Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDVIII


"Apa yang kau maksudkan?" Cengkeraman tangan Zeki semakin menguat.


"Zeki!" Aku membentaknya, dia menoleh ke arahku.


"Aku tidak menyukainya, saat kau tidak bisa mengendalikan diri ... Aku tidak menyukainya, jadi kumohon," ucapku dengan menggenggam lengannya.


Zeki membuang tatapannya dariku, dia berdecak lidah saat dia melepaskan cengkeraman tangannya di pakaian Haruki. Aku tertunduk dengan menghela napas, semakin kuat aku menggenggam lengannya.


"Aku sengaja melakukannya untuk menyelamatkan Sachi," ucap Haruki, dia meletakkan telapak tangannya di belakang leher diikuti lehernya yang bergerak ke kanan dan juga kiri bergantian.


"Si ceroboh ini," ucap Haruki menjewer telingaku, "nii-chan, apa yang kau lakukan?" Ungkapku, kualihkan kedua tanganku menggenggam tangannya yang menjewer kuat telingaku itu.


"Aku hanya menyadarkanmu, dari perbuatan ceroboh yang kau lakukan," ungkapnya, Haruki melepaskan jeweran yang ia lakukan di telingaku, dia menundukkan kepalanya dengan helaan napas yang pelan terdengar, "aku memintamu untuk berhati-hati bukan?"


"Saat itu, aku ingin pergi menemui Izumi bersama Eneas. Lalu kami tidak sengaja melihatmu sedang ditarik oleh dua Kesatria, aku ingin menyelamatkanmu.Tapi aku juga mengkhawatirkan keselamatanmu jika aku melakukannya."


"Karena itu, aku memanahmu berserta dua orang Kesatria itu. Karena, jika aku hanya melakukannya pada dua orang Kesatria itu saja, kau yang dengan cerobohnya menunjukkan kemampuan bela diri di hadapan mereka akan langsung dicurigai," ucap Haruki lagi dengan mengetuk-ngetuk kepalaku.


"Jadi, aku dipanah agar mereka tidak mencurigai aku?" Haruki menganggukkan kepalanya, "aku mengerti," ucapku dengan mengangkat kepala ke atas.


"Dan kau menerimanya begitu saja?" Timpal Zeki.


"Itu memanglah kesalahanku, rencana ini tidak boleh gagal apa pun yang terjadi. Lagi pun, itu hanya panah," ucapku kembali menundukkan kepala.


Aku beranjak berdiri, melangkahkan kaki kembali mendekati ranjang. Aku duduk di samping ranjang dengan meraih lembaran kertas yang ada di sampingku, kepalaku tertunduk ... Menatap tulisan yang ada di sana.


"Aku harus kembali ke kota bersama Eneas. Kami tidak bisa berlama-lama di sini, atau Raja In-Su akan menaruh curiga," ucapnya beranjak diikuti Eneas yang juga telah berdiri menunggunya.


"Berhati-hatilah," tukasnya lagi yang aku balas dengan anggukan kepala.


Haruki berbalik, dia melangkahkan kakinya mendekati pintu lalu membukanya, "aku akan berjaga-jaga di luar," ucap Izumi ikut beranjak berdiri.


Aku menundukkan kepala dengan sebelah tangan menutupi mata, "aku lelah Zeki. Bisakah, kau juga ikut keluar?" Ungkapku tanpa bergeming sedikit pun.


"Aku akan tetap di sini," aku mengangkat kepalaku saat dia mengatakannya, "padahal aku tahu, dia melakukannya untuk menolongku. Tapi tetap saja, aku kecewa. Aku, benar-benar tidak tahu berterima kasih bukan?"


"Itu kenapa aku mengatakan kau bodoh. Kemarilah!" Tukasnya mengangkat lalu merentangkan kedua tangannya ke arahku.


Aku beranjak berdiri dengan meletakkan lembaran kertas tadi di atas kasur. Zeki meraih tanganku saat aku berjalan mendekatinya, dipeluknya aku ketika aku telah duduk berjongkok di hadapannya.


"Zeki," ucapku, semakin dalam aku membenamkan wajah di pundaknya, "aku benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan," sambungku kembali padanya.


"Aku menyukai kebaikanmu, tapi aku juga jujur membenci kebaikan yang kau miliki. Aku membencinya, terlebih saat kau tidak bisa melihat seseorang kesusahan," ucapnya dengan mengusap belakang kepalaku.


"Rasanya, aku ingin mengurungmu saja agar kau tidak perlu bertemu siapa pun. Sachi, mementingkan diri sendiri bukanlah kejahatan," sambungnya lagi yang terdengar.


