Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXXVII


Kuturunkan sebelah tanganku yang menutupi kedua mataku tadi. Tubuhku yang berbaring mengambang sesekali bergerak ke kanan lalu ke kiri terbawa air. Kuarahkan sebelah tanganku tadi bertumpuk dengan tanganku yang lain di atas dada...


Mataku menerawang kosong ke arah bebatuan yang ada di atas, tampak juga ikut terlihat beberapa ubur-ubur yang berenang hilir-mudik menerangi tempat ini. Aku membalikkan tubuhku lalu bergerak berenang meninggalkan ruangan itu.


Kedua kakiku yang mendayung air terhenti, kutatap Ebe yang duduk bersandarkan dinding batu. Dia mengalihkan pandangannya menatapku dengan tak lama tubuhnya bergerak mendekati.


"Kau masih belum sehat," ucapnya berhenti di hadapanku, aku kembali berenang melewatinya tanpa mengucapkan apa-apa.


"Sachi," ucapnya lagi, tubuhku terhenti saat kurasakan tarikan di lengan kiriku.


"Aku harus segera pulang. Keluargaku pasti menungguku di sana," ucapku, kuarahkan sebelah tanganku meraih pergelangan tangannya yang memegang tanganku.


"Aku mengerti, ikuti aku," ucapnya melepaskan genggamannya lalu berenang melewati.


Kugerakkan tubuhku ikut berenang di belakangnya, Ebe mengajakku menyusuri terowongan yang dipenuhi beberapa hewan laut, tubuh hewan-hewan tersebut bersinar layaknya lampu yang menerangi jalan kami.


Kami berhenti di sebuah tempat seperti altar, Ebe kembali berenang mendekati Kakeknya yang tengah duduk di sebuah singgasana dengan beberapa duyung laki-laki di kanan dan kiri tubuhnya.


"Kakek," ucap Ebe, ia kembali berenang semakin mendekati laki-laki tua itu.


"Aku akan mengantar Sachi ke permukaan," ucapnya dengan mengarahkan kedua tangannya merangkul lengan laki-laki tua itu kembali.


"Terlalu berbahaya, aku melarangmu pergi ke sana," ucap laki-laki tua itu dengan pandangan matanya melirik padaku.


"Aku, akan pulang sendiri," ucapku menundukkan kepala ke arahnya.


"Hanya tunjukkan saja, ke arah mana aku harus pergi," sambungku kembali mengangkat kepala menatapnya.


"Tidak Sachi, di luar sana berbahaya. Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian," ucapnya melepaskan rangkulannya di lengan laki-laki tua itu sembari tubuhnya berenang mendekatiku.


"Kau tidak perlu melakukannya, terima kasih karena telah memberikanku kesempatan untuk mencoba menyelamatkan adikku," tukasku menundukkan pandangan, kugigit kuat bibirku yang bergetar itu.


"Cucuku Dekka yang akan mengantarmu sampai pertengahan laut," ucap laki-laki tua itu beranjak berdiri lalu berenang meninggalkan ruangan.


"Sachi, aku tetap akan ikut mengantarmu," ucap Ebe kepadaku.


"Tidak apa-apa, perkataan Kakekmu ada benarnya," ungkapku berbalik lalu berenang mendekati salah satu duyung laki-laki yang telah memintaku untuk berenang mengikutinya.


"Ebe, terima kasih," sambungku berbalik lalu tersenyum menatapnya.


Kedua kakiku kembali bergerak mendayung air dengan sangat kuat, sebenarnya... Aku merasa kesulitan mengejarnya yang berenang sangat cepat meninggalkanku. Duyung laki-laki itu menghentikan ekornya saat terowongan yang kami lalui berakhir.


Aku berenang ke arah kumpulan duyung laki-laki yang ada di hadapan, masing-masing dari mereka membawa kuda laut di sisinya. Para duyung laki-laki yang berkumpul tadi bergerak berenang lalu duduk di atas punggung kuda laut yang ada di samping tubuh mereka masing-masing...


"Kami, akan mengantarmu. Namaku Dekka, kau bisa memanggilku Dekka," ucap salah satu duyung laki-laki yang duduk di salah satu kuda laut berwarna keemasan.


"Sachi, kau juga dapat memanggilku Sachi," ucapku yang dibalas bisik-bisik oleh duyung yang lainnya.


"Baiklah, kita dapat pergi sekarang. Kuda milikmu, telah menunggu," ucapnya dengan mengarahkan jari telunjuknya ke belakang tubuhku.


