Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXCV


Haruki, Izumi, dan juga Eneas berlari mendekat saat aku meneriakkan apa yang dikatakan Kou sebelumnya. Kou membuka lebar mulutnya, kepalanya menoleh ke sekeliling hingga terbentuk tembok tinggi dari es yang mengelilingi kami. Kedua mataku membesar saat pandanganku terjatuh pada banyak sekali bayangan hitam yang kian mendekat.


Aku tanpa sadar mundur ke belakang beberapa langkah hingga berhenti menyentuh kaki Kou yang ada di belakang tubuhku. Puluhan Manticore berdiri mengelilingi kami, taring dan cakar mereka terlihat jelas pada tembok es transparan yang dibuat Kou. Mereka mencakar-cakar dinding es tersebut hingga garis-garis kecil, bekas dari cakaran mereka memenuhi tembok itu.


Pandangan mataku beralih kepada kuda-kuda kami yang telah terkapar, lama kutatap kuda putih milikku itu yang telah berbaring terlentang dengan dua Manticore di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Kaki kudaku itu terangkat ke udara, mengejang-ngejang tatkala kedua Manticore itu mengarahkan taring dan cakar mereka merobek-robek perut kuda malang itu.


Aku mengenggam kuat kedua tanganku saat kutatap salah satu Manticore sangat lahap memakan usus kuda yang tercecer di tanah, “panggil dia My Lord!” Suara Kou terdengar mengejutkan di pikiran, aku kembali menoleh ke arahnya yang semakin membenamkan kepala Manticore itu ke tanah.


“Panggil dia My Lord!” Suara Kou terdengar sekali lagi, mataku sedikit terpejam saat telingaku sedikit berdenging oleh raungan Manticore yang masih berada di bawah kakinya.


Tubuhku kembali mundur ke belakang, bukan … Bukan karena aku yang melangkah mundur, tapi karena ekor Kou yang mengelilingi tubuhku membuat aku mundur dengan sendirinya. Disaat yang sama, suara benda terjatuh terdengar kuat dari arah belakang, aku berusaha untuk memastikan apa yang terjadi. Namun gagal, oleh tubuh Kou yang menghalangi penglihatanku.


Kepalaku tertunduk hingga menyentuh ekor Kou saat suara raungan yang sangat, sangat keras terdengar, bahkan melebihi raungan sebelum-sebelumnya menyentuh telingaku. Ekor Kou yang melilit tubuhku membuat aku sedikit terangkat ke udara, Kou kembali menurunkan aku saat Haruki mengangkat kedua tangannya ke atas berusaha untuk meraihku.


Haruki menurunkan aku dari gendongannya, dia menarik tanganku semakin menjauhi Kou. Mataku membelalak lebar, saat kutatap seekor Manticore besar yang berdiri di depan Kou. Tubuh Manticore itu, lebih besar dua kali lipat dibanding Manticore yang masih di bawah cengkeraman Kou.


Kou mengangkat sedikit kakinya yang ada di kepala Manticore yang ia cengkeram sebelumnya, dipijaknya lagi kepala Manticore tersebut oleh Kou dengan sangat keras hingga kepala makhluk itu terbenam ke tanah hampir setengahnya.


Kou mengangkat kembali kakinya, dia mulai bergerak perlahan ke arah Manticore raksasa itu. Manticore itu bergerak menyamping dengan kepalanya yang sedikit mendongak ke atas, menatap wajah Kou yang hanya sedikit lebih tinggi dari tubuhnya. Kutatap kedua ekor mereka yang tak henti-hentinya meliuk-liuk di udara.


Aku sedikit mengerutkan kening saat suara auman dari para Manticore memenuhi udara. Kepalaku bergerak menatapi sekitar, menatap para Manticore itu yang kembali mencakar-cakar dinding es, bahkan beberapa dari mereka ada yang memukul-mukul dinding es tersebut dengan kepala dan juga ekor yang mereka miliki. Keadaan di sekitar tiba-tiba menghening saat Manticore raksasa itu mengaum dengan sangat keras hingga membuat telingaku berdenging ketika mendengarnya.


