Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCLIV


"Kita segera pergi dari sini. Tundukkan kepala kalian, Sachi, Izumi," ucap Haruki menarik penutup kepala pada jubahku hingga menutupi kepalaku.


Aku melangkah mengikuti jejak langkah kaki Costa yang berjalan di hadapan kami. Semakin kami berjalan ke depan, semakin padat jalan yang kami lalui. Tubuhku terasa sesak berhimpitan sepanjang jalan dengan beberapa orang yang juga berlalu-lalang.


Berbagai macam aroma bercampur menjadi satu, desis suara seperti daging terbakar juga ikut terdengar beberapa kali sepanjang perjalanan. Kadang kala telapak tanganku bergerak tanpa sadar menutup hidung, saat aku berpapasan dengan beberapa tubuh pria yang lewat.


"Costa," ucapku menggerakkan kepala menatapnya.


"Ada apa?" Ucapnya menghentikan langkah dan berbalik menatapku.


"Aku ingin ke pelelangan," ungkapku, tampak terlihat kedua matanya yang sedikit membesar menatapku.


"Tempat itu terlalu berbahaya, aku tidak menyarankan kita untuk pergi ke sana," ucapnya kembali berbalik dan berjalan menjauh.


"Aku hanya penasaran. Karena laki-laki tadi berkata hendak melelang ku, karena itulah aku pikir... Mungkin akan menemukan sesuatu yang menarik di sana," gumamku sambil tetap melangkah maju.


Kepalaku bergerak ke arah kanan dan kiri menatapi sekitar, suara riuh khas pasar benar-benar memenuhi sekitar. Berkali-kali tubuhku terhempas ke kanan maupun ke kiri karena padatnya orang yang berlalu lalang.


Tubuhku berbalik ke belakang... Entahlah, sesuatu seakan menarikku untuk mendekatinya. Kugerakkan kembali tubuhku berbalik ke arah semula, mataku kembali melirik ke sekitar... Aku, kehilangan jejak mereka.


Aku melangkah ke arah kiri membelah kerumunan, kedua kakiku berjalan mendekati sebuah bangku panjang kosong lalu mendudukinya. Kutarik kedua ujung jubahku hingga menutupi rok gaun yang aku kenakan, kepalaku tertunduk berusaha menutupi wajah dan juga mataku.


"Lux, apa kau merasakannya?" Bisikku pelan padanya.


"Merasakan apa?" Tukasnya yang juga pelan di telingaku.


"Entahlah, mungkin hanya perasaanku atau apa... Aku hanya merasa ada sesuatu disini," ucapku kembali pelan padanya.


"Aku tidak merasakan apapun. Coba langsung kau tanyakan pada Kou."


"Baiklah," ungkapku menjawab perkataannya.


"Kou, apa kau mendengarku?" Ungkapku dengan sangat pelan.


"Aku mendengarmu, My Lord. Dan akupun tahu, apa yang ingin kau tanyakan," ungkapnya di dalam kepalaku.


"Apa kau tahu, apa itu?"


"Makhluk lemah. Aku akan memperkuat sihirku, agar dia tak berani mendekat," ucapnya kembali.


"Aku mengerti, jika kau ingin menemuinya My Lord. Maka aku akan memberitahukan arahnya padamu, hanya ikuti arah yang aku katakan," ucapnya kembali, kugerakkan tubuhku beranjak berdiri dan melangkah mengikuti arah yang ia katakan.


Langkah kakiku terhenti di sebuah tenda besar terbuat dari kain berwarna hitam. Dia ada di dalam, itulah kata-kata terakhir yang Kou beritahukan padaku. Tubuhku bergerak menghindar ke samping saat dua orang laki-laki berjalan dan masuk ke dalam tenda tersebut.


"Apa yang kau lakukan di sini. Kami semua mencarimu," ucap seseorang diikuti tarikan di lenganku.


"Aku kehilangan jejak kalian, lagipun Costa. Tempat apa itu?" Ungkapku berusaha menahan langkahnya seraya kutarik tangannya yang menarik lenganku tadi.


"Apa kau ingin sekali pergi ke pelelangan, sampai-sampai kau bisa berada di depan tempat itu sekarang," ucapnya kembali berusaha menarik tubuhku.


"Aku ingin ke dalam, temani aku masuk ke dalam sana," ucapku kembali menarik tangannya berjalan mendekati tenda itu kembali.


"Aku tidak akan mengizinkanmu."


"Kumohon, aku tidak tahu... Kapan aku bisa ke sini lagi. Kumohon Costa, boleh ya?" Ucapku menatapnya, dibalasnya tatapanku itu dengan pandangan matanya yang lama menatapku.


"Kumohon, sekali ini saja," ucapku lagi seraya menatapnya dengan tatapan memohon yang seringkali dulu aku gunakan, dibalasnya tatapanku tadi dengan helaan napas kuat darinya.


"Baiklah, tapi pastikan... Kau harus menundukkan pandanganmu selama di dalam, aku takut... Ada yang melihat matamu itu," ucapnya menggerakkan sebelah tangannya menarik penutup kepala yang aku kenakan.


"Aku mengerti," sambungku mengikuti langkah kakinya berjalan memasuki tenda.


Seorang laki-laki menyambut kami dengan sebuah potongan kayu persegi panjang yang ia arahkan kepada kami. Costa meraih potongan kayu dari laki-laki tadi lalu menarik tanganku berjalan mengikutinya.


Barisan kursi tersusun rapi saat seorang laki-laki lainnya membukakan tirai berwarna merah kepada kami. Aku melangkah mengikuti Costa memasuki ruangan tersebut seraya duduk kami berdampingan di kursi yang masih kosong.


Acara lelang masih berlangsung, mungkin telah berlangsung sebelum kami datang. Beberapa orang mengangkat potongan kayu yang sama seperti laki-laki tadi berikan kepada kami, nominal-nominal uang terus bergulir disebutkan oleh orang-orang yang ada di dalam tempat ini.


"Baiklah, barang terakhir yang akan dilelang hari ini. Kotak kayu yang berhasil kami temukan di wilayah Hanbal, kotak yang tak akan hancur walaupun usia maupun Tuan-tuan sendiri yang berniat menghancurkannya. Kami membukanya dari mulai harga tiga ribu Tickla," ucap laki-laki yang berdiri di hadapan kami dengan sebelah tangannya terangkat mengarah pada meja kayu yang ada di hadapan kami.


Mataku tidak terlalu tertuju pada laki-laki itu, ataupun meja kayu mewah yang ia tunjukkan. Mataku hanya tertuju pada kotak kayu berwarna cokelat yang ada di atas meja tersebut, terlebih lagi dengan ukiran bunga mawar yang menyelimuti kotak tersebut.


"Sihir waktu," ucapku pelan, seraya tanganku bergerak ke arah kiri meraih pakaian yang Costa kenakan.


"Apapun yang terjadi. Aku ingin kotak itu, kumohon Costa... Jangan biarkan orang lain mengambil kotak itu dariku, kau harus mendapatkannya untukku apapun caranya, Costa," ucapku mengalihkan pandangan menatapnya, semakin kuat genggaman tanganku di lengan pakaian yang ia kenakan.