
“Aku, memanggil kalian semua ke sini hanya untuk menanyakan beberapa hal,” tukas Haruki dengan melirik ke arah mereka.
“Kami, kemungkinan akan mengunjungi Ardenis setelah ini … Yang ingin aku tanyakan, apa di antara kalian, ada yang pernah mengunjungi Kerajaan itu?” tanya Haruki, dia sedikit menggerakkan kepalanya menatap mereka bergantian.
“Ardenis?” tanya mereka satu per satu sambil menatap satu sama lainnya.
“Sano!” tukas Daisuke yang membuatku mengalihkan pandangan ke arah Sano.
Sano yang berdiri di belakang Daisuke menghela kuat napasnya sebelum dia melangkah sedikit maju mendekati Daisuke, “Ardenis, Kerajaan yang dipenuhi hutan kabut. Jika Kapten menunjukku untuk menceritakan pengalamanku di sana. Aku sama sekali tidak pernah menginjakkan kakiku di sana,” ucap Sano yang berbalik menatap Daisuke dengan sebelah tangannya memukul-mukul dadanya sendiri.
Daisuke menoleh ke arahnya diikuti tangannya yang terangkat mencekik leher Sano, “lalu bagaimana kau menjelaskan laporanmu mengenai Kerajaan Ardenis beberapa tahun yang lalu,” tukas Daisuke yang membuat kedua tangan Sano mencengkeram lengan Daisuke yang mencekiknya.
“Daisuke,” ucap Ayah yang membuat Daisuke langsung melepas cekikannya pada Sano.
Dia menghela napas lalu tertunduk dengan memijat-mijat kepalanya sendiri, “maafkan, tindakan bodoh yang saya lakukan, Yang Mulia,” ungkap Daisuke sambil membungkukkan tubuhnya ke arah kami.
“Sano,” tukas Ayah kembali sambil membuang pandangannya ke Sano.
“Yang Mulia, seharusnya Yang Mulia tidak men-”
Aku mengusap bibirku sendiri ketika perkataan Sano terhenti oleh pukulan Daisuke di kepalanya hingga tubuhnya sedikit tersungkur ke depan, “jaga bicaramu! Atau aku benar-benar akan membunuhmu,” sambung Daisuke, dia melirik tajam ke arah Sano yang sedikit mendongakkan kepalanya membalas tatapan Daisuke.
“Sano, apa hukuman yang dulu aku berikan tidak berarti apa-apa untukmu?”
Ruangan menghening ketika suara Ayah yang mengatakannya terdengar di telinga. Baik Daisuke dan para wakil kapten yang lain langsung menundukkan pandangan mereka … Sedangkan Sano, dia duduk dengan kepalanya yang ikut tertunduk. Lama dia terdiam tanpa mengangkat sedikit pun wajahnya sebelum akhirnya helaan napas panjang keluar darinya.
Sano mengangkat kembali wajahnya, dia terlihat lebih tenang dibanding sebelumnya. Ayah yang semula duduk dengan sedikit maju ke depan, kembali memundurkan tubuhnya bersandar di kursi yang ia duduki. “Yang Mulia, Ardenis … Kerajaan yang seharusnya tidak boleh didatangi oleh para Pangeran dan juga Putri,” tukas Sano, dia masih duduk dengan sangat tenang menatap Ayahku.
“Apa yang kau maksudkan, Sano?” Aku menoleh ke arah Haruki yang tiba-tiba memotong perkataannya.
“Sebelumnya, ampuni kesalahan yang saya lakukan, Yang Mulia,” tukas Sano, dia berbalik menatap Ayah lalu membungkukkan tubuhnya.
“Lanjutkan,” ucap Ayah yang dibalas dengan anggukan pelan dari Sano.
“Sebenarnya, kabar yang saya berikan mengenai Kerajaan itu … Hanyalah kabar yang saya dapatkan dari beberapa penduduk yang tinggal di perbatasaan. Sudah beberapa tahun terakhir, Kerajaan Ardenis tidak bisa dimasuki oleh siapa pun yang berasal dari luar.”
“Rumor yang tersebar, jika kau memasuki hutan kabut yang ada di sekitar Kerajaan … Kau tidak akan bisa kembali keluar dari sana.”
“Lalu, kau memilih untuk tidak mendatanginya?”
“Apa yang kau maksudkan, Sano?”