"Katakan, sudah berapa? Maksudku, kontrak paksa yang kau maksudkan?"


"Dua, satu ketika kita melawan para duyung, dan yang kedua ... Terjadi baru-baru ini."


"Apa tidak ada cara untuk menghindarinya?"


"Mereka menganggap manusia sebagai makhluk yang paling rendah," ucapku melepaskan pelukan di tubuh Zeki, "sangat sulit untuk mengajak mereka bergabung. Kecuali, saat Kou telah tumbuh dewasa."


"Saat Kou dewasa, sihirnya akan sangat stabil, tidak seperti sekarang. Saat itu juga, dia dapat datang kapan pun, tanpa perlu aku panggil. Mungkin, contoh jelasnya adalah naga milik Kaisar," ungkapku dengan menyandarkan diri ke samping ranjang.


"Apa waktunya masih lama?"


"Usia Kou sama seperti pertunangan kita, aku menemukannya saat tak lama aku pulang ke Kerajaan ketika pergi bertunangan denganmu. Kita telah bertunangan selama dua belas tahun, perkembangan Naga berakhir di usianya yang menginjak dua puluh tahun, itu yang tertulis di buku, dan aku tidak tahu itu benar atau tidak," ucapku dengan kembali menundukkan kepala.


Aku melirik ke arahnya yang menunduk, "aku tidak akan mati semudah itu. Wajah muram yang kau berikan membuatku tidak tenang," sambungku dengan menggerakkan ujung kakiku mendorong-dorong pelan pahanya.


"Hanya pastikan, aku ingin Istana yang aku tinggali nanti memiliki taman yang penuh oleh bunga. Aku juga ingin, kau membuat ayunan di taman itu agar aku dapat bersantai dengan membaca buku di sana. Aku juga ingin kamar dengan ranjang yang luas, bak mandi yang besar. Aku ingin apa pun asalkan itu darimu," lanjutku dengan tersenyum menatapnya.


"Aku telah menyiapkan semuanya sebelum kau memintanya," ungkapnya yang ikut bersandar di sampingku.


"Apa kau marah? Karena aku mengatakannya," ucapku dengan meraih sedikit rambutnya lalu aku selipkan di belakang telinganya, "tapi seperti yang kau tahu, aku mengatakannya hanya untuk memberitahumu. Bukan berarti itu akan menjadi kenyataan, jangan terlalu memikirkannya. Aku tidak sebodoh itu, sampai memberikan usiaku untuk sesuatu yang tidak ada gunanya untukku," sambungku dengan kembali menatap lurus ke depan.


Aku menoleh ke arahnya saat aku merasakan ciuman yang menyentuh pipiku, "jangan melakukannya secara tiba-tiba," ucapku kembali menatap lurus ke depan.


"Aku melakukannya karena aku ingin melakukannya."


"Aku tahu," ungkapku berbalik dengan meraih lembaran kertas yang ada di atas kasur. "Apa informasi yang tertulis di sana?" Tanya Zeki, aku memberikan selembar kertas yang telah aku baca padanya.


"Uang yang diselipkan oleh pengkhianat itu, mengalir ke Kerajaan ini. Dari informasi yang aku baca ini," ucapku memberikan selembar kertas lagi padanya, "mereka membuat banyak sekali senjata, Kerajaan Il besar seperti sekarang karena uang yang diberikan pengkhianat itu pada mereka. Aku tidak menyangka, jika Ayah akan kecolongan seperti ini," ungkapku dengan mengangkat kepala ke atas.


"Lalu, apa yang ingin kau lakukan?"


"Darling, apa kau dapat membantuku?" Zeki mengerutkan keningnya menatapku, "aku ingin kau mengajakku keluar. Aku harus segera kembali melihat Raja In-Su, jika tidak perempuan lain akan menggodanya."


"Rasanya, aku ingin sekali menutup mulutmu itu. Kau harus tetap di sini," ucapnya membuang pandangan dariku.


"Apa kalian akan terus berbicara melantur seperti itu?"


"Izu nii-chan? Apakah itu kau?" Aku membuka suara, saat suara Izumi terdengar dari samping ruangan.


"Aku sudah berada di sini sejak awal, aku mendengar dengan jelas apa yang kalian bicarakan. Bersiap-siaplah Sachi, Zeki ... Besok kita akan menyelesaikan ini semua, seperti itu yang Haruki katakan sebelum dia pergi," sambungnya Izumi lagi-lagi terdengar di telinga.