Fake Princess

Fake Princess
Chapter LXV


"Kau tidak tidur, Ayah?" kutatap ia yang tengah membaca sebuah buku bersampul hitam di sofa biru panjang yang ada disisi kamar.


"Ayah belum mengantuk. Kau lanjut saja tidur." tukasnya balik menatapku


Kupejamkan kembali mataku seraya kuraih selimut hingga menutupi seluruh wajahku. Kubuka kembali mataku perlahan, pandangan mataku gelap karena cahaya tak mampu menembus selimut yang menutupi wajahku... Keadaan yang sama ketika aku tak mampu melihat apapun, dan aku...


Benar-benar berharap tidak akan merasakannya lagi, Tuhan.


__________________


Ayah menuntunku berjalan menyusuri Istana dengan Satoru berjalan mengikuti di belakang kami. Langkah kami terhenti tatkala melihat Haruki dan Izumi lengkap dengan para pelayan mereka beserta Tsubaru berdiri di depan kamarku yang hancur...


"Apa yang kalian lakukan disini?" ucap Ayah seraya menarik tanganku pelan berjalan ke arah mereka


"Ayah." ucap Haruki dan Izumi seraya menoleh bersamaan


"Yang Mulia." sambung Tatsuya, Tsutomu dan juga Tsubaru seraya membungkukkan badan ke arah kami


"Aku berniat membangun ulang kamar Sachi, tapi sepertinya akan memakan waktu lebih lama. Pasalnya, es yang menyelimuti kamarnya sangatlah keras dan juga tebal." ucap Haruki mengalihkan pandangannya kembali ke arah kamarku


"Apa kau benar-benar tidak mengetahui apa yang terjadi padamu semalam?" ucap Ayah menatapku, dialihkannya kembali pandangannya ke arah para pekerja yang tengah sibuk mengikis es di dalam kamarku


"Saat aku bangun, keadaannya sudah seperti itu Ayah." ungkapku berbohong menatapnya


"Bagaimana denganmu Izumi? kau semalaman bersamanya bukan?" lanjutnya sembari mengalihkan perhatiannya pada Izumi


"Semalam aku sempat meninggalkannya beberapa saat. Saat aku kembali dari dapur, semuanya sudah hancur seperti itu." balas Izumi tanpa menoleh sedikitpun


"Tsubaru, kau bisa mengurus semua keperluannya bukan? Aku ingin kau mengatur ulang kamar yang berada di samping ruang kerjaku untuk kamarnya Sachi." sambung Ayah menatap Tsubaru


"Laksanakan, Yang Mulia." balas Tsubaru seraya membungkukkan tubuhnya


______________


Berjalan aku menyusuri lorong-lorong di Istana sendirian. Ayah dan Haruki sibuk membereskan permasalahan yang ada di Kerajaan, Izumi sendiri sibuk memimpin pelatihan untuk para Kesatria sedangkan Tsubaru, ia sendiri sibuk mengatur kamar untuk aku tempati...


Langkah kakiku terhenti di depan perpustakaan, kudorong pintu perpustakaan itu hingga terbuka. Tampak keadaan perpustakaan terlihat layaknya kapal yang hancur berkeping-keping, disana dan disini... semua buku bergeletakan tak beraturan.


Kembali kulangkahkan kakiku menyusuri ruang rahasia yang ada di perpustakaan, kugeser lukisan yang menyembunyikannya itu dengan sedikit tenaga yang aku punya...


Kumasukkan tanganku ke dalam kerah gaunku seraya meraih liontin kunci yang diberikan Haruki padaku dulu. Kumasukkan kunci tersebut ke lubang kunci seraya memutarnya...


Berjalan aku kesamping seraya meraih lilin yang tergantung di dinding, masuk aku ke dalam ruangan yang ternyata telah terang benderang dengan lilin-lilin menyala yang tergantung di setiap penjuru dinding ruangan...


