
“Sekarang keluarlah dari kamarku!” perintah Haruki kembali, dia melambaikan telapak tangannya sebelum dia tertunduk dengan memijat kepalanya.
Aku dan Izumi saling lirik, tubuhku berbelok melangkahkan kaki mengikuti Izumi yang telah berjalan mendekati pintu lalu membukanya. “Apa kalian mengetahui, di mana Tatsuya membawa Tsutomu dan juga Tsubaru?” tanya Izumi ketika langkahnya terhenti dengan menatap ke arah Arata dan juga Yuki yang berdiri di belakang Eneas dan Ryuzaki.
“Mereka masih di atas Pangeran,” jawab Arata, Izumi menganggukkan kepalanya sebelum melangkah melewati mereka yang berdiri di dekat pintu.
Aku membuang pandanganku dari Eneas dan juga Ryuzaki yang melirik ke arahku. Kutarik napas dalam sebelum aku mengikuti langkah Izumi di belakangnya, aku berjalan melewatinya ketika pandanganku terjatuh kepada Tsubaru dan juga Tsutomu yang duduk bersandar di tong-tong kayu yang sebelumnya aku duduki.
“Apa kalian berdua baik-baik saja?” tanyaku ketika duduk di hadapan mereka berdua.
“Di mana Tatsuya?” tanyaku kembali kepada mereka.
“Dia sedang mengambilkan air untuk kami berdua, Putri,” jawab Tsutomu dengan kembali menyandarkan dirinya.
“Apa tulang kalian berdua ada yang patah?”
“Kenapa? Aku bertanya karena mengkhawatirkan mereka,” sambung Izumi dengan menoleh ke arahku ketika aku melirik ke arahnya.
Aku kembali menatap mereka berdua, sesekali Tsutomu mengusap ujung bibirnya yang terluka menggunakan ibu jarinya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Aku menoleh ke sekeliling sebelum mengarahkan pandangan kembali ke arah mereka berdua setelah memastikan tidak ada siapa pun di sekitar kecuali kami berempat, “Tsutomu, jika aku mengatakan … Aku menyayangimu, apa kau akan mempercayainya?”
“Eh?” tukas Tsutomu yang langsung terpaku menatapku.
“Hanya jawab saja, iya atau tidak,” ungkapku kembali dengan tersenyum menatapnya.
“Apa yang kau lakukan?”
“Hanya ingin mencoba sesuatu,” aku menjawab pertanyaan Izumi dengan tetap mengarahkan pandangan ke arah Tsutomu yang masih diam seperti sebelumnya.
“Bagaimana Tsutomu? Apa kau, akan mempercayainya?” tanyaku sekali lagi padanya.
“Aku percaya,” sahutnya sambil membuang pandangannya ke samping.
Aku mengangkat tanganku menyentuh pelan ujung bibirnya yang terluka itu, “aku berharap, dapat mengambil luka yang ada di tubuhnya. Aku menginginkan dia tanpa luka untuk membantu menjaga keluargaku. Jadi Deus, kabulkan harapanku,” ungkapku dengan tetap menatap Tsutomu yang masih tertegun menatapku.
Angin sejuk kembali berembus, anginnya terasa berbeda dari embusan angin yang menerpa tubuhku sebelumnya. Aku sedikit terhenyak saat rasa perih tiba-tiba menjalar di ujung bibirku beriringan dengan semakin menghilangnya luka yang ada di ujung bibirnya Tsutomu. “Sachi!” Aku terhentak kaget ketika suara Ryuzaki tiba-tiba berteriak dari arah belakang.
Tubuhku tertarik sedikit ke belakang dengan cepat, “jangan lakukan itu,” aku mengangkat tatapanku ke arah Ryuzaki yang sudah memeluk erat tubuhku.
Pandanganku ikut melirik ke arah tanganku yang sebelumnya memegang luka Tsutomu telah berpindah, digenggam erat oleh Ryuzaki, “jangan melakukannya, jangan mengambil luka yang bukan milikmu. Kumohon,” ungkapnya yang semakin mempererat pelukannya.
“Baiklah, aku tidak akan melakukannya. Ryu, aku tidak bisa bernapas jika kau memelukku terlalu erat seperti itu,” ungkapku dengan menepuk-nepuk lengannya.
Aku melirik ke arah Ryuzaki sebelum kembali menoleh ke arah Izumi yang berbicara. “Ryu,” tukas Izumi kembali dengan membuang pandangannya ke arah Ryuzaki.
