
Aku melirik ke arah Eneas yang berjalan dengan menjijit kakinya di sampingku, “dingin sekali,” bisiknya dengan menangkupkan kedua tangannya lalu mendekatkan kedua tangannya tadi mendekati mulutnya.
“Sachi, bisakah Kou menekan sedikit sihirnya? Aku, benar-benar akan membeku di sini,” bisik Lux lirih di samping telingaku. “Aku tidak bisa melakukannya, Kou melakukannya tanpa aku pinta … Jadi, mustahil memintanya untuk menghentikan hal itu,” aku balas berbisik pelan padanya.
“Bagaimana ini?”
“Lux,” aku kembali berbisik padanya, “bersabarlah, jika kita bertemu Sasithorn, aku akan memintanya untuk membawamu,” sambungku kembali padanya.
Kami berjalan semakin mendekati kerumunan barisan manusia dengan kepulan asap putih di belakang mereka, “Dasha, Putri Dasha,” ucap kakek itu tiba-tiba bersuara, “nama ibumu yang sebenarnya adalah Dasha, Izumi. Isshin, adalah nama pemberian dari Ayahmu agar Kaisar tidak bisa menemukan keberadaan kami,” sambungnya kembali berbicara.
Aku melirik ke arah Izumi yang masih terdiam, sejak kami sampai di sini … Entah kenapa, Izumi menjadi enggan untuk membuka mulutnya. “Dasha, nama yang cantik,” aku bergumam pelan dengan tetap mengarahkan pandangan ke depan.
“Apa kau sama sekali tidak merasa dingin?” Aku mengangkat wajahku saat suara laki-laki terdengar, “aku baik-baik saja,” ungkapku kepada laki-laki yang diperkenalkan sebagai kakak dari ibunya Izumi.
“Sachi nee-chan!” Teriakan panjang memanggil namaku terdengar, aku sedikit memiringkan kepalaku ke samping, berusaha mencari arah suara anak perempuan yang memanggil namaku.
Aku tersenyum lalu berjalan menyelinap di antara para kuda yang berjalan di depanku, “Cia!” Aku berjongkok, balas berteriak memanggil namanya dengan kedua tanganku terangkat ke depan.
Aku memeluk erat tubuhnya lalu beranjak berdiri kembali dengan menggendongnya, “aku dengar, jika kalian yang menolongnya,” kepalaku terangkat ke samping, menatap sang Kakek yang telah menunggangi kudanya di sampingku.
“Aku, tidak merasa melakukan apa pun,” jawabku kepadanya.
Kakek itu menatap kami lalu berbicara dengan bahasa yang tak aku mengerti, pandangan mataku beralih kepada Cia yang menjawab perkataannya dengan bahasa yang sama diikuti senyum yang terbentuk di ujung bibirnya. “Apa kau ingin mengetahui pembicaraan kami?” Kakek itu kembali melirik ke arahku.
“Aku bertanya padanya, apa dia bahagia bertemu dengan kalian lagi? Dan dia menjawab, mereka kakak-kakakku yang hebat, aku bahagia sekali bertemu dengan mereka lagi,” sambung Kakek tersebut dengan tersenyum menatapku.
Langkah kakiku terhenti, saat seorang laki-laki dan perempuan telah berdiri di hadapanku. Kedua orang itu membungkukkan tubuh mereka ke arahku dengan mengucapkan kata-kata yang tak aku mengerti. “Mereka kedua orang tua Cia, mereka ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian karena telah menyelamatkan Putri mereka. Cia tiba-tiba menghilang saat diajak berburu, mereka hampir putus asa mencarinya, karena itu … Mereka, benar-benar ingin berterima kasih kepada kalian untuk itu,”Kakek itu kembali bersuara di sampingku, diikuti sepasang laki-laki dan perempuan tersebut yang juga telah beranjak berdiri lagi.
Aku membungkukkan tubuh, melepaskan Cia dengan perlahan dari gendonganku. Tubuhku kembali beranjak dengan menatap Cia yang telah berlari mendekati perempuan yang ada di hadapanku itu. Aku melirik ke arah seorang perempuan yang berdiri di belakang mereka, “kak,” ucapku memanggilnya, perempuan tersebut berjalan ke arahku dengan menggenggam kedua tangannya ke depan.
