Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDVII


Zeki memintaku untuk tinggal di kamar yang telah disediakan oleh Raja In-Su untuknya, luka yang ada di lenganku sebenarnya telah sembuh oleh Kou, tapi tetap saja … Aku dilarangnya untuk ke luar. Walau aku sendiri mengerti akan alasannya, tapi berlama-lama di sini, membuatku sangatlah tidak nyaman.


“Kau sudah bangun?” Aku memiringkan tubuhku, menatapnya yang tengah membuka pintu kamar, “bagaimana? Apa kau telah mendapatkan kabar dari kakakku?” Aku balik bertanya saat dia telah berjalan mendekat dengan sebuah nampan penuh makanan di tangannya.


“Kedua kakakmu, akan datang sebentar lagi. Aku telah mengabari mereka,” ucapnya yang telah duduk beralaskan lantai di samping ranjang, “bagaimana keadaanmu?” Tanyanya dengan mengangkat telapak tangannya menyentuh keningku.


Zeki meletakkan nampan yang ia pegang ke lantai, “aku baik-baik saja. Aku sudah katakan bukan? Jika aku sudah sembuh dari jauh-jauh hari,” ucapku kembali menggerakkan tubuh berbaring telentang, kutarik selimut yang menutupi pinggangku itu ke atas hingga menutupi pundak, “aku benar-benar ingin segera pergi dari sini, kau pasti sangat repot bukan?” Aku balik bertanya dengan kepalaku menoleh ke arahnya.


Zeki menunduk, dia meraih sebuah mangkuk yang ada di nampan, “kau benar. Raja sialan itu, aku benar-benar ingin membunuhnya,” aku tertawa kecil saat mendengarkan apa yang ia katakan, “apa dia masih bersikeras ingin membawaku pergi dari sini?”


“Dia masih bersikeras. Mana mungkin, aku memberikanmu padanya,” ungkapnya dengan mengaduk-adukkan sendok di mangkuk yang dia pegang.


Aku beranjak duduk lalu menggerakkan tubuh ke samping menatapnya, “aku tahu. Apa kau membawakan sesuatu yang manis untukku?” Tukasku dengan sedikit menggerakkan kepala ke depan, berusaha menatap apa saja yang ada di dalam nampan.


“Aku meminta Kesatriaku untuk membeli makanan di luar Istana. Raja itu, melarang para kokinya untuk memasakkan makanan untukmu, selama kau masih bersamaku,” ucapnnya dengan memberikan sebuah kotak anyaman ke arahku, “apa ini?” Tanyaku ketika membuka ikatan tali yang mengikat kotak tadi.


Aku meraih sebuah kue berbentuk bunga yang ada di dalam kotak tadi, “kacang merah,” ucapku sambil mengunyah kue, sesekali aku melirik ke arah isian kacang merah yang ada di dalam kue itu.


“Apa kau menyukainya?” Aku menganggukkan kepala dengan kembali menggigit kue yang aku pun tidak tahu apa namanya.


Aku mengarahkan kotak anyaman yang aku pegang ke arahnya, “kau harus mencobanya,” ucapku yang dibalas gelengan kepala olehnya.


“Aku tidak suka makanan manis, kau tahu itu bukan,” ucapnya meraih kotak tadi lalu menukarnya dengan mangkuk yang ia pegang, “makanlah. Aku mengkhawatirkan tubuhmu yang terlalu ringan itu,” ucapnya bersandar di pinggir ranjang saat dia telah meletakkan kotak anyaman tadi kembali ke nampan.


“Zeki,” ucapku memanggil namanya, pandanganku masih tertuju ke arah bubur yang ada di dalam mangkuk.


“Ada apa?” Tukasnya dengan mendongakkan sedikit kepalanya ke ranjang, “lupakan,” sambungku mendekati sendok penuh bubur lalu memakannya.


“Jangan membuatku penasaran,” dia berbalik dengan sebelah tangannya memangku wajah.


“Bukan hal yang penting, aku hanya ingin mengetahui pendapatmu selagi kau masih berada tepat di hadapanku,” ungkapku kembali mengaduk bubur yang ada di dalam mangkuk.


“Katakan! Atau aku tidak akan tidur nyenyak malam ini karena memikirkannya.”


“Kedua Kakakku tidak mengetahui hal ini, aku tidak ingin mengkhawatirkan mereka begitu pun denganmu,” aku menghentikan ucapanku sejenak lalu mengambil napas panjang, “tapi aku, akan mengatakan hal ini kepadamu, karena aku telah berjanji untuk tidak menyembunyikan apa pun,” ucapku tersenyum menatapnya.


“Aku ingin kau mulai memperhitungkan untuk mengenal perempuan lain,” ucapku tertunduk saat kedua matanya yang menatapku itu membesar.