“Jadi seperti ini, Yang Mulia … Rumor yang tersebar, jika kau tidak memiliki darah dari sana, seseorang pun tidak akan bisa memasukinya,” ucap Sano menjawab perkataan yang Ayah katakan.
“Jadi yang kau maksudkan, jika kami bukan berasal dari Ardenis maka mustahil untuk memasuki kawasan Kerajaan itu?” Sano menganggukkan kepalanya saat aku coba balas bertanya kepadanya.
“Lalu, apa maksud dari surat itu?” Aku tertunduk dengan menggigit ibu jariku, berusaha untuk memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
“Kalian telah mendengar apa yang Sano katakan, bukan? Tempat itu berbahaya, jadi Ayah … Melarang kalian untuk mendatangi Kerajaan itu.”
“Ayah.” tukas kami bersamaan saat Ayah mengatakannya.
“Lagi pun, apa yang ingin kalian lakukan di sana? Kalian ingin ke sana dengan mengorbankan nyawa kalian sendiri hanya untuk mendatangi tempat yang tidak jelas seperti itu? Ayah tidak mengizinkan kalian … Jangan coba-coba untuk melarikan diri, karena kesabaran Ayah sudah habis menanggapi semua kenakalan kalian yang suka sekali melarikan diri,” tukas Ayah sambil menatapi kami bergantian.
“Bagaimana jika aku mengajak Tsubaru untuk ikut mengawal?” tanyaku sambil menunjuk ke arah Tsubaru yang berdiri dengan mengalihkan pandangannya kepadaku.
Aku melirik ke arah Izumi yang juga telah melirikku dari kursinya, kugerakkan kedua alisku hingga bibirnya terbuka, “jika Sachi mengajak Tsubaru, aku akan mengajak Tsutomu, Ayah,” tukas Izumi sambil tersenyum menatap Ayah.
“Jangan coba-coba untuk membujuk Ayah. Ayah telah mendengar dengan jelas apa yang kalian lakukan di Kerajaan Il,” timpal Ayah sembari membuang pandangan matanya ke arahku.
“Tatsuya, kau juga akan ikut menemaniku, bukan?” tukas Haruki yang juga ikut berbicara memotong perkataan yang Ayah katakan.
“Ayah, mendengar apa yang Sano katakan … Aku, benar-benar tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak datang ke sana,” tukas Izumi, dia beranjak lalu duduk berlutut di dekat kaki Ayah kami.
“Ayolah, Ayah … Ayah pasti paham benar, bagaimana tersiksanya aku jika sangat penasaran akan sesuatu,” sambung Izumi sambil menangkupkan kedua telapak tangannya ke depan.
“Ayah, aku pun sama penasarannya,” ucapku yang juga beranjak lalu berjalan mendekati mereka, “aku tidak akan kabur secara diam-diam jika Ayah dapat memberikan izin,” tukasku lagi yang ikut berlutut di hadapannya.
“Lagi pun, apakah Ayah tidak mempercayai Tsubaru, Tatsuya dan juga Tsutomu untuk menjaga kami?” timpalku sambil berbalik lalu menunjuk ke arah mereka bergantian.
“Ayah, kami semua pasti akan mati … Ketika berperang pun, tidak ada jaminan jika di antara kami bertiga akan ada yang hidup. Kami akui, dan aku akui … Jika kami bisa bertahan hidup sekarang, tidak lain tidak hanya karena keberuntungan yang terus-menerus menyelamatkan kami.”
“Bahkan, berdiam diri di Kerajaan pun, tidak menjamin jika kami akan selamat, bukan?” sambung Haruki, aku berbalik menatapnya yang berbicara dengan pandangan kosong yang tersirat.
“Aku akan tetap pergi, Ayah. Tanpa izinmu atau tidak, aku akan tetap pergi … Aku, sudah muak dengan semua rencana busuk Kaisar. Kedua tanganku, sudah tidak sabar untuk menghancurkan mereka,” ucap Haruki sembari beranjak berdiri dari kursinya, “apa Ayah lupa? Mereka membunuh Anakku yang tidak melakukan kesalahan apa pun pada mereka. Aku, tidak sebaik itu untuk melupakan semua yang mereka perbuat,” ucap Haruki, dia berbalik lalu melangkahkan kakinya melewati para wakil kapten yang berbaris.
“Tatsuya, urus semua keperluan untuk kita melakukan perjalanan. Aku ingin kau, melakukannya secepat mungkin,” sambung Haruki yang tetap terus melanjutkan langkahnya menjauh.