tak berujung yang ada di hadapan kami.


"Jika kita salah langkah, kita akan mati sia-sia di sini. Akan tetapi, dengan adanya mereka, setidaknya peluang kita untuk bertahan hidup akan sedikit meningkat," ucapku kembali menatap lurus ke depan.


"Namamu Akintunde bukan?" Suara Jabari memecah keheningan, pandangan matanya beralih pada laki-laki yang berjalan di sampingnya.


"Ada apa?" Jawab Akintunde tanpa menoleh ke arah Jabari.


"Kita akan beristirahat sebelum malam tiba," ucap Jabari kembali menatap lurus ke depan.


"Apa kalian ingin mati di telan hidup-hidup oleh tempat ini," ungkapnya, yang diikuti dengan suara bisik tawa oleh beberapa penduduknya yang berjalan di sampingnya.


"Kau!"


"Jabari!" Bentak Haruki saat Jabari mengangkat sebelah kakinya hendak menerjang Akintunde.


"Apa kau dapat menjelaskan apa yang terjadi?" Ucap Haruki menggerakkan kuda miliknya mendekati Akintunde yang masih diam tanpa bersuara sedikit pun.


"Saat siang hari, udara di sekitar akan sangat panas. Jika kau memiliki sedikit air, kau akan mati kehausan. Karena itu, satu-satunya cara ialah berjalan di malam hari lalu tidur di siang hari," ucap Akintunde berbalik menatapku.


"Jadi, kita akan berjalan sepanjang malam?" Ungkap ku balas menatapnya, Akintunde mengangguk membalas perkataanku padanya.


"Yang dikatakannya, ada benarnya nii-chan. Saat tubuh manusia kekurangan air, kemungkinan terburuknya adalah kematian," ucapku beralih menatap Haruki.


"Baiklah, kita akan mengikuti saran darinya," sambung Haruki kembali menatap lurus ke depan.


Rombongan berjalan menapaki padang pasir tak berujung ini, keadaan di sekitar telah menggelap perlahan. Aku berbalik menatapi para penduduk desa yang saling menyilangkan lengan mereka masing-masing...


Jika siang tadi sangatlah panas hingga seluruh isi kepalamu seakan meleleh, semuanya seakan sirna ketika malam datang. Udara di sekitar terasa sangat sejuk, saking sejuknya seakan langsung menusuk-nusuk tulang.


Lengan kananku sesekali bergerak menutupi hidung saat angin yang berembus ikut menerbangkan pasir yang dibawanya. Cahaya yang berasal dari obor yang dibawa oleh beberapa orang tampak sesekali bergoyang tertiup angin...


"Aku ingin tidur," bisik Yoona di belakangku.


"Kau bisa tidur jika ingin Yoona," ungkapku balas berbisik kepadanya.


Harus aku akui, perjalanan kali ini sungguh melelahkan. Aku pun ingin sekali berisitirahat, kepalaku sendiri telah sangat pusing, terlebih lagi... Dadaku yang sudah terasa sangat sesak.


Pertama kalinya untukku, aku berharap pagi segera datang.


"Apakah kalian dapat menjelaskan perjanjian apa yang dimaksud siang tadi?" Ungkap Haruki membuka pembicaraan, kutatap Akintunde yang berdecak lidah menanggapi perkataan dari Haruki.


"Kalian harus ingat, kami membagi persediaan makanan kami untuk kalian juga. Setidaknya, berikan rasa terima kasih dari kalian untuk kami dengan menjawab semua pertanyaan yang kami lontarkan," ucap Haruki kembali kepada Akintunde.


"Suku kami dahulu, pernah melakukan kesalahan pada Kekaisaran. Sebagai hukuman, kami dibuang di tempat ini," ucapnya tertunduk menjawab perkataan Haruki.


"Bukan suatu kesalahan yang besar, hanya saja... Kaisar saat itu sangatlah murka kepada Ketua dan juga para Tetua. Karena itu, kami dibuang di tempat ini." Ucapan Akintunde mengheningkan keadaan sekitar, pandangan mataku kembali teralih pada warga desa itu yang juga diam tertunduk.


"Menurutmu, berapa banyak waktu yang kami miliki?" Ucap Akintunde kembali, ia berbalik menatapku.


"Apa maksudmu?" Ungkap ku membalas tatapannya.


"Maksudku, umur kami, berapa lama kami akan hidup?" Ucapnya kembali menatap lurus ke depan.


"Aku tidak tahu. Aku manusia biasa, sama seperti kalian... Masih banyak hal, yang tidak aku ketahui, terlebih... Jika itu menyangkut takdir seseorang."


"Maaf, jika saja aku bisa membuat obatnya, aku ingin sekali memberikannya kepada kalian. Tapi itu mustahil," ucapku kembali terhenti.


"Kenapa hal itu mustahil, bukankah kau mengetahui penyebab kutukan itu," ungkap salah satu laki-laki dari warga desa itu.


"Penyakit itu, tak bisa disembuhkan dengan mudah, jika saja..."


Jika saja, aku punya banyak waktu untuk menelitinya. Lagi pun, aku membutuhkan banyak sekali peralatan untuk membantu penelitian itu.


"Jika saja?" Ucap laki-laki itu kembali.


"Bukan apa-apa. Lalat yang menyerang kalian bernama Tsetse, jikapun dipastikan sembuh, maka memerlukan beberapa tahun perawatan lagi untuk memastikan penderitanya benar-benar sembuh atau tidak."


"Lagipun, walau merupakan satu penyakit yang ditularkan dari lalat yang sejenis, parasit yang menyebabkan penyakit tersebut tidaklah sama. Beda parasit penyebabnya, beda juga obatnya..." Ungkap ku kembali kepada laki-laki tersebut.


Kenapa, aku tidak mengalami keberuntungan seperti para karakter utama dalam komik maupun novel yang aku baca, di dalam komik maupun novel itu... Para karakter utama, dapat dengan mudah menyembuhkan apapun penyakit yang ada.


Kenyataan, memang tak seindah kehidupan impian yang ada di dongeng.


Lagipun, kenapa juga kau sampai berpikir sebagai karakter utama, Sachi. Ingatlah, kau itu bukanlah siapa-siapa.


"Sachi," ucapan Izumi mengagetkanku, aku berbalik menatapnya yang telah menatapku dengan sebelah tangannya menyentuh pundakku.


"Ehh?"


"Maaf, aku hanya terpikir sesuatu yang lain tadi," ucapku kembali menjawab tatapan Izumi.


"Apa Uki, sudah dapat mengeluarkan air matanya, nii-chan?"


"Apa kau ingin menggunakan air matanya untuk menyembuhkan mereka?" Ungkap Izumi berbisik dengan tangannya meraih kepalaku yang sempat tertunduk.


"Aku, benar-benar ingin membantu mereka," ucapku menjawab pelan perkataannya.


"Aku tahu. Tapi jika kau memang tidak sanggup melakukannya, memberikan suatu harapan palsu akan sangat mengecewakan mereka pada akhirnya..."


"Karena itu Sachi, biarkan mereka membereskan semua masalah yang mereka hadapi sendiri. Lagipun, lihatlah wajah mereka... Mereka terlihat lebih tenang, karena penyakit yang mereka derita bukanlah kutukan. Mereka tidaklah terkutuk seperti yang mereka kira selama ini, dan itu sudah cukup membahagiakan mereka untuk sekarang," ucap Izumi menggerakkan wajahku ke arah warga desa yang tersenyum menatapi seorang anak yang tertidur di gendongannya.