Izumi tertunduk dengan menggenggam erat kedua tangannya ketika Ryuzaki telah selesai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. “Jadi kau, dapat mengambil luka dan kutukan seseorang?” tanya Izumi dengan melirik ke arahku.
“Apa Haruki, mengetahui hal ini?” Aku menggelengkan kepala saat pertanyaan yang ini ia lontarkan, “aku, tidak ingin membuatnya merasa bersalah.”
“Maka sembunyikan sihirmu itu,” timpal Izumi yang membuatku mengangkat kembali pandangan menatapnya.
“Jangan pernah menggunakannya pada siapa pun. Katakan Tsubaru, jika Sachi menggunakan sihirnya kepadamu … Apa kau, akan berterima kasih?”
“Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin, seseorang yang seharusnya aku lindungi … Mengambil dan menanggung semua luka yang aku dapatkan. Lalu, untuk apa aku melindunginya, jika akhirnya dia yang terluka,” kedua mataku membesar, aku tertegun ketika kata-kata itu keluar dari bibir Tsubaru.
“Kau dengar itu! Jangan pernah memakainya! Jangan sekalipun kau memakainya! Anggap, kau tidak memiliki sihir itu! Jika kau menghormatiku sebagai Kakakmu, maka dengarkan kata-kata yang aku ucapkan itu, Sachi!” tukas Izumi, dia beranjak berdiri sebelum melangkah pergi meninggalkan kami.
_____________.
Sudah sepekan lebih sejak kejadian itu … Baik Izumi, Ryuzaki, Tsubaru ataupun Tsutomu, bersikap jika kejadian yang lalu tak pernah terjadi. “Sachi!”
Aku menoleh ke belakang dengan mengangkat kedua tanganku meraih sesuatu yang dilemparkan Izumi, “Haruki mengatakan jika kita akan berlabuh. Isilah perutmu terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan,” ungkapnya yang telah berdiri di sampingku dengan menggigit apel yang ada di tangannya.
Aku mengusap apel pemberian Izumi ke lengan pakaian yang aku kenakan sebelum menggigitnya, “jadi kita akan ke sana melalui daratan?” tanyaku dengan menoleh ke arahnya yang berdiri menyandarkan dirinya di samping kapal.
Izumi melirik ke arahku, “awak kapal memohon kepada Haruki untuk mengampuni mereka karena mereka tidak berani untuk pergi ke sana melewati pesisir laut,” ungkapnya dengan kembali menggigit apel yang ada di tangannya.
“Mereka benar-benar, padahal aku sudah menjamin keselamatan mereka,” timpalku ikut bersandar sambil mengangkat wajahku ke atas.
“Nii-chan, menurutmu … Apa yang akan kita temui di sana?” Aku kembali bertanya dengan menurunkan pandanganku menatapnya.
“Entahlah, jika kau bertanya kepadaku … Aku berharap, menemukan hewan kuat yang bisa kita gunakan melawan Kaisar,” jawab Izumi sembari dia berjalan maju mendekati Tsubaru dan juga Tsutomu yang berjalan mendekat dengan menarik masing-masing dua ekor kuda mendekat.
“Semoga saja kita menemukannya,” timpalku sambil mengikuti langkahnya mendekati Tsubaru.
Tsubaru melepaskan genggaman tangannya pada tali kekang kedua kuda, dia sedikit menunduk dengan merogoh ke dalam tas yang ia bawa lalu memberikan lipatan kain yang ia keluarkan dari dalam tas kepadaku. “Terima kasih,” ucapku meraih lipatan kain yang ternyata jubah dari tangannya.
Aku membuka lipatan jubah tersebut lalu mengenakannya, kedua kakiku berjalan lalu beranjak menaiki kuda milikku yang ada di sebelah kiri Tsubaru, “Tsu nii-chan sudah memeriksa semuanya?” tanyaku ketika telah duduk di atas kuda tersebut.
Tsubaru sedikit mendongakkan kepalanya, “tidak ada yang tertinggal, Putri. Semuanya telah aku periksa dengan sangat baik,” ungkapnya yang tersenyum membalas tatapanku.
Aku menoleh ke belakang ketika suara Haruki terdengar, kugerakkan tali kekang yang telah aku genggam hingga kuda yang aku tunggangi bergerak mendekati mereka yang telah berkumpul dengan mengarahkan pandangan ke arah kami. “Nii-chan, tempat seperti apa yang akan kita singgahi nanti?” tanyaku ketika kuda yang aku tunggangi itu berhenti tepat di hadapan Haruki.