Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXLIV


“Aku akan mengantarmu kembali ke tenda, Putri,” tukas Duke saat dia menghentikan langkah kakinya di hadapanku.


“Tidak perlu, aku bisa berjalan sendiri ke tenda,” jawabku dengan melambaikan kedua tanganku ke arahnya.


Aku membungkukkan tubuh di hadapannya, “Paman, terima kasih atas semua bantuannya,” ucapku saat kembali beranjak berdiri menatapnya.


Aku berjalan melewatinya, kadang kala aku berbalik meliriknya yang masih menatapku dari kejauhan. Langkah kakiku bergerak semakin cepat, bahkan semakin cepat ketika bayangannya telah menghilang dari pandangan. Aku berlari menjauhi perkampungan, tanpa mengindahkan apa pun yang berada di belakangku.


Langkah kakiku terhenti di sebuah batu besar yang menjadi tempatku bersembunyi dengan Izumi sebelumnya. Aku bergerak mendekati batu itu lalu duduk bersandar padanya, “aku telah mengalihkan perhatian Duke. Aku harap Izu-nii melakukan tugasnya dengan sangat baik,” bisikku pelan dengan mengusap keningku yang dibasahi keringat.


Aku mengangkat pandangan menatapi langit yang kian menggelap seiring waktu, “Kou, datanglah! Aku membutuhkan bantuanmu. Tetaplah di udara Kou, hingga aku memanggilmu kembali,” gumamku dengan kembali mengarahkan pandangan ke depan.


Tubuhku terhentak saat menangkap suara benda jatuh di sampingku, aku melirik ke atas, lama kutatap sepasang mata bersinar itu yang tak kunjung berhenti menatapku. “Panggil Kou, sekarang!” Suara laki-laki itu berbisik disertai bergeraknya sepasang mata tadi ke samping.


“Kou!”


Aku menutup mataku saat udara dingin tiba-tiba menampar dari arah depan, “hanya ini yang bisa aku kumpulkan, naiklah duluan,” ucap Izumi, aku tidak bisa melihat apa pun kecuali sepasang bola matanya yang bersinar itu.


“Di mana Haru-nii, Lux dan juga Eneas?”


Aku beranjak berdiri saat kurasakan sesuatu menarik tanganku, “mereka akan segera datang. Cepatlah naik, sebelum para penduduk ataupun Duke sadar kita menghilang,” bisik suara Izumi yang terdengar di kegelapan.


Aku berjalan mengikuti tarikan di tanganku itu, tubuhku tia-tiba terangkat ke atas saat genggaman di tanganku itu terlepas, “Kou,” ucapku saat tanganku meraba kulit yang aku duduki itu.


“Sachi,” aku menoleh ke arah suaranya yang terdengar, “pegang tas ini, aku akan menjemput mereka,” tukas Izumi lagi, aku hampir jatuh ke depan saat tanganku meraih benda yang lumayan berat di hadapanku itu.


Aku menahan napas dengan mengangkat tas yang Izumi maksudkan ke atas, kupeluk dengan kuat benda persegi berukuran besar yang ada di hadapanku itu. Aku mendongakkan kepala ke atas, menatap langit yang gelap tanpa bintang maupun bulan yang menghiasinya.


“Kou, apa kau bisa memakai sihir waktu?”


“Apa yang kau maksudkan, My Lord?”


“Haruki mengatakan, jika di suatu Kerajaan, ada sebuah hewan yang tubuhnya diliputi es. Es itu tidak bisa hancur walau dilakukan apa pun, padanya,” ucapku dengan menyandarkan wajah ke tas yang aku peluk itu.


“Maka, izinkan aku untuk memastikannya nanti, setelah kita sampai di sana,” jawab Kou yang kembali terngiang di kepala.


“Mereka datang.”


Aku mengangkat wajahku menatap ke semua arah saat Kou tiba-tiba kembali bersuara, pandangan mataku terhenti ke arah sepasang mata bersinar yang bergerak mendekat. “Kou, bantu kami!” Suara Haruki terdengar di dekat kakiku ketika sepasang mata bersinar tadi berhenti di samping.


Aku memeluk erat tas yang ada di hadapanku itu saat tubuh Kou mulai bergerak, “apa kau bisa memegangnya?” Terdengar suara bisik Izumi dari arah belakang.


