Fake Princess

Fake Princess
Chapter CXLIV


"Aku pikir ada penyusup, ternyata kalian berdua. Apa yang kalian berdua lakukan di tengah malam seperti ini?"


"Paman, apa kau tidak bisa tidur? Aku akan membuatkanmu teh," ucapku seraya berusaha melepaskan genggaman Zeki seraya kulangkahkan kakiku mendekati Raja Lamond.


"Kau dapat melakukannya?"


"Tentu, katakan saja kau ingin makan apa? Aku akan memasaknya untukmu, jadi Paman bisakah kita pergi dari sini sekarang?" ucapku tersenyum padanya.


"Tentu, apa kau bisa memasak makanan dari Kerajaanmu?" ungkapnya seraya berbalik dan berjalan mendahului.


"Tentu, apapun yang Paman inginkan... Aku akan memasaknya untukmu," ucapku seraya melangkahkan kaki berjalan di sampingnya.


_____________


"Lux, apa kau yakin akan hal ini?"


"Tentu, aku harus melakukannya. Lagipun, jika aku terus menutupinya... Aku takut jika hal itu sudah terlambat untuk di selamatkan," tukasnya, kupandangi dia yang tengah merapikan rambutnya di hadapan cermin.


"Baiklah, aku sudah siap," ucapnya lagi seraya terbang dan hinggap di pundakku.


Kulangkahkan kakiku keluar dari kamar, kutatap seorang Kesatria telah menunggu di depan pintu kamar. Kembali aku tutup pintu kamarku tadi seraya kulangkahkan kembali kakiku menuju ruang pertemuan dengan Kesatria tadi berjalan di belakangku.


Langkah kaki kami berdua terhenti di depan pintu berukuran besar tersebut, dibukanya pintu tadi oleh dua Kesatria yang berdiri menjaganya. Melangkah kembali aku masuk ke dalam ruangan yang telah berisikan beberapa orang sebelumnya...


Kulangkahkan kakiku mendekati Haruki seraya duduk aku di sampingnya, ikut kuarahkan telapak tanganku menepuk pelan kepala Eneas yang juga duduk tertunduk di sampingku...


Kuarahkan pandanganku pada Amithi, Chandini, Kabir, dan juga Akash yang juga telah duduk berseberangan dengan kami. Pintu kembali terbuka, tampak terlihat Raja Lamond masuk ke dalam ruangan diiringi dengan Julissa, Pangeran Miron beserta Zeki yang berjalan di belakangnya.


Kualihkan pandanganku pada Zeki yang melirik, ikut terlihat senyum dingin seperti semalam masih terukir di wajahnya...


Raja Lamond duduk di singgasananya dengan Julissa dan Pangeran Miron di sebelah kanan dan kirinya, sedangkan Zeki ikut duduk berdampingan dengan mereka berempat di hadapan kami...


"Apa kita dapat langsung memulainya, Raja?" ucap Haruki menatap Raja Lamond.


"Tentu, kau dapat memulainya sekarang," jawabnya membalas perkataan Haruki.


"Seperti yang kau ketahui, jika kami memiliki seekor Naga di pihak kami. Akan tetapi, Kaisar pun memiliki hewan yang sama. Hewan itulah yang menyerang dan hampir membakar seluruh tubuh kami enam tahun yang lalu," ucap Haruki kembali padanya.


"Kami sendiri, telah bersekutu dengan Kerajaan Paloma. Jadi, apa kalian yakin ingin bergabung dengan kami?


"Maksudku, apa kalian telah siap menjadikan Kekaisaran sebagai musuh kalian?" sambung Haruki lagi padanya.


"Dia telah membunuh banyak anakku, bahkan bukan anakku saja melainkan juga calon cucuku..."


"Aku bukanlah Ismet yang akan selalu tunduk padanya. Sudah saatnya Kekaisaran hancur bukan?" ucap Raja Lamond kembali seraya menatapi Haruki dengan sedikit senyum di wajahnya.


"Sebenarnya Raja, ada rahasia lain yang ingin kami beritahukan pada kalian. Rahasia yang hanya kami berempat yang mengetahuinya," ungkap Haruki lagi.


"Kemungkinan akhir untuk kita umat manusia," jawab Haruki, kualihkan pandanganku pada mereka yang ada di dalam ruangan. Tampak terlihat mata mereka membesar seakan sedang mencerna apa yang dimaksudkan.


"Lux, majulah!" ucap Haruki kembali, terbang Lux dari pundakku seraya berhenti dia di tengah-tengah kami semua.


"Salam, perkenalkan Lux. Seorang Pangeran dari bangsa Peri, aku akan menceritakan apa yang terjadi pada bangsaku pada kalian semua..."


Kupandangi Lux yang tengah menceritakan semua yang dilakukan Kaisar pada Kerajaannya, kisah yang menjadi awal mula pertemanan kami. Dan awal mula dia mulai kembali percaya pada manusia...


"Jadi maksudmu, jika kita tidak segera mendapatkan Robur Spei... Kita semua akan binasa?" ucap Pangeran Miron menatapi Lux.


"Kau benar, karena itu... Apapun yang terjadi, kami harus menghancurkan Kekaisaran."


"Kekaisaran itu besar, apa kalian pikir akan sangat mudah menghancurkannya."


"Akash, apa yang kau lakukan?" gumam Kabir, berusaha menghentikan temannya tadi.


"Sora, Paloma, Leta, Balawijaya, dan juga Yadgar. Telah lima Kerajaan bergabung," ucap Zeki seraya mengangkat kelima jari telapak tangan kanannya.


"Sejak kapan Balawijaya dan juga Yadgar bergabung?" sambung Izumi menatapnya.


"Apa kau pikir Adinata dan juga Danurdara tidak akan bergabung jika kukatakan pada mereka ini perintah dari Hime-sama," ungkap Zeki melirik ke arahku.


"Hime-sama?" ucap Pangeran Miron menatapi kami.


"Itu julukan untuk Sachi, Kakak," sambung Julissa pelan seraya diangkatnya telapak tangannya menutupi sebelah wajahnya yang dimiringkan menatap Pangeran Miron.


"Lalu bagaimana dengan Yadgar?" tukas Haruki ikut mengalihkan pandangannya pada Zeki.


"Aku hanya tinggal memerintah pasukanku untuk memberontak pada Kerajaan, itu tugas yang sangat mudah untukku," ucap Zeki seraya memainkan kuku tangannya, melirik dan tersenyum ia menatapku.


"Ismet adalah teman baikku, dan kau berbicara seperti itu di hadapanku?"


"Aku tidak akan membunuhnya, kau tenang saja. Aku mungkin hanya akan mengasingkannya... Jika aku membunuhnya, tunanganku yang berada di sana pasti tidak akan berbicara padaku lagi," sambung Zeki menimpali perkataan Raja Lamond.


"Apa Ayah kami yang memintamu melakukannya?" ucap Haruki kembali padanya.


"Tentu saja tidak, aku hanya ingin mempersiapkan tempat tinggal yang aman untuk keluarga kecil kami nantinya."


"Kau yakin sekali dapat menikahi adikku," ungkap Izumi, kualihkan pandanganku padanya yang menampilkan senyum tipis ke arah Zeki.


"Bukankah sudah sejak lama kau menyetujui hubungan kami..."


"Aku benar bukan, Kakak ipar?" sambung Zeki balas menatapi Izumi.