Fake Princess

Fake Princess
Chapter DLXXXIII


Kedua mataku membesar membalas tatapan mereka sebelum aku kembali duduk dengan berbalik menatap ke arah Eneas. Aku mengangkat tabung berisi anak panah yang ada di pundakku, lalu meletakkan tabung kayu tersebut di dekat kakiku. Kuraih satu anak panah, kumasukkan mata pisau dari anak panahku itu ke dalam guci kecil yang ada di dekat Eneas, sembari kususun anak panah yang telah dilumuri racun tadi ke samping perahu agar cepat mengering.


Aku terus melakukan hal itu berulang-ulang hingga semua anak panahku telah dilumuri oleh racun, baru hal yang sama aku lakukan pada anak panah Haruki sedang Eneas melakukannya juga untuk anak panah yang dimiliki Izumi.


Aku kembali berbalik ke depan setelah sebelumnya kembali meletakkan tabung berisi anak panahku itu ke pundak. Mataku kembali menyipit, menatap punggung-punggung mereka yang duduk di perahu yang ada di depan kami. “Haruki, apa kau lihat daratan yang di depannya banyak tumbuhan merambat itu?”


“Aku melihatnya. Tapi jangan terburu-buru untuk mendekatinya, kita tidak tahu … Makhluk apa yang kemungkinan bersembunyi di sana,” sambung Haruki menimpali perkataan Izumi.


“Aku mengerti,” timpal Izumi singkat.


Perahu yang kami naiki, bergerak lebih cepat dibanding sebelumnya. Bahkan tak butuh waktu lama untuk melewati perahu yang dinaiki Fabian dan rombongan. Kecepatan perahu berkurang, bahkan semakin mengurang tatkala perahu yang kami tumpangi itu bergerak semakin mendekati tumbuhan-tumbuhan air yang mengapung di permukaan air sungai.


Tanganku dengan cepat mencengkeram kuat bagian samping perahu tatkala aku merasakan ada yang menabrakkan dirinya di perahu hingga perahu tersebut hampir kehilangan keseimbangannya. Aku menarik napas dalam, jantungku semakin membuncah, berdegup tak menentu saat pandangan mataku masih mengarah ke arah air sungai yang terlihat tenang.


Berkali-kali, mataku melirik ke kanan dan juga ke kiri … Berusaha mencari apa yang sebenarnya menabrak perahu kami sebelumnya. Namun tetap, aku tak menemukan apa pun … Yang ada hanyalah, riak air yang ditimbulkan oleh bergeraknya perahu. “Apa itu tadi?” suara bisikan Eneas yang terdengar dari arah belakang semakin membuatku gugup.


“Izumi, jangan lengah! Tetaplah berhati-hati!”


“Serahkan semuanya kepadaku, jangan khawatir,” Izumi balas berbisik menjawab Haruki.


Perahu kami mulai kembali berjalan walau sebelumnya sempat terhenti. Aku sedikit mengangkat tangan, meraih anak panah yang ada di pundakku dengan sebelah tanganku yang lain menggenggam erat busur panah. Sesekali, kepalaku bergerak sambil melirik ke arah permukaan air yang terlihat tak ada kehidupan itu.


“Oh astaga.”


Aku melirik ke arahnya, ketika gumaman yang dilakukan Izumi menyentuh telinga. Aku turut membuang pandanganku ke arah tatapan matanya itu, lebih tepatnya ke sisi perahu yang ada di samping Haruki. Ludahku kembali mengalir dengan sendirinya melewati kerongkongan, saat bayangan hitam besar menggeliat di dalam air sungai yang tak terlalu jauh dari perahu kami. “Apa itu ular?” gumam Eneas pelan terdengar di telinga.


“Sa-chan.”


“Asal kita tidak mengganggunya, dia mungkin mengabaikan keberadaan kita. Yang penting, jangan sampai salah satu di antara kita jatuh ke dalam air,” tukasku pelan sambil menatap bayangan hitam tadi yang bergerak semakin menjauh.


Aku tersentak, suara benda yang terdengar keras jatuh ke dalam air membuatku menoleh ke belakang dengan cepat. “Apa yang mereka lakukan?” ungkapku geram sambil menatap dia yang dipanggil Pangeran melompat turun, berenang ke dalam air diikuti dua orang laki-laki lainnya selain Fabian yang menembakkan anak panah mereka ke arah ular yang berenang tadi.


Aku mengalihkan pandangan ke arah Haruki ketika suara dari helaan napasnya terdengar, “hentikan perahunya Izumi. Lalu duduklah, dan nikmati pertunjukan yang ada,” tukas Haruki saat kepalanya mengarah kepada Pangeran itu yang kian berenang semakin mendekati ular.


