Fake Princess

Fake Princess
Chapter CLXXII


"Bagaimana menurutmu nii-chan? Aku merasa sedikit aneh mengenakannya," ucapku seraya berjalan mendekati kedua Kakakku.


"Apa baju zirahnya membuatmu kesulitan bergerak?" ucap Haruki seraya digerakkannya tubuhku memutar di hadapannya.


"Apa terlalu berat untukmu?" sambung Izumi seraya diletakkannya telapak tangannya di pundakku seraya digerakkannya kepalanya ke bagian belakang dan depan tubuhku.


"Kita tidak mempunyai baju zirah yang pas untuk tubuhmu, jadi terima saja," ucap Izumi kembali padaku.


"Aku tahu, tapi tetap saja," ungkapku tertunduk.


"Kau berada di garis belakang, serahkan semuanya pada kami. Kami Kakakmu, dan kami berjanji akan membawa kemenangan besar untukmu," ungkap Haruki, kuangkat kepalaku menatapnya yang tersenyum menatapku.


"Nee-chan..."


"Sachi," ucap Eneas dan Lux bergantian, menoleh aku ke arah mereka yang tengah berjalan mendekati.


"Berhati-hatilah," ucap Eneas seraya memeluk tubuhku.


"Aku akan mendoakanmu," sambung Lux seraya terbang ia di hadapanku.


"Kalian juga berhati-hatilah," ucapku tersenyum menatap Lux seraya sebelah telapak tanganku menyentuh pelan kepala Eneas.


"Semuanya telah menunggu kita," ucap Haruki diikuti suara langkah kaki bergerak.


Eneas melepaskan pelukan yang ia lakukan padaku, berbalik aku berjalan mengikuti langkah kaki kedua Kakakku. Kurasakan semilir angin menyentuh samping leherku yang tak tertutupi rambut seperti sebelum-sebelumnya...


Langkah kaki kami terhenti di depan ratusan ribu pasukan yang berbaris di lapangan luas yang ada di Kerajaan. Kutatap mereka yang membungkukkan tubuhnya ke arahku dengan sebelah telapak tangan berada di masing-masing dada mereka...


Kualihkan pandanganku pada bendera berwarna merah yang berkibar banyak di udara, lambang bunga teratai yang terlukis di permukaannya semakin nampak jelas terlihat tertiup angin...


Kutatap Haruki dan juga Izumi yang telah berjalan menaiki kuda milik mereka, ikut kulangkahkan kakiku menaiki kuda putih milikku yang telah dipasangkan baju zirah yang menutupi sebagian tubuh berserta kepalanya...


Kugerakkan kuda milikku tadi berbalik berjalan membelah lautan manusia yang ada di hadapanku. Ikut kudengarkan banyak suara derap langkah kaki kuda mengikuti langkah kaki kudaku...


Menoleh aku ke arah senjata kayu raksasa yang mulai bergerak sedikit demi sedikit oleh kerumunan manusia di bawahnya, ratusan gerobak kuda yang membawa perlengkapan perang berserta pasokan makanan ikut bergerak sedikit demi sedikit membelah kerumunan...


Kutarik napasku sedalam mungkin seraya kuembuskan kembali, rasa sesak di dada seakan menyiksaku. Kututup mataku perlahan, semakin kuat genggaman tanganku pada tali kekang yang berada di genggaman...


Tuhan, kumohon bantu aku, menyelamatkan kebahagiaan yang tumbuh di Kerajaan ini. Dan kumohon Tuhan, lindungi mereka semua yang mempercayakan nyawa mereka untukku.


Kuarahkan pandanganku menatap Izumi dan Zeki yang telah memimpin jalan dengan menunggangi kuda mereka masing-masing di hadapanku. Kualihkan pandanganku pada para penduduk yang berbaris rapi di pinggir jalan, kutatap tangis sesenggukan dari beberapa perempuan yang ada di sana.


Pandangan mataku kembali tertuju ke depan, suara gesekan besi tampak menyatu bersama suara derap langkah kaki kuda yang tak henti-hentinya terdengar. Menoleh aku menatap Haruki yang tengah menunggangi kudanya di sampingku...


