
"Kau sudah bangun?"
"Apa kita sudah sampai, Ayah?" Ungkapku menatapnya, mengangguk ia membalas perkataanku.
"Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?" Ucapnya balik menatapku, kubalas perkataannya dengan anggukan kepala dariku
Pintu kereta terbuka dari luar, tampak terlihat Duke Masashi telah berdiri menyamping dengan sebelah tangannya memegang gagang pintu kereta.
Beranjak Raja seraya berjalan ia menuruni kereta, diangkat dan diarahkannya telapak tangan kanannya ke arahku. Berjalan aku seraya kuraih telapak tangannya tadi dengan telapak tangan kiriku, kulangkahkan kakiku dengan pelan menuruni kereta...
Kutatap Haruki dan Izumi yang berdiri di hadapan kami, berjongkok Izumi seraya ditutupnya kepalanya menggunakan kedua lengannya. Berjalan Haruki mendekatiku, dipeluknya tubuhku dengan sangat kuat. Aku sendiri dapat merasakan tubuhnya yang gemetaran ketika memelukku...
"Syukurlah, kau baik-baik saja Sa-chan." Tukas Haruki, diangkatnya wajahku menggunakan kedua telapak tangannya, terlihat garis hitam yang tebal terkatung di kedua matanya
"Aku telah mengajarimu berbagai macam tendangan dan juga pukulan, kenapa juga... Kenapa juga." Teriak Izumi dengan suara bergetar, digenggamnya kuat kedua lengannya yang menutupi kepalanya
Kutatap Haruki, dilepaskannya pelukannya dariku. Berjalan aku mendekati Izumi yang tengah duduk berjongkok dengan kepala tertunduk, duduk aku berjongkok dihadapannya seraya kusentuh dengan lembut rambutnya...
"Nii-chan, aku lapar... Aku ingin memakan sup ayam buatanmu."
"Jangan bercanda, itu sup garam. Kalian sendiri yang mengatakannya."
"Lihat aku, nii-chan." Ucapku, diangkatnya pelan kepalanya
"Apa kau menangis? Matamu sembab sekali." Ucapku lagi, kuarahkan kedua jempol tanganku mengusap kedua kelopak matanya
"Lain kali, aku tidak akan membiarkanmu bepergian sendirian." Ucapnya, ditatapnya aku dengan kedua matanya yang memerah
"Aku mengerti, karena itu nii-chan... Bisakah kau berdiri, kakiku kesemutan." Ungkapku menatapnya
Berbalik ia berjongkok membelakangiku, ku lingkarkan kedua lenganku di lehernya. Beranjak ia berdiri seraya menggendongku...
"Aku belum mandi selama beberapa minggu, apa itu tidak apa-apa untukmu, nii-chan?" bisikku pelan ke telinganya
"Bukankah pertanyaan itu harusnya kau tanyakan langsung kepada Ayah?" ucapnya yang juga berbisik
"Aku tidak memikirkannya sebelumnya." Ucapku, kusembunyikan wajahku di balik bahu Izumi
"Semua persiapan untuk upacara telah selesai kami persiapkan, Ayah," ucap Haruki
"Dan akupun telah membuatkan lampion khusus untukmu, Sa-chan." sambungnya, menatap ia ke arahku
"Terima kasih, nii-chan." Balasku menatapnya
_________________
"Putri." Terdengar suara Tsubaru dari arah luar dengan suara ketukan pintu yang mengiringi
"Masuklah."
Pintu kamarku terbuka, masuk Tsubaru ke dalam dengan Lux yang duduk di pundaknya. Terbang Lux ke arahku...
"Kau bodoh sekali, jangan membuatku khawatir seperti itu lagi." Ucapnya, ditutupnya wajahnya menggunakan telapak tangannya
"Bagaimana keadaanmu dan juga Kou, Lux?"
