Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCLXXXIX


"Apa yang kau maksudkan?" Ungkap Jabari menggerakkan kuda miliknya mendekati kerumunan itu.


Beberapa penduduk terlihat melangkah mundur, saat Jabari berserta lima orang laki-laki lainnya menggerakkan kuda milik mereka semakin mendekati kerumunan tersebut.


"Jika kalian menghalangi jalan kami, kami tidak akan segan-segan meremukkan tubuh kalian saat ini juga," ucap Jabari kembali dengan mengangkat pedang yang ada di pinggangnya ke arah orang-orang tersebut.


"Tolong, Ketua!"


Suara teriakan laki-laki terdengar berulang-ulang, kepalaku menoleh ke arah kanan menatapi seorang laki-laki paruh baya tengah berlari dengan seorang anak kecil di gendongannya.


"Anakku, anakku... Terkena kutukan, kumohon Ketua... Tolong Anakku," ucap laki-laki tersebut dengan suara bergetar saat dia duduk berlutut menatapi laki-laki yang berbicara dengan kami sebelumnya.


"Anakku tidak ingin bangun dari tidurnya, walaupun... Walaupun, aku telah mencoba membangunkannya," ucapnya kembali, digerakkannya kepalanya hingga dahinya menempel pada dahi anak laki-laki yang ada di gendongannya.


"Apa kau membawa sesuatu?" Ungkap laki-laki yang masih berdiri di tengah-tengah orang yang berbaring itu, laki-laki tersebut kembali melangkahkan kakinya melewati tubuh-tubuh manusia yang masih diem tertidur di antara kakinya.


"Aku, aku tidak memiliki sesuatu untuk diberikan," ucap laki-laki paruh baya tersebut, masih kutatap dia yang semakin kuat menggenggam lengan anaknya yang tertidur di gendongannya.


"Jika seperti itu, pergilah! Dan rawat anakmu sendiri di rumah. Kau bisa melihat sendiri, tidak ada tempat lagi untuk meletakkan Anakmu di sini," ucap laki-laki itu kembali dengan mengangkat jari telunjuknya ke arah kain putih yang menjadi alas berbaring untuk kesepuluh orang yang tertidur tersebut.


Laki-laki paruh baya tersebut diam tertunduk, pelukannya pada anaknya semakin kuat terlihat. Aku menggerakkan sebelah kakiku ke depan lalu duduk menyamping di atas kuda yang aku tunggangi, tubuhku melompat dari atas kuda sembari kedua kakiku melangkah mendekati laki-laki paruh baya tadi.


"Sa-chan!"


"Sachi!"


Teriakan yang memanggil namaku terdengar bergantian dan berulang, tarikan napasku semakin kuat kulakukan saat aku telah berdiri di samping laki-laki paruh baya tersebut.


Aku membuka lalu memasukkan tangan kananku ke dalam tas yang aku bawa. Tangan kananku bergerak bebas merogoh ke dalam tas tersebut, sebuah kain putih panjang yang masih belum sempat ku potong kuangkat dari dalam tas itu.


Tanpa bersuara, aku membuka lipatan pada kain putih itu. Saat kain putih tersebut terbentang luas di samping laki-laki paruh baya tersebut, aku menoleh menatapnya sembari telapak tanganku bergerak menepuk-nepuk kain putih tadi...


Seakan mengerti maksudku, laki-laki paruh baya tersebut menggerakkan kedua lututnya maju ke atas kain putih tadi sembari diletakkannya anaknya yang masih tertidur di atasnya.


Kutatap anak kecil yang masih tertidur pulas tersebut sembari kuarahkan telapak tanganku mendekati hidungnya, napas anak tersebut pelan terasa menyentuh telapak tanganku.


Pandangan mataku beralih pada lengan dan seluruh wajah anak tadi, bercak-bercak merah yang ada di tubuhnya semakin jelas terlihat. Bahkan, laki-laki paruh baya yang duduk di hadapanku itu, ikut menggaruk-garuk kuat lengannya yang dipenuhi bercak-bercak merah.


"Kau tahu, ini sangat berbahaya. Bagaimana jika kau..."


"Apa kau lupa nii-chan, aku mempunyai Kou," ungkapku memotong perkataannya, kugerakkan telapak tanganku hendak menyentuh pipi anak laki-laki tersebut.


"Apa yang kau lakukan? Perempuan?" Suara laki-laki paruh baya tersebut kuat terdengar diikuti tamparan kuat pada telapak tanganku yang sempat menyentuh anaknya yang tertidur lelap.


"Aku hanya ingin membantu kalian," ucapku mengangkat penutup kepala yang menutupi wajahku sebelumnya.


"Jangan ikut campur masalah ka..."


Teriakan seorang laki-laki terputus, aku berbalik ke belakang saat terdengar suara teriakan yang mengikuti. Kutatap laki-laki yang sebelumnya telah memegang sebuah anak panah yang tertancap kuat di pundaknya.


Kepalaku kembali menoleh ke arah... Apakah kalian ingat, laki-laki yang kakinya diracuni Lux saat pertarungan dahulu? Laki-laki tersebut kembali mengarahkan anak panahnya saat laki-laki yang dipanggil Ketua oleh laki-laki paruh baya tadi kembali berjalan mendekatiku.


Haruki berbalik dengan mengarahkan sebilah pedang yang ia genggam ke arah laki-laki yang dipanggil Ketua itu. Keadaan menegang saat beberapa penduduk yang berkumpul malah berjalan ke belakang lalu duduk meringkuk ketakutan...


"Hentikan!" Ungkapku beranjak berdiri, aku berbalik melangkah melewati Haruki mendekati laki-laki tersebut.


"Aku hanya ingin membantu anak itu. Jika tidak? Apa kau pikir aku akan memperdulikan kalian?" Ucapku kembali kepada laki-laki berkulit gelap tersebut, dia menatapku dengan sangat tajam saat tangannya mencabut anak panah yang tertancap di pundaknya.


"Kumohon, kumohon... Tolong kami."


Suara perempuan tiba-tiba terdengar, tubuhku berbalik menatap seorang perempuan paruh baya berserta seorang anak perempuan di sampingnya. Mereka berdua berlutut menatapku, tampak juga terlihat bercak-bercak merah yang samar terlihat pada kulit gelap mereka.


"Apa yang kau lakukan?!" Laki-laki paruh baya yang sebelumnya tiba-tiba berdiri lalu bergerak menerjang kedua perempuan tadi hingga mereka berlutut dengan kedua tangan menutupi kepala mereka.


Aku berjalan mendekati mereka, langkahku terhenti saat Haruki menarik lenganku. Haruki berbalik menatap dua orang laki-laki dari rombongan kami, kedua laki-laki tersebut menggerakkan kuda mereka mendekati laki-laki paruh baya tadi.


Salah satu dari kedua laki-laki itu melompat dari atas kuda miliknya, berjalan mendekati laki-laki paruh baya tadi lalu menendangnya kuat hingga laki-laki paruh baya tersebut jatuh terjungkal ke depan.


"Jangan memperdulikan mereka," ucap Haruki, kurasakan genggaman tangannya di lenganku semakin kuat.


"Kita tidak tahu, kutukan yang mereka maksudkan akan menular kepada kita atau tidak nantinya. Aku, tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu, Sa-chan."