Kualihkan pandangan mataku ke arah Lux yang tengah tertidur di atas tumpukan buku yang ada di atas meja, berjalan aku mendekatinya seraya duduk di salah satu kursi yang ada di dekatnya...


Fuuh!!


Lilin yang aku pegang tadi padam, kuletakkan lilin yang telah padam tersebut di sebelahku. Kuelus kepala Lux yang kecil tersebut menggunakan ujung jariku seraya memanggil namanya berulang kali...


"Lux." ucapku pelan sekali lagi


"Sachi, apa itu kau?" ucapnya dengan mata yang masih terpejam


"Ini aku, bangunlah." ungkapku padanya lagi


Mata Lux terbuka perlahan, beranjak ia duduk seraya di usap-usapnya kedua matanya. Diam ia membisu menatapku dengan mata seakan tak percaya...


"Ini benar-benar kau Sachi?" ucapnya terbang berdiri di hadapanku, kubalas perkataannya dengan anggukan kepala dariku


"Terima kasih telah mengkhawatirkanku." tukasku, kembali kuelus pelan kepalanya menggunakan ujung jariku


"Kou mengatakan jika penyakit yang aku derita adalah suatu sihir hitam. Apa kau mengetahuinya Lux?" ucapku menatapnya


"Aku mengetahuinya..."


"Maafkan aku Sachi, aku tidak mengatakan apapun padamu... Tapi itu karena aku tidak ingin kau takut maupun khawatir." ucapnya balas menatapku dengan mata yang sembab


"Bisakah kau menjelaskan semuanya padaku?"


"Tentu." ucapnya kembali terbang dan duduk di hadapanku


"Aku pertama kali merasakan sihir hitam itu beberapa bulan yang lalu dan aku yakin Kou juga merasakannya..."


"Aku diam karena Kou sendiri selalu memurnikan kembali sihir itu setiap kali kalian bertemu, jadi aku pikir tidak akan ada masalah selama ada Kou disampingmu."


"Apa Haruki mengetahuinya?"


"Aku memberitahukan semuanya padanya saat sihir itu menyerangmu dan Izumi tidak bisa menemukan Kou..."


"Karena itulah, ia berusaha berbagai macam cara untuk mematahkan sihir tersebut. Kami berempat tidak tidur sama sekali dan terus membaca buku satu persatu dengan harapan dapat menemukan petunjuk apapun tentang sihir hitam tersebut..."


"Tapi Sachi, aku sedikit merasakan keanehan pada Haruki. Itu bukan aku merasakan curiga atau apa, hanya saja... aku merasakan jika ia menyembunyikan sesuatu tentangmu."


"Aku sendiri tidak tahu apa itu. Akan tetapi, wajahnya seperti terlihat... ini salahku, aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama."


"Begitupun dengan Izumi, aku sendiri juga merasakan emosi yang sama meluap darinya."


"Kemampuanmu merasakan sihir dan emosi manusia mengagumkan sekali, Lux." ucapku tersenyum menatapnya


"Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"


"Entahlah, aku memang merasakan mereka menyembunyikan sesuatu. Tapi itu bukan karena aku tidak mempercayai mereka, hanya saja... Aku tahu kalau itu seperti semacam luka yang ingin sekali mereka hapus."


"Karena itulah, aku akan menunggu sampai mereka sendiri telah siap menceritakannya. Aku tidak akan memaksa mereka..."


"Karena aku tahu, mereka telah berjuang di jalan mereka masing-masing..."


"Dan mereka telah berjuang... melakukan apapun untukku..."


"Dan aku... menyayangi mereka." lanjutku dengan kepala tertunduk


"Sachi." tukas Lux


"Ada apa?" ucapku balas menatapnya


"Apa kau melakukan kontrak hidup dan mati dengan Kou?"


"Kami melakukannya." Jawabku singkat


"Pantas saja." ucap Lux tersenyum menatapku


"Pantas? Maksudnya?"


"Tidak. Hanya saja, aku dari tadi merasakan, sihir Kou menyelimuti seluruh tubuhmu." ungkapnya kembali tersenyum menatapku