
Aku menggerakkan tubuh ke samping, “bibi,” ucapku menatapnya yang tengah memejamkan mata.
Bibi membuka perlahan kedua matanya menatapku, “ada apa?” tanya bibi dengan mengusap matanya.
“Sejak kapan bibi memperhatikan kami?”
Bibi menggerakkan tubuhnya hingga dia berbaring terlentang dengan kedua tangannya di atas perut, “sejak kalian masih kecil. Karena Ibu kalian tidak henti-hentinya menangis mengkhawatirkan anak-anaknya, aku memutuskan menggunakan sihir untuk menemukan keluarga kalian.”
“Bibi tahu, jika laki-laki itu telah merawatmu sejak kecil. Bibi tahu, apa yang dialami kedua kakakmu … Semakin lama memperhatikan kedua kakakmu dan juga kau, Sachi. Semakin itu juga, bibi seakan telah menganggap kalian seperti anak-anak bibi sendiri.”
“Lalu, bagaimana bibi mengetahui tentang Luana?”
“Ternyata namanya Luana. Bibi membenamkan akar di hampir seluruh Kerajaan kalian, jika terjadi sesuatu kepada kalian … Maka bibi akan dengan mudah membantu kalian. Saat bibi merasakan sihir jahat mendekat, bibi menarik kembali akar-akar itu dulu agar sihir jahat itu tak bisa merasakannya, karena walau bagaimana pun, keselamatan para Elf juga penting.”
“Saat bibi kembali menumbuhkan akar, bibi menemukan seorang perempuan yang menangis sambil memukul-mukul tangannya di sebuah batu besar. Karena di sekitar perempuan itu terdapat Kesatria, bibi yakin jika dia yang terkurung memiliki hubungan dengan kalian. Bibi menumbuhkan akar menembus tanah di balik terowongan batu itu, lalu menemukan dia yang bernama Luana.”
“Kondisinya sudah sangat lemah, dia tak henti-hentinya meracau dalam keadaan setengah sadar, selamatkan anakku, berikan anakku kesempatan untuk hidup, seperti itu yang ia katakan sambil memegang perutnya. Saat bibi berjalan semakin mendekatinya, akar tumbuh mengelilingi pergelangan kakinya, ketika itulah bibi tersadar jika bibi dapat menyelamatkan anak yang ada di dalam perutnya.”
“Kau pasti berpikir kenapa bibi tidak langsung menyelamatkannya saja, bukan? Sayangnya, ketika akar itu tumbuh, itu berartikan … Nyawa Luana sudah melayang. Bibi melakukan sihir yang pernah bibi lihat ketika nenek kalian melakukannya kepada Ibu kalian, akar itu tumbuh menjalar semakin ke atas kakinya hingga masuk ke dalam … Kau bisa mengetahuinya sendiri, bukan?” tukas bibi sambil tersenyum menoleh ke arahku.
“Ketika bunga itu kembali keluar, di ujungnya telah tumbuh sekuncup bunga. Jika saja bibi sekuat nenekmu, mungkin bibi bisa menyelamatkan mereka berdua seperti yang nenek lakukan kepada ibu kalian. Namun sayangnya, sama sepertimu yang tidak terlalu paham sihir terlarang, hanya itu batas kemampuan bibi menolongnya.”
“Lalu, bagaimana bibi mengetahui jika janin itu … Ialah anak kakakku?”
“Sihir Ardella, terasa mengalir dari anak itu. Ardella menolong kakakmu, setengah sihirnya tertinggal di tubuh kakakmu agar kutukan yang sama tak kembali lagi, kemungkinan sedikit sihir tersebut mengalir kepada anaknya. Jika saja sihir Ardella tidak mengalir di anak tersebut, mustahil rasanya aku bisa melakukan sihir tersebut.”
“Apa kau yakin, bibi? Maksudku, naga milikku dapat merasakan sihir sekecil apa pun.”
“Pengorbanan hanya dapat dilihat dan dirasakan ketika hal itu dilakukan. Lagi pun, karena Haruki mungkin tidak sadar akan pengorbanan Ardella, sehingga membuat sihir itu sedikit sulit untuk dirasakan. Jadi Haruki, berterima kasihlah nanti kepada Ibumu, tanpa dia … Semua ini tak mungkin terjadi. Kau mendengar apa yang bibi katakan, bukan?”
Aku ikut melirik ke arah pandangan bibi, lama pandangan mataku itu terjatuh kepada sesosok bayangan yang tengah duduk di luar tenda. “Aku mengerti, bibi,” jawab suaranya, aku kembali melirik ke arah bibi yang telah berbaring kembali sambil tersenyum.