Kou membuka lebar kembali mulutnya, serpihan-serpihan es yang keluar dari mulutnya membekukan setengah tubuh Manticore itu. Manticore itu meraung dengan sangat keras hingga terasa memekakkan telinga, kedua mataku melirik ke arah kiri … Menatap Eneas yang telah duduk tertunduk dengan kedua tangan menutup erat kedua telinganya.


Manticore itu menggerakkan ekornya yang seperti kalajengking itu memukul-mukul kuat es yang mengelilingi tubuhnya. Dia kembali mengaum-aum diikuti ekornya yang semakin cepat bergerak memukul es yang Kou buat. Kou mengayunkan ekornya dengan kuat hingga menampar wajah Manticore itu, “Kou!” Teriakku kuat saat Manticore itu menggigit kuat ekornya.


Aku menatap darah yang menetes di ekor Kou saat Manticore itu melepaskan gigitannya, tetesan darah tersebut mengepulkan asap putih kecil saat jatuh ke tanah. Kepala makhluk itu terlihat semakin terbenam ke tanah saat kaki Kou berulang kali menginjak-injak kepalanya, “panggil dia My Lord,” suara Kou kembali terngiang di kepala.


Pandangan mataku tiba-tiba menggelap, aku sedikit mengarahkan kepala ke atas, menatap Haruki yang telah berdiri di hadapanku dengan sebelah tangannya memegang kepalaku. Aku melirik ke kiri saat suara Izumi dan juga Eneas ikut terdengar, mereka berdua mengangkat kedua tangan mengusap-usap pakaian yang mereka kenakan.


“Sialan!” Gumam Izumi dengan menginjak bongkahan-bongkahan es kecil yang menghampar di dekat kaki mereka, “panggil dia My Lord!” Suara Kou yang kembali terdengar membuatku sedikit menyampingkan kepala, berusaha melihat Kou dan juga Manticore tersebut.


“Kou!” Aku berteriak lantang memanggil namanya, Kou menghentikan kakinya yang menginjak kepala makhluk tersebut, “jika kau tidak ingin memanggilku dengan sebutan My Lord … Maka aku, tidak akan memaksamu untuk memanggilku seperti…” Perkataanku sedikit terhenti saat Kou kembali membuka mulutnya, membekukan ekor Manticore itu yang sebelumnya sempat terangkat ke atas.


“Manusia menjijikan sepe...” Suara yang terngiang di kepalaku tiba-tiba terhenti saat kaki Kou kembali menginjak kepala makhluk tersebut, “kalian makhluk rendahan! Beri hormat padanya,” suara laki-laki yang melintas di kepalaku sebelumnya tergantikan pada suara Kou yang juga terngiang pelan.


“Untuk apa berlutut pada makhluk tamak dan lemah seperti mereka? Mereka tidak lain hanya makanan untuk kami,” suara laki-laki yang mengetuk pelan telingaku sebelumnya kian nampak terdengar.


“Manusia tamak?” Gumamku pelan dengan tetap menatap mereka, Manticore itu mengangkat pelan kepalanya menatapku, “jika manusia seperti kalian tidak menyerang tempat tinggal kami dengan makhluk seperti ini. Kami tidak akan terusir dari rumah kami!"


“Aku tidak tahu apa-apa tentang orang yang menyerang kalian. Kami justru datang ke sini, karena akhir-akhir ini … Beberapa Kesatria kami ada yang menghilang ketika mereka ditugaskan untuk membuang mayat di sini.”


“Kami butuh makanan, daging manusia terlalu lezat untuk dapat kami tolak,” ucapannya kembali terngiang di kepala, “aku akan memberikanmu banyak sekali makanan.”


“My Lord,” kepalaku sedikit terangkat menatapnya saat suara Kou melintas di kepalaku.


“Aku tahu, siapa yang menyerang kalian. Jika kalian,” ucapku terhenti, kepalaku tertunduk meraih tangan Haruki yang memegang lenganku saat kedua kakiku melangkah mendekati Kou dan juga Manticore itu, “kau ingin makhluk itu untuk bergabung bersama kita bukan, nii-chan?” Ungkapku tersenyum menatapnya, kulepaskan genggaman tangannya tadi sebelum kembali berjalan meninggalkannya.