Aku duduk dengan memangku wajah, menatapi Pangeran tersebut yang berenang dengan sebilah pedang di tangannya. “Kadang, bodoh dan bernyali besar itu … Adalah hal yang sulit untuk dilepaskan,” gumamku pelan, tatapan mataku itu masih mengarah ke beberapa anak panah yang mengikuti Pangeran tadi.


“Kau benar. Aku sungguh merasa kasihan dengan mereka yang memiliki pikiran tapi tak digunakan dengan baik.”


“Jika mereka salah satu anggota keluargaku. Aku mungkin sudah menggantikan otak mereka dengan otak kuda, setidaknya kuda masih bisa menerima perintahku dengan baik,” ucap Haruki lagi menimpali perkataanku.


“Menjengkelkan sekali rasanya saat kalian berdua saling bersahutan menyindir kebodohan seseorang seperti itu,” ucapan Izumi membuatku dan juga Haruki menoleh secara bersamaan.


“Aku berharap kau tidak mengikuti langkah mereka, Ene-”


“Jika aku memiliki saudara seperti mereka, aku akan lebih memilih meracuni mereka hingga tak bernyawa. Daripada, kebodohan mereka itu menular kepadaku,” ucapan Eneas yang memotong perkataan Izumi, membuat Izumi sedikit mengeluarkan tawa ketika kepalanya itu tertunduk.


Tatapan mataku beralih saat suara jeritan laki-laki tiba-tiba terdengar. Aku kembali duduk dengan memangku wajah saat mataku itu terjatuh kepada laki-laki yang dipanggil Pangeran itu. Jeritan darinya semakin menjadi-jadi ketika bayangan ular yang kami lihat sebelumnya itu telah bergerak melilit tubuhnya.


Pangeran tersebut bergerak memukul-mukul kepala ular yang menggigit kuat pundaknya tersebut. Sesekali, kepalanya terbenam ke dalam air, lalu muncul kembali dengan napasnya yang tersengal-sengal. Aku melirik ke samping, saat suara riak air dari benda terjatuh kuat terdengar. Kedua mataku, mengikuti dua orang laki-laki selain Fabian yang telah berenang menyusul Pangeran tersebut yang masih bergelut dengan ular tadi.


Kami yang ada di atas perahu, hanya berdiam diri menonton mereka. Riak dari air sungai, semakin jelas terlihat saat dua orang tadi berusaha membantu Pangeran, untuk melepaskan diri dari ular itu. “Kumohon Haruki, selamatkan adikku!”


Suara perempuan yang berteriak, membuatku dan yang lainnya menoleh ke arahnya. “Pangeran Takaoka Haruki. Kau siapa, beraninya memanggil namaku seperti itu?” tukas Haruki, dia mengatakannya tanpa sedikit pun menggerakkan pandangannya.


“Jika engkau menikahi Luana, itu berarti … Dia juga Adikmu, bukan?”


“Aku hanya menikahi Luana, bukan menikahi keluarganya. Bukankah, kalian mengorbankannya dulu? Maksudku, memerintahkannya untuk pergi sendirian ke Kekaisaran?”


“Lagi pun, kenapa aku harus melepaskan pengalaman berharga ini? Kapan lagi, aku mendapatkan pengetahuan baru … Mengetahui, berapa lama manusia dapat bertahan dari serangan ular,” sambung Haruki, aku masih menatapnya yang masih tak bergeming.


“Dia benar-benar akan mati, kalau kau menunda terlalu lama, Haruki.”


“Baiklah. Eneas!” tukas Haruki menimpali perkataan Izumi dengan mengangkat sebelah tangannya ke belakang.


Aku melirik ke arah Eneas yang meletakkan ikatan buntalan kain kecil ke atas tangan Haruki. Haruki mengangkat tangannya meraih anak panah miliknya, lalu mengikatkan buntalan kain tadi di tengah-tengah dari anak panah miliknya itu. Haruki beranjak berdiri sambil membidik ke arah mereka yang masih bergulat dengan ular.


“Eneas, apa itu racun?”


"Entahlah, Lux yang membuatnya," balas Eneas berbisik pelan menatapku.


Tatapan mataku beralih ke arah anak panah Haruki yang telah menancap di tubuh ular tersebut. Semakin ular tersebut menggeliat di air, semakin itu juga air yang ada di sekitar sedikit berubah warna menjadi putih, dan itu berarti … Racun atau entah apa itu di buntalan kain pada anak panah Haruki, semakin menyebar di air yang ada di sekitar mereka. “Kita hanya harus menunggu hingga mereka tak sadarkan diri. Melelahkan sekali melakukannya,” ungkap Haruki yang kembali duduk dengan meletakkan busur miliknya itu di sampingku.