“Omong kosong macam apa yang kau katakan itu?!”


“Ini bukanlah omong kosong, ini kebenaran. Memperhatikan Haru nii-chan saat dia kehilangan Luana membuatku menyadari sesuatu. Usiaku, tidak akan panjang Zeki … Karena itu, mulailah melirik perempuan lain.”


“Katakan lebih jelas, aku tidak mendengarnya,” ucapnya, aku mengangkat kepalaku menatapnya saat aku merasakan sesuatu mencengkeram lenganku.


“Kontrak paksa yang dilakukan Kou, mengambil umurku. Kemungkinan, aku akan melakukan hal tersebut lebih sering kedepannya. Karena itu, aku memintamu bersiap-siap untuk semua kemungkinan terburuk yang akan terjadi.”


“Apa kau pikir aku bisa melakukannya? Selama perjalanan, aku tidak pernah sekali pun, bertemu dengan perempuan yang merasakan kebahagian hidup di dunia ini. Aku tidak sejahat itu, untuk menutup mata dari penderitaan mereka,” aku menggigit bibirku saat suaraku yang keluar sedikit bergetar.


“Gunakan kepalamu itu! Para Perempuan yang kau maksudkan itu, apa mereka pernah mengucapkan terima kasih padamu? Kau terluka, mereka tidak akan perduli!”


“Apa yang kalian berdua ributkan? Kami bahkan bisa mendengar suara kalian dari luar,” aku mengalihkan pandangan ke arah pintu saat pintu kamar terbuka dari luar.


Izumi masuk ke dalam, diikuti Eneas dan juga Haruki yang berjalan di belakangnya, “aku bertanya, apa yang kalian berdua ributkan?” Sambung Izumi kembali, dia menutup pintu ketika Haruki ataupun Eneas telah duduk di lantai menatapku.


“Tidak ada nii-chan, hanya ada sedikit salah paham di antara kami,” aku melirik ke arah Zeki dengan sebelah tanganku menyentuh tangannya yang mencengkeram lenganku.


“Pembicaraan kita belum selesai,” tukasnya melepaskan cengkeraman tangannya lalu kembali duduk di samping ranjang.


“Nii-chan, apa kalian membawa kabar baik?” Aku mengalihkan pembicaraan dengan kembali menatap ke arah Haruki.


“Aku telah mengetahui, ke mana uang Kerajaan kita yang dicuri itu mengalir,” ucapnya, dia menoleh ke arah Eneas dengan sebelah tangan Haruki terangkat ke arahnya.


“Costa membantuku selama di kota,” ucapnya menyerahkan lembaran-lembaran kertas yang ia dapatkan dari Eneas.


“Costa? Apa dia ada di sini?” Aku balik bertanya dengan meraih lembaran-lembaran kertas tadi.


Haruki menganggukkan kepalanya, “dia juga menanyakan keadaanmu saat kami bertemu.”


“Hanya katakan, aku baik-baik saja padanya,” ucapku menggaruk pelan dahi dengan kedua mataku masih menatap ke arah lembaran-lembaran kertas.


“Costa?” Aku beralih ke arah Zeki, “dia, teman Haru nii-chan. Dia banyak membantu kami dulu,” ucapku kembali menatap kertas yang ada di tangan.


“Atau lebih tepatnya, salah satu laki-laki yang jatuh ke dalam pesona Sachi. Dia bahkan dulu memberikanmu banyak sekali uang bukan?”


“Nii-chan,” ucapku melotot ke arah Izumi, “jangan menaburkan garam ke atas luka,” sambungku dengan tersenyum menatapnya.


“Tapi aku mengatakan kejujuran, aku hanya mengatakan kejujuran,” lanjut Izumi, dia berbaring di lantai dengan sebelah tangannya melambai padaku.


“Bagaimana keadaanmu?” Aku beralih kepada Haruki saat suaranya terdengar, “aku baik-baik saja. Lukanya pun telah sembuh, nii-chan,” jawabku dengan sedikit melirik ke lengan kananku.


“Maaf, Sa-chan. Aku terpaksa memanahmu saat itu,” tukas Haruki yang membuat kami semua berpaling ke arahnya.


“Apa maksudmu? Kau mengatakan, jika dia terluka oleh panah milikmu?” Aku beranjak berdiri saat Zeki telah beranjak dengan mencengkeram pakaian Haruki.


“Zeki, jangan lakukan itu,” ucapku dengan memengang lengannya, “nii-chan. Apa yang nii-chan lakukan, bantu aku!” Tukasku ke arah Izumi yang berbaring menyamping mengawasi kami.


“Apa kau tidak bisa mengendalikan diri? Manusia sepertimu, tidak akan mengerti ... Mengapa aku melakukannya,” ucap Haruki dengan melirik ke arah tangan Zeki yang mencengkeramnya.