“Bawa kami ke kota terdekat, Kou!”


“Kenapa kita tidak pergi langsung saja ke Kerajaan Ardenis?”


“Pergi ke Kerajaan Ardenis, berarti kita harus melewati Kekaisaran. Kau ingin membawa Kou saat kita melewati Kekaisaran?”


Aku terdiam saat Haruki menjawab perkataanku, “tapi itu sama saja bukan? Kita tetap melewati Kekaisaran pada akhirnya,” ucapku kembali padanya.


“Jika tanpa Kou, kita bisa melewati Kekaisaran dari rute jalan yang telah disiapkan oleh salah seorang mata-mataku. Putuskan ikatan sihir kalian ketika kita mendekati Kekaisaran, sama seperti yang kalian lakukan di hutan terlarang.”


“Lalu, bagaimana denganku?” Aku sedikit berusaha untuk menoleh ke belakang saat suara Lux terdengar.


“Kau akan tinggal dengan Kou untuk sementara waktu, dengan begitu … Mereka tidak akan merasakan sihirmu,” tukas Haruki lagi menimpali perkataan Lux.


“Di bawah sana, ada sebuah kota kecil. Di bagian Utara tempat itu, ada sebuah hutan. Kita bisa mendarat di sana,” ungkap Izumi yang kembali bersuara.


Pegangan tanganku pada tas semakin erat tatkala aku menerjemahkan arahan Izumi menggunakan bahasa Inggris, “ikuti aku, aku akan membawa kalian keluar dari hutan,” tukas suara Izumi diikuti suara hentakan kaki yang terdengar di samping.


Aku melepaskan pegangan tanganku di tas saat kurasakan tas itu bergerak seakan ditarik oleh sesuatu. Tubuhku kembali terangkat ke atas saat benda dingin melilit pinggangku, “jangan melepaskan pegangan! Jika kalian tidak ingin tersesat,” Izumi kembali bersuara saat kedua kakiku kembali menapak.


Aku berjalan ke depan saat kurasakan sesuatu menggenggam dan menarik tanganku. “Apa kau mengingat jalannya Izumi?”


“Aku sudah mengingatnya saat kita di atas, aku akan membawa kalian langsung ke kota menggunakan jalur tercepat,” balas Izumi menimpali perkataan Haruki.


Aku lagi-lagi berjalan mengikuti genggaman yang menarik tanganku, kuangkat kepalaku mendongak ke atas, menatap sinar bulan yang terlihat samar tertutup awan tipis di langit. “Seperti yang aku katakan, bukan?” Aku kembali mengalihkan pandangan ke depan saat suara Izumi terdengar.


Aku melangkah mengikuti langkah kakinya yang berjalan membelakangi kami, pandangan mataku terjatuh menatap tas besar yang ia gendong di punggungnya. “Nii-chan, kau membawa barang sebanyak itu dari tenda Duke?”


Izumi menghentikan langkahnya lalu berbalik menatapku, “kau sendiri yang memintaku untuk mencuri barang-barang berharga miliknya,” ungkapnya yang mencengkeram erat kepalaku.


“Ayah pasti akan membunuh kita semua, jika dia mengetahui … Anak-anaknya mencuri barang temannya sendiri,” sambung Izumi lagi, dia melepaskan cengkeraman tangannya di kepalaku sebelum dia berbalik lalu berjalan menjauh.


“Aku tidak bisa menemukan di mana mereka menyembunyikan tas Izumi, aku juga tidak tahu di mana mereka menyimpan semua senjata kita. Kerja bagus, kau memiliki ide untuk mencuri barang milik Duke, jika tidak … Kita tidak akan bisa mendapatkan perbekalan untuk melanjutkan perjalanan,” ungkap Haruki, aku melirik ke arahnya yang berjalan melewati saat kurasakan tepukan pelan menyentuh kepalaku.


“Nee-chan, tas milikmu,” aku menoleh ke samping ketika suara Eneas terdengar sembari kuraih tas kulit milikku yang ada di tangannya.


“Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana wajah mereka ketika tahu kita menghilang.”


“Aku lebih tidak bisa membayangkan, bagaimana wajah mereka ketika laki-laki itu menceritakan apa yang kita perbuat padanya,” timpal Izumi menanggapi perkataan Eneas diikuti gelak tawa keras yang ia keluarkan.