Mataku membesar, kuda hitam yang tiba-tiba tak sadarkan diri kemarin telah berdiri di hadapanku. Aku melirik ke arah pergelangan tanganku, bercak hitam seperti gelang yang menyelimuti pergelangan tanganku sebelumnya menghilang tiba-tiba muncul kembali, begitupun dengan lambang mahkota keemasan yang ada di dahi kuda tersebut.


"Apa maksudnya ini?" Tanyaku, aku kembali berbalik menatap duyung laki-laki bernama Dekka itu.


"Kau melakukan kontrak dengannya kemarin bukan?"


"Tapi, dia, kemarin," ucapku dengan sedikit terbata-bata.


"Karena memang seperti itu kontraknya, para kuda akan tak sadarkan diri pada awalnya. Jika mereka hidup, mereka akan menjadi kuda milikmu, jika mereka mati, itu berarti kalian tidak ditakdirkan bersama," ucap Dekka menggerakkan tangannya mengusap leher kuda yang ia tunggangi, tak lama kuda tersebut bergerak mendekati.


"Dia menunggu, cepatlah," ucap Dekka dengan menggerakkan jari telunjuknya kembali ke arah kuda hitam yang ada di belakangku.


Aku berenang mendekati punggung kuda tersebut, kuarahkan kedua tanganku merangkul lehernya yang beruas-ruas. Kuda tersebut menggerakkan kepalanya menoleh ke arahku, matanya yang merah menyala mengingatkan aku akan Kou.


"Tunggu apalagi, usap lehernya," ucap Dekka menatapku.


"Usap leher?" Tanyaku yang dibalas dengan anggukan kepala darinya.


"Baiklah semuanya, kita pergi!" Teriak Dekka, kuarahkan sebelah tanganku melakukan apa yang ia ucapkan.


Tubuhku terhentak ke depan menabrak leher dari kuda tersebut, sebelah tanganku yang mengusap lehernya tadi bergerak cepat merangkul kuat leher kuda itu. Cepat sekali, bahkan lebih cepat dari kuda milikku yang ada di daratan...


Aku menoleh ke arah para duyung dan kudanya yang berenang di hadapanku. Kuda yang mereka tunggangi bergerak sangat cepat melewati lautan, bahkan yang membuatku takjub... Tanpa tali kekang layaknya kuda pada umumnya, kuda tersebut bergerak dengan sendirinya membawaku mengikuti yang lainnya.


"Hewan kami menakjubkan bukan? Hanya memikirkan, ke mana kau ingin pergi. Mereka akan membawamu," ucap Dekka menoleh ke arahku, kuarahkan pandanganku kembali menatap leher kuda yang aku tunggangi itu.


"Kalau begitu, bawa aku lebih cepat ke permukaan. Aku, mengandalkanmu," ucapku pelan sembari kuarahkan tanganku kembali mengusap lehernya.


Rangkulan yang aku lakukan di leher kuda itu semakin kuat dibanding sebelumnya. Ia berenang cepat meninggalkan satu-persatu kuda yang duyung-duyung itu tunggangi. Sungai yang aku lewati sebelumnya pun terasa singkat sekali aku singgahi saat kuda itu membawaku melewatinya...


Aku mengingatnya, aku memberikannya nama Kuro bukan?


"Kuro," ucapku pelan, kugerakkan kepalaku menempel di lehernya yang panjang itu.


Kurasakan, arus air semakin terasa menyentuh tubuhku. Kembali kuangkat kepalaku dari lehernya lalu bergerak menoleh ke belakang, para duyung-duyung itu sudah tak terlihat. Kuro semakin cepat berenang, semakin cepat hingga air yang ada di sekitarku terlihat mengabur di pandangan.


Semakin lama aku mendekati permukaan, semakin sesak dadaku terasa. Rangkulan yang aku lakukan di leher Kuro semakin menguat, kugigit kuat bibirku saat kepalaku kembali menyentuh lehernya...


Maafkan aku.


Aku, bahkan...


Pandangan mataku teralihkan pada sebuah cahaya yang jatuh menyentuh pelupuk mataku. Aku menggerakkan kepalaku ke atas, perlahan cahaya matahari yang jatuh dari atas semakin jelas terlihat...


Kugerakkan kepalaku ke semua arah saat kepalaku itu keluar dari permukaan air. Lama, aku menatap kapal besar milik Aydin yang mengapung tak terlalu jauh dari tempatku menatapnya. Aku menundukkan kepala, menatap kepala Kuro yang bergerak ke kanan dan ke kiri di dalam air.


"Bawa aku mendekati benda itu, Kuro," ucapku pelan sembari sebelah tanganku kembali mengusap lehernya.