Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCLIV


Langkah kakiku bergerak cepat menuruni tangga di depan pintu Istana, "cepatlah Sachi! Haruki telah menunggu kita di sana," ucap Izumi dengan nada meninggi, "aku mengerti nii-chan," aku balas berteriak diikuti kedua kakiku yang bergerak semakin cepat berlari ke arahnya.


Izumi mengarahkan telapak tangannya ke arahku, dia menggenggam kuat telapak tanganku tadi saat kedua kakiku bergerak menaiki kuda yang ia tunggangi. Izumi menggerakkan kudanya berbalik saat aku telah duduk di belakangnya, kuarahkan kedua lenganku merangkul pinggangnya saat kuda yang ia tunggangi itu berlari cepat meninggalkan Istana.


Aku sedikit melirik ke sekitar, jalanan terasa sepi ... Kau tidak akan melihat bayangan manusia pun selama perjalanan. "Nii-chan," ucapku seraya kutatap belakang lehernya.


"Ada apa?" Tanyanya, semakin cepat kuda yang membawa kami tersebut berlari. "Ini berbeda dari Paloma, bagaimana jika aku gagal melakukannya, nii-chan?" Aku balik bertanya padanya.


"Kau tidak akan melakukannya, maksudku ... Kau tidak akan membiarkan ini semua gagal bukan?"


"Entahlah, aku pun tidak bisa memastikan semua ini," ucapku kembali terdengar pelan, "Sachi, kami sudah katakan bukan? Sebagai Kakak, kami akan selalu mendukungmu. Lakukan, lakukan semua yang kau pikir terbaik untuk dilakukan, jangan menahan diri sendiri. Kami di belakangmu," ungkapnya, diikuti kuda miliknya yang semakin berlari cepat.


Izumi memperlambat lari kudanya saat barisan senjata berukuran besar berbaris di depan kami, kuda yang kami naiki berjalan perlahan melewati gerombolan Kesatria yang saling bahu-membahu mendorong senjata-senjata kayu tersebut semakin mendekati benteng.


"Turunlah," ucap Izumi terdengar pelan, kugerakkan kepalaku menatap tembok benteng yang terlah berada di hadapan kami.


Kugerakkan kedua kakiku menuruni kuda, aku berbalik melangkahkan kaki menaiki tangga batu yang menempel di dinding benteng. "Nii-chan!" Aku sedikit berteriak memanggil Haruki, Haruki berbalik menatapku, "kemarilah," ucapnya dengan sebelah tangannya melambai ke arahku.


"Bagaimana keadaan di sini?" Tanyaku berjalan semakin mendekatinya, "Anak buah Gritav memberikan kabar jika pasukan musuh akan segera datang. Ratusan ribu pasukan musuh yang akan segera datang ke sini," ucap Haruki, kutatap dia yang masih mengarahkan pandangan matanya menatap lurus ke depan.


" Lalu? Bagaimana dengan semua persiapan? Apakah semua persiapan telah selesai?" Aku kembali bertanya kepadanya.


"Aku menyerahkan semua urusan tersebut kepada Arata dan juga Sanjiv. Kemungkinan mereka akan kembali ke sini sebentar lagi," sambung Haruki sedikit melirik ke arahku.


Aku tertunduk, helaan napas tak sengaja keluar dari bibirku, "ada apa?" Haruki kembali bersuara diikuti sentuhan yang menyentuh pelan daun telingaku, "bukan hal yang penting," ucapku kembali mengangkat kepalaku menatapnya.


"Jika rencana ini gagal, aku akan langsung memanggil Kou untuk menghancurkan mereka semua," ucapku, Haruki lama menatapku sebelum dia mencubit kuat pipiku, "berhenti memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi seperti itu," ucapnya, Haruki kembali melepaskan cubitan yang ia lakukan di pipiku saat aku menepuk-nepuk pelan lengannya.


"Mendekatlah ke arah Kakakmu ini," ucapnya dengan sedikit melambaikan tangannya ke arahku.


"Apa yang kalian berdua lakukan?" Suara Izumi ikut terdengar dari arah belakang, kugerakkan kepalaku berusaha untuk menoleh ke arahnya.