"Aku baik-baik saja, hanya saja kami sedikit kesulitan menenangkan Kou. Kau harus datang untuk menenangkannya nanti." ucapnya, diturunkannya kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya
"Aku mengerti." Ungkapku tersenyum menatapnya
"Apa kau bisa merapikan rambutku, Tsu nii-chan?" ucapku, berbalik aku duduk menghadap cermin
"Tentu." ucapnya diiringi suara langkah kaki mendekati
"Kalian akan melakukan upacara arwah lagi di tahun ini?" ungkap Lux, terbang dan duduk ia di atas meja rias seraya menatapku, kubalas perkataannya tadi dengan anggukan kepala dariku
"Hari ini, sehari dalam setahun kami bisa mengunjungi ibu-ibu kami, bagaimana mungkin kami akan melewatkannya." tukasku menatap kosong kedepan, kimono berwarna hitam yang aku kenakan tampak selaras dengan hiasan kepala berwarna senada yang dikenakan Tsubaru padaku...
"Apa kau telah siap, Sa-chan?" terdengar suara Haruki dari luar
"Sebentar lagi, nii-chan."
Beranjak aku berdiri, berjalan aku mendekati pintu. Kubuka pintu tersebut, menoleh aku sebentar ke arah Tsubaru dan Lux yang menatapku, tersenyum aku ke arah mereka...
Berbalik aku seraya kulangkahkan kakiku keluar dari kamar, tampak terlihat Haruki telah berdiri dengan kimono berwarna hitam yang melekat ditubuhnya. Diangkat dan diarahkannya telapak tangannya ke arahku, kusambut dan kugenggam telapak tangannya tadi...
Berjalan kami berdua beriringan menyusuri istana. Terlihat di hadapan kami, Izumi dan Ayah telah berdiri menunggu dengan kimono yang juga berwarna hitam di masing-masing tubuh mereka...
Berjalan kami bertiga mengikuti langkah Ayah, sepanjang jalan setapak yang kami lalui diletakkan lilin-lilin kecil yang menyala terang. Berhenti Ayah di depan deretan makam-makam yang tersusun rapi...
Maju Haruki mendekati Ayah, diletakkannya sebuah keranjang berisi penuh Mochi disamping Ayah. Diambil dan diletakkannya beberapa mochi tadi ke atas sebuah daun, berjalan kembali Haruki seraya diletakkannya mochi tersebut di hadapan salah satu makam. Dilakukannya hal itu berulang ke tiga makam lainnya...
Beranjak dan berjalan Izumi mendekati salah satu makam dengan sebuah ember kayu berisi air ditangannya, dipercik-percik nya air di dalam ember kayu tadi ke atas makam satu persatu...
Berjalan kembali mereka berdua mendekati, duduk mereka berdua di sebelah kanan dan kiriku. Diangkat dan dirapatkan nya kedua telapak tangan Ayah ke dada, seraya tertunduk ia memejamkan mata...
Kami bertiga melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan. Angin malam menembus kimono yang aku kenakan, wangi dupa yang dibakar terasa menusuk ke hidungku...
Kenapa tidak ada makam ibuku disini, Ayah?
Aku ingin sekali menanyakan hal tersebut padanya, akan tetapi sebagian diriku seakan melarangku untuk menanyakannya.
Berbalik dan beranjak Ayah berdiri, berjalan kembali ia mendekati kami. Beranjak kami bertiga berdiri, menunduk Haruki seraya meraih sebuah lampion yang ia letakkan di keranjang yang sama dengan mochi-mochi tadi...
Berbalik dan berjalan Izumi, diambilnya salah satu lilin yang diletakkan di atas tanah. Berjalan ia kembali mendekati kami dengan sebuah lilin kecil berada ditangannya...
Diberikannya lampion tadi oleh Haruki kepadaku, kuarahkan bagian bawah lampion tadi ke atas lilin yang dipegang Izumi. Api yang membakar bagian bawah lampion berhasil membuat lampion tadi mengembang sempurna...
Kulepaskan genggaman tanganku pada lampion tadi, terbang perlahan lampion tadi menjauh dan semakin menjauh ke atas langit malam...
Bulan purnama yang bercahaya terang di langit malam seakan memeluk lampion kecil yang terbang menyendiri. Kuangkat dan kurapatkan kedua telapak tanganku ke dada, kutatap kembali lampion tadi... Kupejamkan mataku perlahan...
Ibu, tolong awasi dan lindungi Ayah dari atas sana.