"Apa kau baik-baik saja?"


"Kau tidak diperbolehkan ragu sedikitpun nantinya Sa-chan..."


"Buang sifat naif milikmu selama pertempuran, ingatlah... Pasukan kita yang mati atau pasukan mereka yang mati, semua tergantung pada setiap keputusan yang kau buat..."


"Aku tidak ingin membebankan semuanya padamu. Akan tetapi, setiap orang di pasukan kita memiliki orang yang menunggu kepulangan mereka. Posisikan dirimu, jika itu aku, Izumi maupun Zeki yang berperang jauh darimu..."


"Sekali kau bersikap lembut kepada musuh, maka sudah dipastikan merupakan kematian salah satu dari kami. Apa kau mengerti, Adikku?" ucapnya lagi seraya menoleh ia menatapku.


"Aku mengerti nii-chan. Aku tidak akan mengecewakan Kakakku, dan akan kupastikan... Danur dapat melangsungkan pernikahannya secepatnya," ungkapku balas tersenyum menatapnya.


_________________


Langkah kami semua berhenti di depan sebuah bukit, menoleh aku ke beberapa Kesatria yang telah melangkah naik dengan berbagai keperluan ke atas bukit tersebut. Kembali kuarahkan pandanganku pada beberapa Kesatria yang tengah menggali tanah sedangkan beberapa Kesatria yang lain memegang bendera-bendera yang mereka bawa sebelumnya.


Kutatap para pasukan pejalan kaki yang tengah duduk mengistirahatkan kaki mereka, pandangan mataku teralihkan pada Aydin dan anak buahnya yang tengah berkumpul dengan banyak sekali makanan di tengah-tengah mereka...


"Apa kau lelah?" ucap suara laki-laki.


"Aku baik-baik," ucapku mengalihkan pandangan kepadanya, kuletakkan telapak tanganku di pundaknya seraya kugerakkan kakiku menuruni kuda yang aku tunggangi.


"Beristirahatlah, besok akan menjadi hari yang panjang," ucapnya seraya melepaskan pegangan tangannya di pinggangku.


"Aku gugup sekali," ungkapku, kuarahkan telapak tanganku menggenggam pakaian yang ia kenakan.


"Haruskah aku menciummu agar kegugupan milikmu menghilang?" ucapnya, kuarahkan pandanganku padanya yang tersenyum menatapku.


"Berhenti bercanda," ucapku singkat padanya seraya kualihkan pandanganku menghindarinya.


"Dalam pertempuran, hidup dan mati sudah biasa. Jadilah dirimu sendiri, jangan terbebani apapun... Aahh, dan juga... Hadiah untukmu, maaf aku terlambat memberikannya," ungkapnya, seraya mengarahkan telapak tangannya ke saku celananya, diangkatnya telapak tangannya tadi yang telah menggenggam sebuah kotak kecil berwarna putih ke arahku.


Kuambil dan kubuka kotak kayu bercat putih itu, tampak kulihat sebuah kalung berbentuk lima kelopak bunga dengan sebuah batu mulia berwarna hijau di tengah-tengahnya. Diambilnya kalung tadi olehnya...


Kuarahkan pandanganku padanya yang tengah menggerakkan jarinya membuka kalung tersebut. Digerakkannya tangannya melingkar di leherku seraya maju ia semakin mendekati... Ikut kurasakan napasnya yang berembus menyentuh telingaku.


"Selamat hari lahir yang kelima belas," ucapnya tersenyum menatapku, kurasakan telapak tangannya menyentuh pipiku.


"Terima kasih, aku menyukai hadiahnya," ucapku balas tersenyum menatapnya.


"Pergilah, kedua Kakakmu menunggu. Aku akan mengurus kuda milikmu," ucapnya lagi, kembali kurasakan tepukan pelan yang ia lakukan di kepalaku.


Melangkah aku melewatinya seraya sebelah tanganku menggenggam kalung pemberian darinya. Kembali berbalik aku menatap punggungnya yang juga telah berjalan semakin menjauh...


"Aku menjatuhkan hatiku pada laki-laki yang tepat," gumamku pelan, seraya kembali aku berbalik berjalan mendekati kedua Kakakku.