
Setahun kembali telah berlalu, kutatap wajah Haruki yang tengah meminum secangkir teh di hadapanku. Usianya sendiri telah menginjak lima belas tahun beberapa hari yang lalu, dua tahun lagi aku akan melihatnya menikah dengan seseorang...
Kualihkan pandanganku ke arah Izumi yang juga ikut meminum secangkir teh di sebelah Haruki, ia semakin terlihat dewasa di usianya yang kedua belas tahun. Menoleh ia kearahku, bola matanya yang berwarna abu-abu tampak begitu menenangkan ketika ditatap...
"Ada apa? Apa kau terpesona akan ketampanan yang aku miliki?" ucap Izumi kembali melirikku seraya tetap menyeruput secangkir teh di genggamannya
"Aku terpesona... Terlebih lagi kau tumbuh semakin mirip dengan Ayah." ucapku tersenyum menatapnya
"Lalu bagaimana denganku? Bukankah aku jauh lebih tampan dari Izumi?" tukas Haruki, ditopangnya dagunya dengan telapak tangannya, seraya tersenyum ia menatapku
Penghancur hati wanita, jika para wanita tahu betapa kejamnya dirimu. Mereka tidak akan jatuh pada tatapan lembut nan mematikan itu.
"Tentu, kau salah satu laki-laki terbaik nii-chan." ucapku, tersenyum palsu aku menatapnya
"Apa kau sedang sakit? Kenapa makanmu sedikit sekali malam ini?" ucap Ayah ikut menatapku
"Itu..."
"Dia sedang melakukan... Yang ia dulu sebutkan dengan diet itu, Ayah." Tukas Haruki kembali menyeruput tehnya
"Apa kau tidak tahu Ayah? Berapa lapis korset yang ia kenakan." Sambung Izumi menganggukkan kepalanya
"Itu semuanya fitnah, Ayah. Jangan mempercayai mereka berdua." ucapku, kulirik mereka berdua yang tampak tersenyum kecil menatapku
"Nii-chan, tolong ambilkan buah apel yang ada di hadapanmu." ungkapku mencoba mengalihkan pembicaraan
"Apa mau langsung aku kupaskan?" ucap Izumi seraya meraih apel merah yang ada di hadapannya
"Tidak perlu, apel paling baik dimakan beserta kulitnya." ucapku, kuarahkan telapak tanganku ke arah Izumi
"Ini..." ucapnya, diletakkannya buah apel tersebut di telapak tanganku
"Terima ka..."
Perkataanku terhenti, kutarik kembali telapak tanganku menutupi kedua mataku. Entah kenapa? kedua mataku tiba-tiba terasa sangat sakit. Seakan beratus-ratus benda tajam menusuk mataku...
"Sakit... Ayah mataku..." ucapku, tubuhku gemetar menahan sakit
Terdengar suara sendok dan juga benda lain yang dijatuhkan dengan keras, ikut terdengar suara kursi bergeser yang mengikuti. Sesuatu yang hangat merangkul tubuhku...
"Apa yang terjadi padamu?"
"Mataku... mataku sakit sekali, Ayah." ucapku dengan tangan gemetar menutupi kedua mataku
"Coba Ayah lihat."
Diraihnya kedua tanganku, coba kubuka dengan pelan kedua mataku... Kutatap wajahnya yang tampak pucat pasi, wajah yang aku tatap tersebut semakin lama semakin mengabur...
"Aku tidak bisa melihat apapun, Ayah..."
"Semuanya gelap." ucapku, kuarahkan telapak tanganku yang gemetaran hebat meraba tubuhnya yang berdiri di hadapanku
"Apa yang kalian tunggu, cepat panggilkan Tabib istana sekarang!" teriak Ayahku, aku tidak tahu siapa yang ia perintahkan
Sesuatu merangkul ku dan mengangkat tubuhku ke atas. Terdengar suara detakan jantung yang sangat cepat di telinga sebelah kiriku...
