Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCVII


"Jejak langkah kaki makhluk-makhluk itu berhenti di sini," ucap Izumi berjongkok dengan menancapkan pedangnya ke pasir.


"Apa kau melihat sesuatu Sa-chan?" Sambung Haruki mengalihkan pandangannya padaku, kubalas perkataannya dengan sebuah gelengan kepala.


"Bagaimana? Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" Ucap Aydin ikut duduk berjongkok menatapi jejak kaki yang ditunjuk oleh Izumi sebelumnya.


"Kita akan beristirahat di sini, besok... Kita akan melanjutkan perjalanan mencarinya," ucap Haruki menyilangkan kedua lengannya di dada, ia menggerakkan kepalanya menoleh ke arah hamparan pasir yang ada di sebelah kanan tubuhnya.


_________________


"Hanya ini yang tertinggal," ucap Zeki mengangkat tiga buah apel yang hampir membusuk dari dalam tasnya.


"Jika kita tidak segera pergi dari sini, kita akan mati tanpa ditemukan, sama seperti tengkorak yang kita temukan kemarin," ucap Izumi meraih sebuah apel yang ada di atas telapak tangan Zeki.


"Ambil apel ini," ucap Zeki memberikan satu buah apel padaku sedangkan yang satunya lagi ia belah menjadi dua lalu ia berikan kepada Aydin yang duduk di sebelahnya.


"Sebenarnya tempat apa ini? Apakah tempat ini terlarang untuk para laki-laki?" Ungkap Aydin sembari menggigit belahan apel yang ada di tangannya.


"Aku pun memikirkan hal yang sama. Karena, selama ini hanya Sachi yang dapat melihat maupun mendengar apapun yang ada di sini," sambung Haruki ikut menggigit apel yang ada di tangannya.


"Ada apa denganmu?" Suara Zeki terdengar diikuti sentuhan pada pipiku.


"Aku baik-baik saja, lagipun... Apa yang kau maksudkan?" Ungkap ku berbalik menatapnya.


"Kami memang mengandalkanmu, tapi bukan berarti kau harus memaksakan diri," ucapnya, kurasakan cubitan yang ia lakukan di pipiku.


"Tapi jika aku lengah, kalian pasti telah terluka oleh hewan-hewan tadi," ucapku meraih lengannya lalu menurunkannya dari pipiku.


"Tapi dan jika... Kau suka sekali mengatakannya, yang terpenting kami semua sekarang baik-baik saja bukan?"


"Kau benar," ucapku tersenyum menatapnya.


_________________


Suara bisik-bisik terdengar di telinga, beberapa kali aku mencoba membuka mata tapi terasa sulit sekali. Suara bisikan-bisikan itu kembali terdengar, bahkan lebih jelas dibanding sebelumnya... Bisikan, yang sama sekali tak ku mengerti.


Aku mencoba beranjak namun gagal, bahkan ujung jari-jemariku tak kuasa untuk aku gerakkan. Aku tidak tahu apa yang terjadi, terlebih lagi... Dimana mereka berempat?


Pandangan mataku melirik ke atas, aku terdiam saat kutatap Haruki, Izumi, Zeki dan juga Aydin tak sadarkan diri digantung dengan posisi tangan dan kaki mereka terikat. Kepala mereka tertunduk, tubuh mereka... Mereka hanya mengenakan celana, sedangkan baju yang mereka kenakan, aku tidak tahu berada di mana...


Kucoba, aku mencoba kembali menggerakkan tubuhku, namun tak berhasil. Air mataku keluar saat kugigit kuat bibirku, ikut kurasakan bau amis dari darah memenuhi mulutku.


Kugerakkan kedua mataku melirik ke arah perempuan yang berjalan mendekati, perempuan berkulit hitam dengan rambut hitam bergelombang itu duduk berjongkok di depan penjara kayu yang mengurungku.


Perempuan itu berbicara menggunakan bahasa yang tak aku mengerti, dia berbalik menatap seorang perempuan berkulit hitam lainnya yang berdiri di belakangnya.


Perempuan yang berdiri tadi melangkah mendekati, dibukanya penjara kayu yang mengurungku sembari ia masuk ke dalam lalu merangkul tubuhku berdiri mengikuti langkah kakinya.


Kakiku yang tak dapat digerakkan menggesek kuat tanah berpasir yang ada, anehnya... Aku merasakan rasa perih di kakiku saat perempuan itu mengangkat tubuhku hingga kedua kakiku terseret di tanah itu.


Aku melirik ke arah mereka berempat yang masih tak sadarkan diri, pandangan mataku kembali tertunduk menatap kakinya yang berjalan tanpa mengenakan alas. Perempuan itu menurunkan tubuhku di samping seorang perempuan yang juga berbaring tak berdaya sepertiku...


Tidak, bukan hanya seorang perempuan, tapi lebih... Aku mengetahuinya saat seorang perempuan berkulit hitam lainnya memapah seorang perempuan yang tak bisa menggerakkan tubuhnya sama sepertiku.


Perempuan itu menceburkan tubuh perempuan yang tak berdaya itu ke dalam sebuah air terjun yang dikelilingi barisan batu-batu kecil di pinggirnya. Perempuan berkulit hitam tadi memberikan air yang mengalir di kolam itu kepada perempuan yang bersandar di tubuhnya.


Aku tidak tahu apa yang terjadi, akan tetapi... Perut perempuan yang dibawanya tadi tiba-tiba membesar, semakin membesar seperti seorang wanita hamil pada umumnya.


Perempuan tadi meringis kesakitan, kedua tangannya tiba-tiba bergerak memegang perutnya yang telah membesar. Aku melirik ke arah para perempuan yang berlari mendekati mereka berdua...


Para perempuan itu mengangkat tubuh perempuan yang perutnya membesar tadi ke sebuah meja batu yang tak jauh dari air terjun tersebut. Seorang perempuan berjalan melewati kami, dia... Perempuan yang berjongkok menatapku sebelumnya di penjara kayu.


Perempuan itu berdiri di hadapan perempuan yang perutnya telah membesar tadi, dua orang perempuan lainnya tampak memegang kaki perempuan tak berdaya tersebut hingga kedua kakinya mengangkang lebar di hadapan perempuan berkulit hitam itu.


Perempuan berkulit hitam itu maju beberapa langkah mendekati kaki perempuan tadi yang dipaksa mengangkang lebar di hadapannya. Kualihkan pandangan mataku dari mereka, sakit... Sakit, begitulah yang tak henti-hentinya terdengar di telingaku diikuti suara lainnya yang tak aku mengerti.


Kedua mataku membesar saat terdengar suara tangisan bayi memenuhi ruangan. Aku kembali melirik ke arah mereka, aku tertegun saat perempuan berkulit hitam tadi telah menggendong seorang bayi yang masih penuh darah di tangannya, sedangkan perempuan yang satunya... Perutnya sudah tak sebesar sebelumnya.


Ya Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi di sini?!