
"Kastilku hancur, semua orang yang aku percaya berkhianat. Aku," ucap Niel tertunduk, diangkatnya kedua kakinya bertekuk menutupi wajahnya.
"Ayah," bisik Egil sesenggukan di sampingku, kutatap dia yang masih menatapi Niel dengan tatapan berbinar, kutepuk punggungnya pelan hingga dia menoleh menatapku dengan kedua matanya yang memerah.
"Pergilah," bisikku padanya seraya kugerakkan sedikit kepalaku. Egil beranjak berdiri lalu berjalan mendekati Niel.
"Ayah," ucapnya duduk dihadapan Niel, diraih dan digenggamnya telapak tangan Niel olehnya.
"Maafkan Egil. Maaf, jika Egil membuat Ayah kecewa. Maaf, Egil menghancurkan kebanggaan yang Ayah bangun selama ini," tangisnya seraya diletakkannya kepalanya menyentuh telapak tangan Niel.
"Maafkan Egil Ayah. Kumohon, maafkan Egil," tangisnya lagi, kutatap Niel yang masih menyembunyikan wajahnya di balik kedua kakinya yang tertekuk.
"Berhenti mengasihani diri sendiri. Kau pecundang!" Ucap Izumi lantang, berjalan dia mendekati mereka lalu berhenti tepat di belakang Egil.
"Harusnya kau membangun ulang Kastil mu, menarik orang-orang yang kuat di sini sebagai Kesatria mu. Jangan hanya diam dan merenungi nasib yang sudah terjadi!" Sambung Izumi kembali seraya diangkatnya kedua lengannya bersilang di dada.
"Jika kau ingin bergabung menjadi sekutu kami. Kami akan dengan senang hati membangun Kerajaanmu kembali," tukas Haruki ikut menimpali perkataan Izumi.
"Sekutu?" Ucapnya mengangkat kepalanya menatap Haruki.
"Kau harus memberikan kami izin penuh mengelola tambang emas. Dan akan aku pastikan, Kerajaan Sora akan langsung memberikan perlindungan kepada kalian," ucap Haruki menimpali perkataannya.
"Apa kau pikir, aku akan mempercayai seseorang setelah apa yang terjadi," ungkapnya lagi kepada Haruki.
"Kita akan melakukan perjanjian, dengan perjanjian semuanya akan jelas. Tak ada ikatan emosional jika itu menyangkut perjanjian," ucap Haruki kembali padanya.
"Biang keladinya adalah Kekaisaran bukan? Apa Kerajaan kalian cukup kuat untuk menghancurkannya?"
"Apa kau lihat? Naga yang sedang tertidur di sana?" Ucap Haruki, diangkatnya jari telunjuknya mengarah pada Kou yang masih lelap tertidur.
"Naga itu, sudah cukup untuk menjadi bukti kekuatan Kerajaan kami," sambung Haruki kembali padanya.
"Baiklah. Jika kalian dapat memperbaiki semua kekacauan, dengan senang hati... Aku akan memberikan bantuan yang banyak saat kalian membutuhkannya," ucap Niel membalas perkataan Haruki.
"Baiklah. Daisuke, aku akan mengirimkan surat pada Ayah, persiapkan semuanya," ungkap Haruki mengarahkan pandangannya menatapi Daisuke.
_________________
"Lukamu sudah sedikit membaik, hanya menunggu beberapa hari saja hingga pulih sepenuhnya," ucapku seraya kugerakkan tanganku membalut luka di lengan Niel.
"Kau jangan terlalu menggerakkan lenganmu. Atau nanti, kau benar-benar tak akan bisa menggunakannya lagi," sambungku, kugerakkan balutan kain putih tadi terikat dengan kuat di lengannya.
"Kau hanya harus mencoba berbicara pada Egil lagi. Tiga Minggu, sudah lebih dari cukup untuk mengabaikannya, dia masih kecil... Jangan menghancurkan jiwa kecilnya yang masih membutuhkan bimbingan darimu," ungkapku, kugerakkan tubuhku berbalik meraih obat-obatan milikku yang tercecer.
"Kau benar. Padahal sudah tiga Minggu sejak kejadian tersebut, bahkan Kastilku sudah mulai terbangun kembali. Aku akan mencoba berbicara padanya lagi," ucapnya dengan sangat pelan.
"Baguslah. Aku sudah mengobati lukamu, jadi aku akan pergi sekarang," ucapku beranjak berdiri lalu berjalan meninggalkannya.
"Sachi," ucapnya, kuhentikan langkah kakiku lalu berbalik menatapnya.
"Terima kasih," ucapnya lagi padaku.
"Tidak perlu berterima kasih," ungkapku, kembali berbalik lalu berjalan meninggalkannya.
Kugerakkan tubuhku kembali menutup pintu kamarnya, langkah kakiku kembali terhenti saat kutatap Egil yang berdiri bersandar di samping pintu dengan kepala tertunduk. Kuarahkan telapak tanganku menyentuh kepalanya seraya sedikit kugerakkan kepalaku mengarah ke pintu, dia masih menatapku tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
"Ayahmu ingin berbicara padamu, temui dia... Dia menantimu di kamarnya," ucapku tersenyum padanya.
Kuangkat telapak tanganku dari atas kepalanya, aku kembali melangkahkan kaki berjalan melewatinya. Lorong Kastil yang semula gelap, kini sedikit menerang oleh banyaknya sinar matahari yang masuk.
Sinar matahari yang jatuh melewati lubang-lubang besar di dinding benar-benar sedikit menghangatkan suasana Kastil yang semula dingin oleh minimnya cahaya.
Tiga Minggu sudah kami berkutat membangun wilayah ini lagi. Izumi dan Daisuke merekrut banyak sekali warga atau bisa kalian sebut dengan penjahat untuk menjadi Kesatria, sekarang para penjahat tersebut melakukan pelatihan bertarung setiap hari dibawah bimbingan mereka berdua.
Haruki dan aku, kami saling membantu memperbaiki semua kerusakan kepemimpinan yang dilakukan Niel. Tambang emas wilayah ini, sekarang beralih di bawah kekuasaan Haruki. Beberapa penjahat yang ia pekerjakan di tambang benar-benar berkerja dengan sangat baik.
Aku? Aku mengubah salah satu penginapan besar yang ada di kota menjadi yayasan. Sekarang, sudah hampir lima puluh perempuan yang bernaung disana. Aku mengajari mereka cara merajut pakaian, aku mengajari mereka berbagai resep masakan... Aku hanya tidak ingin, mereka ditelan hidup-hidup oleh kerasnya dunia yang gila ini.
Aku ingin cepat-cepat mengumpulkan banyak sekutu.
Aku ingin cepat-cepat menghancurkan Kekaisaran.
Aku ingin cepat-cepat membangun dunia yang layak untuk kami para perempuan.
Aku ingin cepat-cepat menyembuhkan luka keluargaku.
Aku ingin cepat-cepat kembali...
"Putri," suara seorang yang tak asing terdengar bergetar di telingaku, kuhentikan langkah kakiku seraya kugigit kuat bibirku seiring kugerakkan tubuhku berbalik menatapnya.
"Tsu nii-chan," ucapku dengan suara bergetar menatapnya.