Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCLXXIV


Laki-laki bertubuh besar itu maju melangkahkan kakinya mendekati Haruki. Kapak besar yang berada kuat di genggaman tangannya berayun kuat ke arah Haruki, Haruki berjalan mundur saat lawannya itu semakin maju dengan memukul kuat kapak miliknya ke tanah beberapa kali.


Laki-laki itu kembali mengayunkan kapak miliknya ke depan, Haruki bergerak menyamping menghindari kapak besar tadi. Darah kembali memercik udara saat kapak milik laki-laki itu memotong mayat laki-laki yang terbaring di bawah kakinya.


Haruki dengan cepat mengayunkan tombak miliknya ke lengan laki-laki tersebut. Darah mengucur keluar dari lengan laki-laki itu diiringi kulit berserta daging di lengan laki-laki tadi yang mencuat ke atas layaknya sebuah potongan roti yang hampir terputus dibelah dua.


Laki-laki itu menatapi Haruki yang masih diam berdiri tanpa suara menatapinya. Kapak yang sempat terlepas dari tangan laki-laki tadi kembali diraih dan diangkatnya dengan sebelah tangannya yang lain.


Ayunan-ayunan kapak tanpa arah yang dilancarkan laki-laki itu mengarah dengan liar mendekati Haruki. Haruki bergerak dengan santai ke belakang, menghindar ke kanan lalu ke kiri begitupun sebaliknya saat lawannya semakin bernafsu melayangkan kapak yang ia pegang.


Haruki menggenggam kuat tombak miliknya, kedua tangannya yang menggenggam tombak tadi berayun kuat saat kecepatan laki-laki tersebut berkurang. Laki-laki itu diam sejenak, menatapi lengannya yang memegang kapak tadi tiba-tiba putus di hadapannya.


Darah mengucur deras keluar diikuti jatuhnya kapak berserta lengannya ke tanah. Genggaman tanganku menggenggam kuat pakaian yang Cia kenakan saat aku sebelumnya menepuk-nepuk punggungnya.


Tombak milik Haruki menebas cepat bagian depan leher lawannya itu. Layaknya hewan yang sedang disembelih, laki-laki tersebut jatuh berlutut dengan kepala mendongak ke atas. Darah segar mengucur deras keluar dari luka di leher laki-laki itu...


Haruki maju beberapa langkah mendekati laki-laki tersebut, digerakkannya kaki kanannya menerjang kuat kepala laki-laki tadi hingga hampir sedikit saja... Sedikit saja putus dari lehernya, tubuh laki-laki itu jatuh tersungkur ke belakang diikuti tendangan yang Haruki lakukan.


Keadaan menghening, tak ada sorak-sorai, tak ada bisik-bisik, benar-benar hening tanpa suara. Suara tepukan tiba-tiba terdengar dari arah sampingku, kepalaku menoleh menatapi Izumi yang tak henti-hentinya menepuk kedua tangannya.


Aku kembali menoleh ke arah Eneas yang juga melakukan hal yang sama. Kugerakkan kedua tanganku bergerak menepuk satu sama lain, suara tepukan yang ada... Semakin ramai terdengar, dan semakin riuh diikuti beberapa siulan yang juga ikut terdengar.


Laki-laki paruh baya yang sebelumnya berdiri di bangku penonton telah berjalan mendekati Haruki dengan dua orang laki-laki bertubuh besar di belakangnya. Lambat laun, keadaan kembali menghening saat laki-laki paruh baya itu semakin mendekati Haruki.


Laki-laki paruh baya itu menoleh ke arah kedua laki-laki yang berdiri di belakangnya. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, hanya saja kedua laki-laki itu melambaikan tangan mereka ke bangku penonton beberapa kali.


Pandangan mataku bergerak menatapi sekitar, tampak enam orang laki-laki yang juga bertubuh besar beranjak dari bangku penonton lalu berjalan melompat ke arah lapangan pertarungan.


Keenam laki-laki itu, terus menggendong satu-persatu mayat, lalu dilemparkannya kembali ke lubang sebelumnya, dan seterusnya, dan seterusnya hingga menyisakan tanah kosong dengan basahnya darah yang telah kecokelatan di atasnya.


Keenam laki-laki tadi kembali membungkuk kepada laki-laki paruh baya itu sebelum mereka kembali berbalik menjauhi tempat itu. Haruki masih berdiri menatapi laki-laki paruh baya itu dengan kedua tangannya menyilang di dada...


"Jangan senang dahulu, tantangan yang sebenarnya baru akan dimulai," ucap laki-laki paruh baya itu sembari mengarahkan corong kayu miliknya mendekati wajah.


"Melawan Pemimpin tempat ini bukan?" Ucap Haruki menjawab perkataannya dengan kepalanya bersandar di tombak sembari menatapi laki-laki paruh baya itu.


"Kau benar, sebelum pertarungan sebenarnya terjadi. Kau dibebaskan untuk langsung menyerah dengan menjadi budak, atau tetap mengikuti pertarungan hidup dan mati," ucap laki-laki paruh baya itu menimpali perkataan Haruki.


"Aku memilih pertarungan hidup dan mati. Jadi pertemukan aku dengan pemimpin tempat ini," ungkap Haruki mengangkat tombak miliknya itu ke pundak.


"Benarkah, baiklah. Jika itu keputusanmu," ucap laki-laki paruh baya itu berbalik menghadap dua laki-laki besar yang ada di belakangnya.


Laki-laki paruh baya itu tiba-tiba membuka pakaian yang ia kenakan, ia juga melepaskan celana miliknya hingga menyisakan secarik kain yang menutupi bagian bawahnya.


Kedua laki-laki besar tadi berbalik dengan beberapa helai pakaian yang dipakai laki-laki paruh baya itu sebelumnya. Laki-laki paruh baya itu berjalan lalu meraih dan menarik salah satu tombak yang tertancap di tanah.


Dengan sebilah tombak di pundak sama seperti Haruki, laki-laki paruh baya itu berjalan mendekati Haruki dengan sebuah tombak yang ia genggam mengarah kepada Haruki.


"Hanbal, pemimpin tempat ini."


"Jika kau ingin menang? Kalahkan aku dulu," sambung laki-laki paruh baya itu kembali terdengar.