Fake Princess

Fake Princess
Chapter DVII


Aku mendongakkan kepala diikuti kedua tangan yang memeluk erat tubuhku sendiri saat udara pagi benar-benar menusuk. Kadang kala, aku mengangkat kedua telapak tanganku ke depan wajah sebelum meniupnya dengan udara hangat yang keluar dari mulut. “Putri,” tukas suara laki-laki diikuti langkah kaki kuda yang berjalan mendekat.


“Naiklah, Putri,” ucapnya lagi ketika dia telah menghentikan langkahnya di hadapanku dengan dua ekor kuda di kanan dan kirinya.


Aku berjalan ke arah seekor kuda berwarna cokelat yang ada di sebelah kanannya. Tubuhku bergerak menaiki kuda tersebut lalu meraih tali kekang kuda itu yang diberikan Tsubaru kepadaku, “Tsu nii-chan, sudah memeriksa semuanya?” tanyaku dengan menggenggam tali kekang kuda tersebut.


“Semuanya telah aku periksa, Putri. Tidak ada yang tertinggal,” ungkapnya yang sedikit mendongakkan wajahnya menatapku.


Aku menganggukkan kepala lalu menggerakkan kudaku berjalan mendekati Haruki dan Izumi yang juga telah menunggangi kuda mereka. “Selamat Pagi,” ucap Izumi yang berbalik menoleh ke arahku.


“Selamat … Pagi,” tukasku terhenti sejenak, aku menutup mulutku yang menguap saat kudaku berhenti tepat di sampingnya.


Aku mengedipkan beberapa kali mataku, menatap bayangan seseorang yang berlari mendekat. Laki-laki yang berlari tadi menghentikan langkahnya di depan Tatsuya yang duduk di atas kuda membelakangi kami semua. Tatsuya membalikkan kuda miliknya berjalan ke arah kami saat laki-laki yang berdiri di sampingnya itu berjalan mundur menjauh, “Yang Mulia, kapalnya telah datang. Mereka, sudah menunggu kita di sana,” tukas Tatsuya, dia menghentikan kuda miliknya dengan menatap ke arah Haruki.


“Baiklah,” jawab Haruki sambil menggerakkan kudanya berjalan melewati Tatsuya.


Aku ikut menggerakkan kudaku menyusul Haruki, sesekali aku melirik ke arah belakang, menatap Eneas dan Ryuzaki yang juga telah menunggangi kuda mereka tepat di belakang kuda milikku. Aku kembali membuang pandanganku ke depan, sesekali aku mengangkat kembali mendongakkan wajahku … Menatap langit pagi yang belum tersentuh matahari.


Wajahku kembali turun ketika suara hiruk-pikuk terdengar dari kejauhan, kutatap barisan laki-laki membawa keranjang ataupun kotak-kotak kayu di depan sebuah kapal besar di pelabuhan. “Itu semua, akan dijual ke banyak sekali pedagang di Kerajaan lain. Setiap dua pekan sekali, kapal-kapal milik kita akan mengirimkan semua barang-barang tersebut untuk diperjual-belikan,” ucap Tsubaru yang membuatku menoleh ke arahnya.


“Apakah tidak masalah? Maksudku, Kaisar sudah sangat jelas mengetahui niat kita, bukan?”


“Karena semua barang-barang itu, hanya bisa didapatkan di Kerajaan Sora. Setiap pedagang, berada di bawah perlindungan Ayah langsung, dengan beberapa Kesatria terlatih yang menjaga mereka, dan tentu saja keamanan berlayar yang langsung berasal dari Aydin untuk kita. Jadi, mau tak mau … Mereka harus menyingkirkan semua keegoisan mereka, untuk kepentingan perdagangan antar Kerajaan. Apa kau lupa? Jika perekonomian Dunia berada di tangan kita?”


“Terlebih, Ayah semakin gencar memberikan modal untuk banyak sekali Kerajaan membangun sebuah Bank dengan pembagian hasil dari keuntungan setiap pinjaman yang dilakukan oleh para penduduk di Kerajaan-kerajaan tersebut. Berkat saran darimu, Kerajaan kita semakin kaya tanpa perlu membuang-buang banyak tenaga,” sambung Haruki kembali saat dia berbalik ke belakang menatapku.