"Hanya memberikan sedikit semangat untuknya," ucap Haruki melepaskan rangkulannya di kepalaku, ia berjalan mundur menyandarkan tubuhnya di dinding benteng.


"Aku sudah mengatakan kepadanya untuk melakukan semuanya tanpa memikirkan apapun," ucap Izumi ikut bersandar di samping Haruki.


"Tapi Sachi, tetaplah Sachi. Inilah kenapa, kita tidak bisa meninggalkannya sendirian," ucap Izumi, dia sedikit mendongakkan kepalanya ke atas, "ada apa? Kenapa kau memandangku seperti itu?" Izumi kembali bersuara saat dia tersadar Haruki tak kunjung berhenti menatapnya.


"Aku hanya teringat, hari di mana kita membuat puding bersama. Sejak saat itu, hubungan kita semua semakin membaik," ucap Haruki tertunduk dengan menggenggam kedua tangannya.


"Benar-benar memalukan sekali, aku tidak tahu kenapa bisa melakukan hal kekanakan seperti itu," ucap Izumi, dia membuang pandangan matanya ke samping diikuti kedua lengannya yang saling bersilang di dada.


"Nii-chan," ucapku, kedua kakiku melangkah berdiri di samping Izumi, "aku akan berusaha untuk tidak membebani kalian, aku akan ... Sakit, pipiku," ucapku yang sempat terhenti saat Izumi mencubit kuat pipiku.


"Hatiku terasa sakit sekali saat dia mengatakannya, cubit dia lebih kuat Izumi," Haruki ikut bersuara, "aku memang sedang melakukannya," sambung Izumi menimpali perkataan Haruki kepadanya.


"Aku malah ingin, kau tetap menjadi adik kecil kami," ucap Izumi melepaskan cubitannya, kepalanya mendongak ke atas saat dia menghela napas kuat, "dulu, saat kau selalu mengatakan, nii-chan, aku tidak bisa melakukannya sendirian. Apa kau tidak tahu? Bagaimana bahagianya aku saat mendengarnya," ucap Izumi sedikit melirik ke arahku, ikut kualihkan pandangan mataku ke arah Haruki yang sedikit tersenyum kecil mendengarkan perkataan yang diucapkan Izumi.


"Jangan mengatakan seakan kau tak membutuhkan kami lagi, dan jangan mengatakan jika kau membebani kami. Aku, sudah memutuskan untuk selalu menjagamu sejak hari di mana kau dilahirkan..."


"Walaupun kelak kau akan menikah dengan laki-laki pilihanmu, kakak tetaplah seorang kakak. Jangan ragu untuk kembali kepada kami saat kau dihadapkan dengan masalah kelak," sambung Izumi yang disambut anggukan kepala Haruki.


"Aku, ingin Adik-adikku bahagia lebih dari siapa pun. Tapi aku juga ingin, Adik-adikku tumbuh dengan sedikit bergantung padaku. Karena dengan cara itu, mereka mungkin tidak akan melupakanku," ucap Haruki, wajahnya menatap lurus ke depan diikuti kedua lengannya bersilang di dada, "aku ingin segera berkumpul bersama lagi, jadi ... Lakukan yang terbaik, agar kita dapat menyelesaikan ini semua secepatnya," ucap Haruki, dia mengangkat lengan kanannya memukul pelan dada Izumi sebelum dia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kami.


"Hal yang sama seperti yang Haruki katakan, mari lakukan yang terbaik. Aku juga ingin sekali memasak bersamamu lagi di dapur Istana kita," ucap Izumi mengacak-acak rambutku dengan sebelah tangannya sebelum dia ikut melangkah pergi.


Kugerakkan kedua telapak tanganku ke belakang pinggangku seraya tubuhku masih tetap bersandar di dinding, kuangkat kepalaku ke atas menatap langit, "lakukan yang terbaik kah? Tapi aku, selalu melakukan yang terbaik selama ini," ucapku pelan, kepalaku tertunduk sejenak sebelum ikut kugerakkan kedua kakiku melangkah mengikuti jejak mereka yang telah turun dari atas benteng.