“Bibi, jika kami nanti menemukan Robur Spei, apa yang harus kami lakukan?”
“Tentu saja panggil kakekmu, saat ini hanya sihirnya saja yang mungkin mampu memindahkan Robur Spei ke dunia Elf. Lagipula, apa kalian yakin jika Robur Spei ada di hutan yang kalian maksud?”
“Aku tidak yakin, karena saat kami terjebak di sana saja, yang dirasakan hanya inti sihir dari naga milik Kaisar.”
“Ada satu tempat yang menurutku paling mungkin, hanya saja aku tidak terlalu yakin.”
“Dunia di mana para Elf, para Peri dan makhluk lain hidup dulunya. Dunia para peri,” ungkapku dengan berbaring menyamping menatapnya.
“Apa kau yakin?”
“Sepertinya, walau banyak kemungkinannya tidak terlalu yakin.”
“Baiklah, bibi akan mencoba memeriksa ke sana, setelah mendapatkan izin dari kakekmu dulu tentunya. Apa pembicaraan ini telah selesai? Bibi lelah sekali, bibi tidak sempat beristirahat karena kami sibuk bergilir berjaga agar sihir pelindung yang melindungi dunia Elf tidak mudah hancur,” tukasnya, dia mengangkat telapak tangannya menutupi mulutnya yang menguap.
“Selamat malam, bibi. Terima kasih untuk semuanya”
“Selamat malam juga untukmu. Berhati-hatilah jika bertemu dengan Zeki, karena semenjak kau membahas namanya di depan kakekmu. Bibi pikir jika kakekmu itu tertarik untuk mengetahuinya, dan itu berarti kesialan untuk laki-laki bernama Zeki tersebut. Jadi jika kau bertemu dengannya, jangan pernah memanggil namanya di dekat tumbuhan apa pun, jika perlu … Buatlah nama baru untuknya,” ungkap bibi, dia tertawa kecil sembari memejamkan matanya.
____________.
Aku beranjak duduk, kuarahkan pandangan ke samping … Bibi sudah mnghilang. Aku merangkak keluar tenda lalu beranjak berdiri lalu berjalan mendekati Haruki yang tengah berbicara dengan kakek dan juga bibi. “Selamat pagi,” ungkapku dengan mengusap mata sambil tetap melanjutkan langkah.
“Nii-chan, kau bangun sepagi ini?” tanyaku sembari menoleh ke arahnya ketika langkah kakiku berhenti di sampingnya.
“Dia tidak tidur semalaman, dia terlalu bahagia untuk dapat tidur,” ungkap bibi memotong perkataanku, aku tersenyum saat dia juga tersenyum menatapku.
“Kami harus segera pulang, terlalu lama meninggalkan dunia Elf sangatlah tidak bagus.”
“Secepat itu? Padahal aku baru ingin menyiapkan makan pagi,” ungkapku menimpali perkataan bibi.
“Jika kau mengunjungi dunia Elf, maka buatkan makanan yang banyak untuk kami, seperti itu yang dikatakan Kakekmu,” ucap bibi ketika pandangan matanya mengarah kepada kakek.
“Bibi, apa kau benar-benar paham apa yang dikatakan Kakek?” aku mengecilkan suara sambil mengangkat sebelah tangan menyentuh pipi ketika menatapnya.
“Kau meremehkan kemampuan bibi?”
“Apa pembicaraan kalian telah selesai?” Aku kembali berdiri tegap, begitu pun dengan bibi saat kakek tiba-tiba bersuara.
“Berhati-hatilah selama perjalanan. Dan untukmu Haruki, jaga adik-adikmu dengan baik,” ucap kakek sambil mengangkat sebelah tangannya hingga sebuah akar tiba-tiba tumbuh lalu melilit lengan Haruki, “gunakan dengan bijaksana, tanam salah satu kelopak bunga ke tanah jika kalian membutuhkan bantuan. Katakan hal yang sama kepada adik-adikmu yang lain,” sambungnya sambil berbalik melangkahkan kaki mendekati lilitan akar yang membentuk sebuah gapura.
“Haruki, aku akan menjaganya. Persiapkan nama yang indah untuknya sebelum bunga tersebut mekar, sama sepertimu … Dia pasti sudah tidak sabar untuk dirangkul oleh Ayahnya,” sahut bibi, dia tersenyum sebelum berbalik melangkahkan kaki mengikuti jejak kakek.
“Untukmu Sachi, persiapkan juga nama baru untuknya,” sambungnya sambil tertawa dengan melambaikan tangannya ke atas tanpa menoleh.