
"Apa kita akan melewati jalan yang biasa?" ucap Izumi menoleh ke arah kami.
"Jika kita melewati jalan yang biasa kita lalui, mereka akan dengan mudah menemukan kita," ungkap Haruki.
"Lalu bagaimana kita dapat masuk ke Kerajaan, para Kesatria yang menjaga perbatasan akan langsung mengenali kita," sambung Izumi.
"Bagaimana dengan udara?" ungkapku seraya mengangkat jari telunjuk ke atas.
"Udara?" tanya mereka bergantian.
"Tentu saja Kou," ucapku lagi pada mereka.
"Jika kita sampai disana pada malam hari, mungkin itu akan berhasil," ucap Haruki lagi.
"Berarti telah diputuskan, kita akan kesana menaiki Kou dengan meninggalkan barang-barang kita disini untuk sementara," ucapku lagi pada mereka.
"Baiklah, aku akan membuat jebakan di sekitar untuk menghindari hilangnya barang-barang kita," ucap Izumi berbalik dan berjalan menjauh.
"Aku akan membantu Izumi," sambung Haruki ikut berbalik dan berjalan menjauh.
"Kemarilah Eneas, aku akan menunjukkan sesuatu yang menakjubkan padamu," ucapku tersenyum menatapnya, kuarahkan telapak tanganku padanya.
"Menakjubkan?" tanyanya, diraihnya telapak tanganku seraya digenggamnya dengan sangat kuat.
"Perhatikan langit, dan usahakan jangan berkedip," ucapku menoleh ke arahnya, kutatap ia yang mengangguk beberapa kali menanggapi perkataanku.
"Kou, datanglah. Aku membutuhkanmu," ucapku, ikut kurasakan udara di sekitar yang tiba-tiba membeku.
Menatap aku ke langit, sebuah lingkaran es yang transparan tiba-tiba muncul darinya. Suatu benda dipenuhi taring keluar dari lingkaran tersebut, ikut kurasakan genggaman di tanganku yang semakin menguat...
Sayap Kou yang berwarna putih tampak menyilaukan mata ketika bersentuhan dengan sinar matahari, kutatap ia yang terbang memutar beberapa kali di atas kami lalu turun ia perlahan di hadapanku...
"My Lord," ucapnya mendekati, dilepaskannya genggamanku oleh Eneas seraya bersembunyi ia di belakangku.
"Dia Naga yang aku besarkan, dia tidak akan melukaimu," ucapku berusaha melirik pada Eneas yang bersembunyi.
"Apa kau membutuhkan bantuanku, My Lord?"
"Bisakah kau membawa kami berempat pulang ke Kerajaan, aku mengkhawatirkan Lux disana."
"Permintaanmu merupakan perintah mutlak untukku," ucapnya menatapku.
"Kemarilah Eneas, kita akan menaikinya. Apa kau pernah merasakan terbang sebelumnya?" ucapku seraya menarik lengan Eneas.
"Apa kau sudah pernah merasakannya?"
"Belum, ini juga yang pertama kalinya untukku," ucapku kembali berusaha menariknya mendekati Kou.
"Kau sudah memanggil Kou?" terdengar suara Izumi, menoleh aku ke arahnya yang berjalan mendekat dengan Haruki di sampingnya.
"Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?" ucap Haruki menatapnya, Kou memiringkan kepalanya seraya dieluskannya di wajah Haruki. Diusapnya beberapa kali oleh Haruki kepalanya Kou.
Kou menekuk kakinya, naik kami satu persatu ke atas punggungnya. Kugigit kuat bibirku seraya menahan dingin tubuhnya yang menyentuh kulitku...
"Ini seperti, tubuh bagian bawahku membeku seketika," ucap Izumi pelan dari arah belakangku.
Kou mengepakkan sayapnya, pohon-pohon disekitar tampak bergoyang karenanya. Kou menukik ke atas, kupegang lengan Eneas yang duduk di depanku seraya kulingkarkan lengannya tadi memeluk erat lehernya Kou...
"Kou, jangan terbang terlalu tinggi. Kau dapat membunuh kami semua, tekanan udara yang tinggi secara tidak langsung akan membunuh kami," ucapku padanya.
Kou terbang lebih rendah dari sebelumnya, kulirik sebelah kanan dan kiriku yang semakin nampak jelas terlihat dari atas...
Terlihat dari jauh Istana yang kami tinggali, berhenti Kou tepat di atas hutan yang ada di samping Istana. Sayap-sayapnya mengepak pelan di atas hutan seraya menunggu langit menggelap...
Perlahan Kou menurunkan tubuhnya, kuarahkan pandanganku ke atas... Sinar bulan bersinar sangat cerah malam ini.
Izumi membantuku dan Eneas turun, Kou kembali terbang tinggi dan menghilang bersatu dalam gelapnya malam. Izumi menuntun kami bertiga berjalan di kegelapan, kuhentikan langkahku di pohon yang dulu menjadi tempat tinggalnya Kou...
"Lux, Lux..." ucapku pelan beberapa kali, kurasakan sesuatu menabrak wajahku.
"Apa itu kau Sachi? dan mata itu, itu pasti kau bukan Izumi?" terdengar suara Lux yang bergetar.
"Aku mengikuti perintahmu untuk menunggumu disini, kau lama sekali datangnya," kembali terdengar suaranya.
"Apa kalian semua baik-baik saja?"
"Kami baik-baik saja," jawab Izumi membalas perkataan Lux.
"Sachi menyembunyikan barangnya bukan? dimana ia meletakkannya, aku akan mengambilkannya," ucap Izumi kembali.
"Ikuti aku!".
"Kalian bertiga hanya tunggu saja disini," kembali terdengar suara Izumi diikuti suara langkah kaki yang menjauh.
"Kita berada di rumah, tapi kita tidak bisa kembali," ucap Haruki yang terdengar di sampingku.
"Kita masih belum terlambat jika ingin pulang," ucapku membalas perkataannya.
"Kaisar tidak akan menghentikan perbuatannya sebelum kita terbunuh, ini yang terbaik untuk kita semua..."
"Selama kita hidup, Ayah akan baik-baik saja," sambung Haruki kembali.
"Tapi bagi Ayah dan semuanya, kita bertiga telah mati."
"Kau benar," tukas Haruki kembali membalas perkataanku.
"Seberapa banyak perhiasan yang kau sembunyikan?" terdengar suara Izumi yang menggerutu dari belakangku
"Apa kau telah selesai Izumi?" ucap Haruki kembali.
"Sudah, aku telah membawa semuanya."
"Apa aku harus memanggil Kou kembali?" ucapku.
"Tidak perlu, karena kita akan pergi melewati jalan rahasia yang hanya diketahui oleh aku dan juga Izumi."
"Tapi sebelum itu, kenapa kita tidak berkeliling untuk terakhir kalinya di Kerajaan kita yang tercinta ini," sambung Haruki.
"Kalian mengatakan Kerajaan kalian terus-menerus," ikut terdengar suara Eneas menimpali perkataan Haruki.
"Karena kami bertiga, ialah Pangeran dan juga Putri di Kerajaan ini," ucap Haruki lagi dengan suara yang terdengar bergetar.