"Tidak akan terjadi apa-apa padamu, Ayah akan pastikan itu." terdengar suara Ayahku, jari-jemarinya yang merangkul tubuhku terasa bergetar diikuti suara yang ia keluarkan
Terdengar suara pintu yang dibanting, sesuatu yang empuk tampak menyentuh punggungku. Sebuah tangan yang tak aku ketahui menyentuh kelopak mataku...
"Maafkan Hamba, Yang Mulia. Hamba benar-benar tidak tahu apa yang tengah terjadi pada Putri." terdengar suara pria yang tak pernah aku dengar suaranya di Istana
"Ampuni nyawa Hamba, Yang Mulia." terdengar kembali suara pria tersebut
"Ayah." ucapku, kuarahkan telapak tanganku ke depan seraya meraba udara kosong dihadapanku, sepasang telapak tangan besar menggenggam kedua telapak tanganku tadi...
"Ayah, ini tanganmu bukan? Kumohon Ayah, jangan hukum paman itu..."
"Aku baik-baik saja, Ayah. Jadi kumohon, jangan menghukum mereka yang tidak bersalah." ucapku, kudekati dahiku menyentuh genggaman itu
__________________
Kubuka kembali kedua kelopak mataku, semuanya masih sama seperti sebelumnya... Gelap dan gelap, sejauh aku mencoba untuk melihat.
Tubuhku entah kenapa terasa lemah sekali, untuk beranjak duduk saja harus menghabiskan seluruh tenagaku...
"Kau sudah bangun?"
"Izu nii-chan, kau kah itu?" ucapku, kembali kuarahkan kedua telapak tanganku ke depan
"Aku disini." ucapnya, sesuatu terasa meraih kedua telapak tanganku tadi
"Dimana Ayah?"
"Ayah sedang sibuk memerintahkan para Kesatria untuk mencari Tabib terbaik untukmu." ucapnya, terasa sesuatu menggenggam tanganku, genggaman hangat yang mampu menenangkan kegelisahan yang aku rasakan.
"Bagaimana dengan Haru nii-chan?"
"Haruki mengurung dirinya di Perpustakaan, ia berusaha mencari informasi tentang apa yang kau alami. Tsubaru dan Lux ikut membantunya."
"Maafkan aku, Sachi. Aku tidak bisa menemukan Kou." ucapnya dengan nada bergetar
"Aku haus, nii-chan."
"Aku mengerti." ucapnya, dilepaskannya genggaman tangannya dari tanganku
"Minumlah." ucapnya, kurasakan sesuatu menyentuh bibirku
Kubuka bibirku, air mengalir pelan ke dalam mulutku. Kuteguk dengan pelan air tersebut, rasa kering di kerongkonganku sedikit menghilang...
"Sebenarnya aku ingin minuman yang manis." ucapku, kuarahkan telapak tanganku menyapu bibirku
"Itu smoothies melon kesukaanmu, aku sendirilah yang membuatkannya untukmu."
"Benarkah? Itu berarti lidahku telah mati rasa sampai-sampai aku tidak bisa merasakan manisnya smoothies yang dibuat Kakakku..."
"Apa aku akan baik-baik saja, nii-chan?" ucapku dengan suara yang ikut bergetar
"Kau akan baik-baik saja. Percayalah padaku."
Sesuatu meraih dan menarik kepalaku, sebuah suara detakan jantung disebelah kananku terdengar menenangkan hatiku. Kuraih dan kugenggam lengannya yang menyentuh kepalaku...
"Kau tahu nii-chan, suara detakan jantungmu sudah seperti obat penenang untukku. Sama seperti dulu..."
"Saat Ibu meninggal, kau memelukku seperti ini juga bukan?"
"Kalau begitu, dengarkan sepuasmu. Bertahanlah hingga jantungku sendiri berhenti berdetak..."
"Kau tahu, Sachi. Aku sungguh tidak sanggup kehilangan siapapun lagi." ucapnya diikuti sesuatu yang hangat dan juga lembut menyentuh dahiku.