Dia menghentikan langkahnya di depanku sebelum membungkukkan tubuh ke arah Kakek yang menunggangi kuda miliknya di sampingku. Aku berjalan mendekati Sasithorn saat dia telah beranjak berdiri kembali di hadapanku, “kak,” ucapku memeluk kuat tubuhnya, “bisakah, kau membantu kami?” Kali ini aku berbisik pelan padanya.
“Apa yang bisa aku bantu?” Dia balas berbisik pelan padaku.
“Lux?” Dia kembali berbisik sangat pelan, “dia manusia berukuran sangat kecil dan memiliki sayap, bantu aku menyembunyikannya di dalam rambut Kakak yang panjang itu. Akan sangat bahaya, jika ada yang mengetahui keberadaannya … Kau, bisa membantuku, kan, Kakak?”
“Aku … Aku mengerti,” dia kembali berbicara pelan di samping telingaku.
“Apa yang sedang kalian bicarakan?”
Aku melepaskan pelukanku pada Sasithorn lalu berbalik menatap ke belakang, “maaf, aku hanya sedang melepaskan rindu pada Kakakku ini,” ungkapku tersenyum kepada Kakek itu yang masih menatap kami dari atas kuda yang ia tunggangi.
“Semua penduduk telah menyiapkan jamuan makan malam untuk kalian, jadi ganti pakaian kalian lalu datanglah ke api unggun yang telah kami siapkan,” tukas Kakek itu berjalan maju diikuti keenam orang yang berkuda mengikuti langkah kakinya.
“Duke,” Haruki kembali bersuara dengan melirik ke arah Duke yang berkuda di sampingnya, “upacara penyambutan seperti apa yang mereka maksudkan sebelumnya?” Tukas Haruki lagi, dia berjalan mundur beberapa langkah ke belakang saat Duke Masashi beranjak turun dari atas kuda yang ia tunggangi.
Duke berbalik lalu berjalan meninggalkan kudanya, “upacanya hanya berbentuk makan malam bersama dengan para penduduk suku Azayaka. Kalian bisa memakai tenda itu untuk beristirahat, kami telah menyiapkan semua keperluan kalian di sana,” ungkap Duke dengan mengangkat jarinya menunjuk ke arah tenda besar yang ada di dekat tenda-tenda berukuran kecil di sekelilingnya.
Haruki, Izumi, dan juga Eneas berjalan melewati Duke, “Putri, apa kau akan baik-baik saja dengan hanya memakai pakaian tipis seperti itu?” Duke melirik ke arahku saat aku masih berdiri, enggan menggerakkan kaki menatapnya.
“Aku baik-baik saja, dibandingkan itu … Aku mempunyai banyak sekali pertanyaan yang ingin aku ajukan kepadamu, Paman,” ungkapku melangkahkan kaki mendekatinya.
Duke lama menatapku sebelum dia menghela napas panjang, “aku mengerti. Ikutlah denganku, Putri,” ucapnya melangkahkan kaki melewatiku.
Aku mengikuti langkah Duke memasuki sebuah tenda yang hanya sedikit lebih kecil dari tenda yang ia persiapkan untuk kami. Dia berjalan mendekati salah satu kursi lalu mendudukinya, “duduklah,” ucapnya dengan melirik ke arah kursi yang ada di depannya.
Duke meletakkan kedua tangannya yang saling menggenggam itu di atas meja yang ada di hadapannya, “jadi, apa yang ingin kau tanyakan, Putri?” Tukasnya saat aku telah menarik kursi yang ada di hadapannya lalu mendudukinya.
“Leta, Yadgar, Balawijaya. Mereka tidak aman untuk kami bertiga, apa maksudnya?”
Duke menarik tubuhnya ke belakang hingga bersandar di punggung kursi yang ia duduki itu, “mereka dahulu merupakan salah satu Kerajaan yang mendukung penuh Kekaisaran. Kaisar, pasti telah mengincar para bangsawan yang ada di Kerajaan-kerajaan itu … Karena itu, tidak ada jaminan jika kalian akan aman di sana jika tinggal terlalu lama,” ungkap Duke, dia menunduk dengan melepaskan sarung tangan yang menyelimuti kedua tangannya itu.
“Tapi, Zeki mengatakan … Jika Ayah, memintanya untuk mempercepat pernikahan kami.”
Duke Masashi kembali mengangkat wajahnya, "Entahlah, kenapa tidak tanyakan langsung hal itu kepada Ayahmu, Putri? Tidak ada yang bisa menjamin isi kepala dan hati seseorang," ungkapnya bersandar dengan kedua tangannya bersilang di dada menatapku.