“Setelah aku berpikir semalam penuh, kemungkinan yang ditakutkan Ryuzaki terjadi hanya disebabkan oleh dua hal … Pertama, kita kekurangan bantuan dari mereka yang bukan manusia, kedua … Musuh dalam selimut yang akan menghancurkan semua kerja keras kita. Karena itu, kita hanya harus mendapatkan keduanya sebelum saat itu terjadi,” lanjutnya sambil menggerakkan kembali kudanya berjalan mengikuti kerumunan yang telah berjalan naik satu per satu ke atas kapal.


Aku kembali menggerakkan kudaku berjalan menyusul Izumi yang juga telah menunggangi kuda miliknya berjalan melewati. Kugerakkan kudaku itu ke sisi samping kapal, lama kutatap air laut yang membentang di hadapanku itu. “Putri,” lagi-lagi suara Tsubaru yang terdengar membuat pandanganku teralihkan.


“Kau, tidak berpikir untuk melompat ke sana, bukan?”


Aku melirik ke arah Haruki yang telah berdiri di sampingku, “aku, tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu untuk sesuatu hal yang tidak penting,” ucapku dengan kembali membuang pandanganku ke lautan.


“Bagaimana keadaanmu?”


“Aku baik-baik saja, bukankah pertanyaan itu … Seharusnya nii-chan tanyakan langsung kepada Ryu? Lihatlah, bahkan Izu-nii, sudah sangat akrab dengannya.” ucapku lagi sambil menunjuk ke arah Izumi yang tengah mengusap punggung Ryuzaki dengan sesekali tertawa.


Aku menganggukkan kepala saat pandangan Haruki beralih kepadaku, “dan juga, ke mana Lux? Aku tidak melihatnya dari pagi,” ungkapku dengan menggerakkan kepala kembali ke arah Izumi yang masih saja tertawa tanpa henti, “apa dia, sedang bersama Eneas?” tanyaku lagi kepada Haruki.


“Mereka sejak pagi sudah bersama Tatsuya, Tatsuya mendapat kabar sejak kemarin jika ada beberapa penyusup yang tertangkap … Jadi mereka ingin mencoba racun yang baru saja Lux dan juga Eneas buat untuk diujikan kepada penyusup-penyusup tadi.”


“Mereka berdua, terlihat sangat bersemangat jika sudah waktunya menguji racun yang mereka buat,” ucapku dengan berbalik menyandarkan diri ke dinding kapal.


“Itu hasil kerja keras mereka, jika racun yang mereka buat berhasil … Mereka akan lebih bersemangat membuat yang lainnya, jadi biarkan saja, lagi pun … Kita sendiri yang akan diuntungkan dari semua kerja keras yang mereka berdua lakukan.”


“Aku akan menyusul mereka, untuk melihat langsung bagaimana hasil dari racun-racun tersebut. Berhati-hatilah, jangan tiba-tiba menghilang … Di kapal ini, hanya kau seorang diri perempuan,” ucap Haruki, aku menganggukkan kepalaku saat dia menyentuh punggungku sebelum melangkahkan kakinya berjalan melewati Tsubaru yang juga telah berjalan ke arahku.


“Putri, kamarmu telah siap, jika Putri ingin segera langsung beristirahat,” tukas Tsubaru yang telah menghentikan langkahnya di hadapanku.


Aku berbalik dengan menatap laut membelakanginya, “berdirilah di sampingku, Tsu nii-chan,” ucapku dengan tetap mengarahkan pandanganku ke lautan.


“Nii-chan, jika aku sekarang melompat ke laut lalu tidak muncul-muncul kembali setelah melakukannya. Apa Tsu nii-chan akan ikut melompat masuk ke dalam lautan?”


“Pelayanmu ini tidak akan melakukannya, karena Putri yang aku layani, terlalu pandai untuk melakukan hal bodoh seperti itu.”


Aku menoleh lalu tertawa menatapnya, “kakakku ini pun, terlalu pintar untuk mengorbankan dirinya sendiri, bukan?” tukasku dengan kembali menatap permukaan air laut, “tetaplah hidup, nii-chan. Walau aku merenggang nyawa terlebih dahulu dibandingkan dirimu, tetaplah hidup untukku … Karena jika nanti semua orang melupakan semua kerja keras kami, aku ingin … Tsu nii-chan tetap mengingatnya. Aku ingin, Tsu nii-chan tetap mengingatku. Jadi tetaplah hidup, apa pun yang terjadi tetaplah bertahan hidup. Berjanjilah kepadaku,” ucapku dengan kembali tersenyum menatapnya.