Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCX


"Aku telah membersihkan dan memberikan obat pada lukamu, apa kau bisa melakukannya sendiri?" ucapnya lagi seraya kuarahkan pandanganku menatapi sehelai kain putih yang ia letakkan di hadapanku.


"Aku akan melakukannya," ungkapku sembari kugerakkan tubuhku mencoba beranjak duduk.


Duduk aku membelakanginya seraya kulepaskan pakaian yang masih melekat pada tubuhku tadi. Kuarahkan telapak tanganku meraih kain putih tadi seraya kubuka lipatannya lalu kuletakkan kain putih tersebut melilit pundak hingga menutupi dadaku...


"Nii-chan, bisakah kau membantuku mengikatkannya?" ungkapku padanya, kurasakan sesuatu menggenggam tanganku yang memegang kedua ujung kain putih tadi.


"Bagaimana? Apakah terlalu kencang untukmu?" ucapnya sembari kurasakan perasaan menyesakkan saat ia menarik kuat kain putih tadi.


"Terlalu kencang, aku tidak bisa bernapas," ungkapku padanya, diikuti melonggarnya ikatan yang ia lakukan.


"Apa yang kau lakukan Daisuke?" terdengar suara Izumi, kugerakkan kepalaku berbalik menatap ke arah meja di depan pintu yang bergerak perlahan.


"Yang Mulia," ucap Daisuke saat kepalanya muncul dari samping pintu yang sedikit terbuka.


"Minggir Daisuke! Haruki, jelaskan padaku kenapa pintu bisa sam..." ucapan Izumi terhenti, kutatap dia yang balas menatapku saat meja yang ada di depan pintu berhasil di dorongnya menjauh.


"Apa yang terjadi?!" ucapnya lagi seraya digerakkannya kedua kakinya berlari mendekati.


Izumi duduk di hadapan kami, diarahkannya telapak tangannya tadi memegang pelan pundakku. Kulirik ia yang masih menatapi luka di pundakku dengan waktu yang sangat lama...


"Apa yang terjadi padanya? Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi Haruki?" ungkap Izumi kembali seraya kutatap dia yang mengalihkan pandangannya menatap tajam pada Haruki.


"Saat kami pergi menyelidiki, segerombolan laki-laki mengejar kami dengan membawa senjata. Saat kami berusaha untuk lari..."


"Kau tidak bisa melindunginya? Apa itu yang kau maksudkan?"


"Izu nii-chan," ungkapku mencoba menghentikan mereka yang masih bertatapan satu dengan lainnya.


"Diam Sachi, aku berbicara padanya. Pada Kakak, yang katanya akan selalu melindungi adiknya," ucap Izumi tanpa menoleh ke arahku.


"Aku melakukan kesalahan..."


"Hentikan, kalian berdua hentikan ini sekarang juga," ucapku memotong perkataan Haruki.


"Izu nii-chan, ini semua bukan kesalahan Haru-nii sepenuhnya. Ini juga ada kesalahanku di dalamnya, Haru nii-chan juga telah melakukan semua yang terbaik yang ia lakukan untuk membawaku pulang dengan cepat," ucapku lagi pada mereka, kualihkan pandangan mataku menatapi mereka berdua yang tertunduk bergantian.


"Jadi Izu-nii, apa informasi yang kalian dapatkan?" Ucapku seraya kualihkan pandanganku padanya.


"Aku mengetahui, jika benda memabukkan yang tersebar itu bernama Himlen. Sekali benda tersebut masuk ke dalam tubuh maka sudah dipastikan orang tersebut akan selalu dan selalu menginginkannya kembali..."


"Satu keluarga, malah saling membunuh karena berebutan ingin mengonsumsinya," ucap Izumi kembali, masih kutatap dia yang kembali duduk dengan sedikit santai tak seperti sebelumnya.


"Berebut?"


"Lalu, apa informasi yang kalian dapatkan?" ungkap Izumi mengalihkan pandangannya menatapi Haruki.


"Apa kalian ingat laki-laki bertubuh besar yang berpapasan dengan kita di tangga saat kita pertama kali datang ke sini?" ungkap Haruki, mengangguk mereka semua menjawab perkataan dari Haruki.


"Laki-laki tersebut adalah salah satu dari penjual..."


"Pengedar," ucapku memotong perkataannya.


"Baiklah, pengedar. Laki-laki tersebut salah satu dari pengedar barang tersebut, ia menjual benda tersebut pada orang lain," ucap Haruki kembali, diangkatnya sebelah telapak tangannya memangku dagunya pelan.


"Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" ungkap Izumi kembali padanya.


"Aku akan kembali lagi besok ke tempat yang sama, aku berharap dapat menemukan sedikit petunjuk di sana," ucap Haruki seraya diangkatnya kepalanya menatap langit-langit kamar.


"Sachi, bagaimana keadaanmu?" terdengar suara Lux, kualihkan pandanganku menatapnya yang terbang dari dalam kantung pakaian Daisuke.


"Aku baik-baik saja," ungkapku balas menatapnya.


"Apa kau telah membalurkan obat di botol dengan tutup berwarna kuning pada lukanya?" ungkap Lux mengalihkan pandangannya menatapi Haruki, ikut kualihkan Haruki yang mengangguk membalas perkataannya Lux.


"Nii-chan, terlalu berbahaya jika kau pergi ke sana sendirian," ungkapku seraya kembali kuarahkan pandanganku menatapinya.


"Aku akan menemaninya, kau istirahat saja di sini sampai lukamu sembuh," ucap Izumi menimpali perkataanku.


"Aku mengerti, tapi tolong berhati-hatilah nanti kalian," ungkapku menatapi mereka berdua bergantian.


"Pakailah ini," ucap Izumi kembali, digerakkannya tubuhnya meraih tas kulit miliknya yang tergeletak di lantai.


"Pakailah selimut ini, lalu istirahatlah. Pastikan, jangan menindih lukamu itu saat berbaring," ungkapnya lagi padaku seraya diarahkannya sebuah selimut berwarna cokelat ke arahku.


"Berbaringlah, aku akan membantumu menyelimuti punggungmu," ucap Haruki, kugerakkan kepalaku menatapnya yang tengah menepuk-nepuk telapak tangannya pada bantal yang ada di sampingnya.


Kugerakkan tubuhku bergerak perlahan mendekati bantal tadi, kubaringkan kepalaku menyentuh perlahan bantal yang kehilangan empuknya itu. Kurasakan angin tertiup pelan menyentuh punggungku seraya kembali kurasakan hawa hangat saat kulirik selimut yang telah menyelimuti tubuhku tadi...


"Apa kau ingin makan sesuatu?" ucapnya kembali diikuti sentuhan pelan menyentuh dan menyusuri pelan rambutku.


"Aku tidak lapar, hanya kepalaku saja yang sedikit pusing, mungkin karena hujan tadi," ucapku pelan sembari kugerakkan kedua kelopak mataku berkedip-kedip berusaha untuk terlelap.


"Bagaimana? Apa sudah sedikit lebih baik?" ungkapnya, sembari kurasakan pijatan-pijatan pelan di kepalaku.


"Aku merasa lebih baik, terima kasih Haru nii-" ungkapku dengan sesekali menguap menahan kantuk yang menyerang.